Sudah sangat jelas, bahwa tidak banyak pejabat, apalagi setingkat Gubernur hafal al Qurán. Mungkin saja hal yang demikian itu biasa terjadi pada zaman awal perkembangan Islam, atau di negara-negara Islam. Akan tetapi rasanya sangat kecil kemungkinan itu terjadi di negara seperti Indonesia ini. Namun nyatanya ada, yaitu Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) , Tuan Guru Zainul Majdi, MA.
Gubernur ini memang lahir dari keluarga pesantren, cucu Maulana Syekh Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan, Nusa Tenggara Barat. Ia memulai pendidikannya di sekolah dasar, lalu meneruskan ke madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah. Setamat dari pendidikan menengah keagamaan, Zainul Majdi meneruskan belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir, hingga mendapatkan gelar master. Bahkan pada saat sekarang ini, ia masih berstatus sebagai mahasiswa program Doktor di perguruan tinggi Islam tertua di dunia itu. Latar belakang keluarga dan pendidikannya itu menjadikannya ia sebagai penghafal al Qurán hingga 30 juz. Gubernur NTB pada hari Rabu tanggal 24 Nopember 2010 diundang oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa. Sekalipun ia mengaku tidak memiliki kopentensi terhadap persoalan pendidikan, namun isi ceramahnya tentang pendidikan masa depan, diberikan sangat luas dan mendalam. Hafalan dan pengetahuannya tentang tafsir al Qurán yang luas, sehingga tatkala ia menjelaskan tentang pendidikan, justru menyentuh substansi yang sebenarnya. Ia melihat pendidikan bukan sebatas pada tataran formal adminstratif dan managerial, melainkan sampai menyentuh persoalan manusia yang mendasar. Gubernur NTB mengatakan bahwa pendidikan sebenarnya bukan saja mengantarkan seseorang agar bisa menempati posisi-posisi penting di tengah masyarakat dan bahkan juga kemampuan untuk meraih peluang ekonomi, melainkan hendaknya berhasil mengantarkan seseorang menjadi shaleh. Selain itu, dalam ceramahnya, ia juga menjelaskan tentang betapa strategisnya posisi al Qurán dalam pendidikan. Semestinya, pendidikan dimulai dari al Qurán. Bahwa dengan memempelajari al Qurán dan berhasil memahaminya, maka seseorang akan mendapatkan pengetahuan yang luas tentang alam dan manusia, hingga yang bersangkutan akan mengenal terhadap siapa sebenarnya dirinya dan juga Tuhannya. Kesadaran tentang hidup yang sebenarnya, hanya akan bisa diperoleh dari kitab suci itu. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa posisi al Qurán akan selalu melengkapi atau bahkan menyempurnakan apa saja yang kurang pada diri siapapun. Oleh karena itu, Gubernur memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap para mahasiswa UIN Malang, lebih-lebih kepada mereka yang banyak menghafal al Qurán. Ia juga menunjukkan kegembiraannya setelah mengetahui bahwa tidak kurang dari 10 % mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengikuti program Tahfidz yang tergabung dalam Haiáh Tahfidz Al Qurán. Gubernur NTB juga menunjukkan kegembiraannya tatkala mendapatkan informasi, bahwa para penghafal al Qurán secara akademik penghafal al Qurán secara akademik meraih prestasi tinggi dan berasal dari seluruh fakultas dan jurusan yang ada di kampus ini. Penghargaan terhadap penghafal al Qurán itu, oleh Gubernur ditunjukkan dari keinginannya bertemu dengan salah seorang mahasiswa yang baru saja diwisuda, yang hafal al Qurán. Mahasiswa dimaksud lulus dari jurusan fisika, hafal al Qurán 30 juz dan skripsinya ditulis dengan Bahasa Arab. Dalam pertemuan itu, Gubernur memberikan penghargaan dan hadiah kepada mahasiswa yang bersangkutan. Dari pemandangan itu, saya menangkap sedemikian besar perhatian Gubernur NTB terhadap penghafal al Qurán. Selain itu, saya juga melihat bahwa, seorang pejabat yang dekat dengan al Qurán ternyata memiliki jangkauan pandangan yang luas, seluas wilayah kehidupan ini secara keseluruhan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
