Sunday, 19 April 2026
above article banner area

Guru Berdemo Di Tengah Upaya Membangun Pendidikan Karakter

Judul dalam tulisan ini bukan untuk menyindir, bahwa guru yang sedang berdemo tidak berkarakter. Bukan begitu. Sebab dalam masa demokrasi seperti ini,  setiap orang, termasuk guru dibolehkan untuk mengemukakan aspirasinya secara terbuka, tidak terkecuali di depan istana atau di gedung DPR.

  Guru  harus mau berjuang, termasuk memperjuangkan nasipnya sendiri. Sebab di zaman seperti sekarang ini, siapa lagi yang akan memperjuangkan, kalau bukan kelompoknya sendiri. Orang zaman sekarang sudah semakin sedikit yang mau memperjuangkan orang lain.  Apalagi, ternyata  aspirasi penting tidak cukup hanya disampaikan dengan bertemu lalu  bermusyawarah, apalagi lewat surat menyurat. Cara yang dianggap tepat  adalah melalui demonstarsi.   Demonstrasi para guru yang baru saja dilakukan di depan istana dan gedung DPR, —–saya lihat melalui siaran televisi, ternyata juga sama dengan demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok lainnya. Saya lihat di layar televisi itu, tatkala mau masuk gedung, mereka  harus saling dorong dengan petugas keamanan.  Mereka menggoyang-goyang pagar besi, adu kuat dengan pihak keamanan, namun  untung pagar itu tidak sampai ambruk.   Para guru melakukan demonstrasi  semacam itu, kiranya  boleh-boleh saja. Namun yang saya bayangkan, umpama cara-cara Pak Guru tersebut dilihat oleh para murid, paling tidak melalui televisi, kemudiaan ditiru di sekolah-sekolah, maka rasanya menjadi kurang  pantas. Andaikan para murid juga ndorong-ndorong pagar sekolah, lalu Pak atau Ibu guru memperingatkan, kemudian mereka menjawab, bahwa itu sebatas meniru,  maka terasa menjadi  runyam.   Atas kekawatiran semacam itu, maka mestinya demonstrasi  oleh para guru semacam itu, sebisa-bisa   dihindari. Sebab di mana-mana sudah lazim, bahwa apa yang dilakukan oleh guru akan ditiru oleh para murid-muridnya. Lebih dari itu, menjadi tidak terlalu elok jika demo itu ternyata sebatas  menuntut kesejahteraan.  Umpama saja yang dituntut oleh guru terkait  peningkatan kualitas pendidikan, perlu dilakukan hati-hati.  Guru di mana-mana diharapkan  oleh masyarakat lebih mampu menunjukkan karakter unggul, yang pada saat ini sedang digelorakan.   Ketika sedang menyaksikan demo oleh para guru pada siaran televisi  tersebut, maka  beberapa pertanyaan  muncul dalam pikiran saya,  di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, siapa yang menggerakkan para guru sehingga ramai-ramai berdemo itu. Pada gambar siaran televisi tersebut tampak bahwa, mereka yang berdemo bukan saja  guru-guru yunior, melainkan juga yang senior. Pikiran saya mengatakan,  kegiatan protes dan menuntut dengan cara semacam itu tidak akan mungkin dilakukan tanpa ada penggeraknya.     Para penggerak demonstrasi  biasanya memiliki agenda tersendiri yang jangkauannya tidak sebatas apa yang menjadi tuntutannya itu. Jika benar demikian, maka sayang sekali  para guru hanya menjadi pihak-pihak yang digerakkan, atau bahkan menjadi alat atau instrument bagi kekuatan lainnya. Sosok tauladan masyarakat yang lagi membangun karakter seperti sekarang ini, mestinya harus dihemat, jangan sampai melakukan tindakan yang kontra produktif dengan misi yang sedang dibangunnya sendiri.   Kedua, pertanyaan saya, bukankah akhir-akhir ini, guru justru sedang disorot atas kinerjanya yang dianggap kurang seimbang dengan langkah strategis pemerintah, yang telah meningkatkan kesejahteraan mereka.  Isu sertifikasi guru dan pemberian tunjangan lain dari pemerintah daerah, melahirkan anggapan  bahwa kesejahteraan guru sudah meningkat. Sebagai konsekuensinya, guru dituntut meningkatkan kinerjanya, hingga menghasilkan lulusan yang lebih baik.   Namun pada kenyataannya, para guru dianggap belum berhasil  memenuhi harapan itu.  Buktinya bahwa, hasil ujian nasional akhir-akhir ini kurang menggembirakan. Atas dasar kenyataan itu muncul sindiran masyarakat, bahwa kenaikan anggaran pendidikan baru berhasil meningkatkan kesejahteraan guru, dan belum berdampak pada peningkatan pendidikan itu sendiri secara signifikan.   Umpama demonstrasi itu dilaksanakan beberapa tahun lalu, sebelum ada isu sertifikasi dan upaya-upaya pemerintah daerah  memberikan perhatian lebih pada mereka, mungkin dianggap wajar. Akan tetapi di tengah-tengah munculnya kebijakan peningkatan kesejahteraan guru, sementara prestasi mereka  sedang disorot karena  hasil UN belum memuaskan, apalagi di tengah-tengah isu mengembangkan pendidikan karakter seperti sekarang ini, maka rasanya demonstrasi  para guru tersebut rasanya kurang tepat, atau setidak-tidaknya terasa kurang arif dan  bijak.   Demonstrasi untuk menuntut sesuatu, bukan perkara buruk atau jelek. Apalagi,  demonstrasi itu dimaksudkan untuk  memperjuangkan hak atau aspirasi  bersama.  Namun demonstrasi menjadi kurang pantas dilakukan oleh guru, jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak semestinya, misalnya harus dengan dorong mendorong pagar besi gedung kantor yang akan dimasuki, dan berteriak-teriak sebagaimana yang dilkakukan oleh demonstran  bukan guru.   Para guru, kalaupun toh harus berdemonstrasi, maka format dan tampilannya harus ditata sedemikian rupa, sehingga memang pantas dilakukan oleh para pendidik, sebagai orang-orang yang dikenal pintar, berkarakter, arif, dan terhormat. Apalagi, di saat sedang digelorakan upaya membangun pendidikan karakter bangsa. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *