Wednesday, 10 June 2026
above article banner area

Islam : Menjadikan Cerdas Dan Sekaligus Berkarakter

Tatkala seseorang memeluk Islam sebagai agamanya, mestinya akan menjadi cerdas dan sekaligus berkarakter mulia. Namun Idealitas seperti itu  pada kenyataannya  belum semua terbukti. Banyak pemeluk Islam  masih belum berhasil memiliki ilmu yang cukup, hingga disebut  cerdas. Demikian pula, masih banyak orang Islam yang sulit  dibedakan dari ummat lainnya, misalnya tidak  amanah, masih berani berbohong, korup, manipulatif, dan lain-lain.

  Dua identitas, yaitu cerdas dan berkarakter tinggi,  belum menjadi ciri khas bagi umat Islam. Bahkan ditengarai, bahwa negara-negara yang dihuni oleh ummat Islam, masih  banyak yang terbelakang, miskin, dan belum berhasil mengembangakan ilmu pengetahuan. Selain itu, di kalangan kaum muslimin  juga masih banyak diliputi oleh  suasana berebut ekonomi, kekuasaan, konflik, peperangan, bunuh  membunuh, dan lain-lain.   Kondisi seperti itu menjadikan antara idealitas dan fakta empirik dalam kehidupan nyata menjadi berjarak yang kadang sedemikian jauh.  Harapan orang Islam menjadi ummat terbaik,  selalu mengajak pada kebaikan dan sebaliknya,  melarang terhadap perbuatan yang tidak menguntungkan dan tidak terpuji,  akhirnya belum terbukti.  Kenyataan-kenyataan seperti  itu menjadikan tidak sedikit orang mencari tahu sebab-sebab yang melatar belakanginya.   Dikatakan misalnya, bahwa Islam tidak memberi sumbangan pada kemajuan peradaban manusia, maka jelas tidak benar. Sebab Islam memiliki sejarah yang jelas dalam membangun peradaban, seperti pada Dinasti  Abasiyah dan Bani Ummayyah. Pada saat itu, sejarah Islam mencapai puncak kemajuannya. Sebagai bukti nyata lain yang tidak terbantahkan, bahwa Nabi Muhammad, pembawa risalah Islam, berhasil membangun tatanan masyarakat Madinah yang damai dan sejahtera. Keberhasilan itu tidak mungkin diraih manakala masyarakatnya tidak cerdas dan berkarakter mulia.   Hanya persoalannya,  yang hal itu juga masih terjadi hingga pada zaman sekarang ini, bahwa negara-negara yang berpenduduk muslim belum mengalami banyak kemajuan. Memang, ukuran kemajuan itu biasanya, secara mudah  hanya dilihat dari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi  dan ekonomi. Umpama kemajuan itu dilihat dari banyaknya tempat ibadah, jumlah orang yang menjalankan ritual seperti shalat, puasa dan haji, dan semacamnya, maka penduduk muslim hingga kinipun akan lebih maju bilamana dibandingkan dengan lainnya.  Ukuran tingkat kemajuan itu adalah ilmu pengetahuan, teknologi  dan ekonomi. Maka ummat Islam  di mana-mana menjadi  kalah. Apalagi yang dimaksudkan ilmu pengetahuan tersebut adalah keberhasilannya dalam mendapatkan temuan-temuan ilmiah yang melahirkan teknologi dan kemajuan ekonomi. Sebab manakala yang dimaksudkan ilmu pengetahuan itu adalah menyangkut ilmu tafsir al Qur’an, sejarah kehidupan Rasulullah, bahasa dan seterusnya, maka jelas bahwa ummat Islam telah meraih posisi unggul.  Selain itu, selama ini sebutan pendidikan Islam hanya diberikan pada lembaga-lembaga yang mengembangkan ilmu-ilmu yang terkait dengan kegiatan ritual seperti syari’ah, ushuluddin, tarbiyah, adab dan dakwah. Demikian pula, sebutan pelajaran agama Islam hanya terkait dengan fiqh, tauhid, akhlak, tasawwuf dan Bahasa Arab.  Semua orang tahu bahwa bidang ilmu tersebut tidak terkait langsung dengan hasil-hasil temuan ilmiah, teknologi,  dan juga ekonomi.   Memang telah terjadi ironi dalam perjalanan sejarah Islam. Sebab sebenarnya sumber ajaran Islam, yaitu al Qur’an dan hadits nabi, memerintahkan kepada ummatnya untuk melakukan penelitian terhadap jagat raya ini, baik benda-benda yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Islam memberikan peluang seluas-luasnya untuk mengkaji semua itu. Hal yang tidak dibolehkan bagi ummat Islam hanyalah satu, ialah mengkaji dzat Allah swt. Oleh karena hal itu tidak akan mungkin bisa dijalankan dan diraih hasilnya.     Al Qur’an memerintahkan agar manusia mempelajari apa saja yang ada di langit dan di bumi, sehingga artinya bahwa Islam menyuruh ummatnya untuk mengkaji ilmu-ilmu biologi, fisika, kimia, matematika, astronomi, psikologi, sosiologi, ekonomi dan lain-lain. Maka di sinilah letak  titik lemah ummat Islam, hingga kalah  bersaing dengan ummat lainnya. Selama ini, mempelajari ilmu-ilmu sebagaimana disebutkan terakhir tidak dipandang utama dan bahkan diabaikan. Padahal, mempelajari isi jagat raya  tersebut, selain berguna untuk memenuhi tuntutan intelektual, juga bisa menumbuh-kembangkan keimanan seseorang.   Keimanan tidak saja bisa diperoleh dan ditumbuhkan melalui ilmu-ilmu yang disebut sebagai ilmu agama seperti ushuluddin, syari’ah, dakwah, akhlak dan tasawwuf, melainkan juga melalui pengembaraan dalam mengkaji isi jagat raya ini. Kajian-kajian tentang jagat raya yang didasari oleh semangat keimanan atau ingin mengetahui rahasia alam, maka akan  menemukan keimanan yang kokoh. Nabi Muhammad pernah di isra’ dan mi’raj kan untuk melihat jagat raya ini hingga langit lapis yang ke tujuh. Dalam kisah isra’ dan mi’raj, Nabi Muhammad dipertemuakan dengan  para Rasul terdahulu dan bahkan sorga dan neraka. Ini menggambarkan betapa, Rasulullah diperkenalkan dengan pengetahuan yang sedemikian luas hingga pada hal yang tidak mungkin dijangkau oleh manusia pada umumnya.   Selain  itu, al Qur’an menempatkan ilmu pengetahuan sedemikian penting dan tinggi. Perintah membaca misalnya, sebagai pintu kegiatan mengembangkan ilmu pengetahuan, diturunkan  pertama kali dari seluruh ayat al Qur’an lainnya. Misi Rasulullah yang disebutkan pertama kali adalah tilawah, artinya adalah membaca. Demikian pula asma’ul husna yang disebut pertama kali dalam al Qur’an adalah al khaliq, yang artinya adalah Yang Maha Pencipta. Semua itu sebenarnya bisa ditangkap bahwa Islam mengutamakan ilmu pengetahuan sebagai pintu seseorang menjadi semakin cerdas.  Islam juga memberikan tuntunan dalam menjalankan ritual untuk memperkokoh spiritual. Kegiatan ritual itu seharusnya dilakukan  dalam setiap ukuran satuan waktu. Pada setiap saat, —–ukuran menit dan bahkan detik,  seorang muslim dianjurkan untuk berdzikir atau mengingat Allah. Sehari semalam diwajibkan menjalankan shalat lima waktu, seminggu sekali bagi laki-laki, diwajibkan shalat jum’at, sebulan penuh dari 12 buan, diwajibkan untuk berpuasa di Bulan Ramadhan, setahun sekali diwajibkan membayar zakat, dan sekali dalam seumur hidup  diwajibkan menjalankan ibadah haji. Itu semua diharapkan agar kaum muslimin menyandang hati yang baik dan mulia.  Namun konsep ideal itu pada kenyataannya belum dijalankan secara sempurna. Dalam pengembangan ilmu, kaum muslimin masih membatasi pada pengembangan ilmu,——disebut ilmu agama. Sedangkan dari aspek ritual juga belum dijalankan secara sempurna. Kita lihat misalnya, sekalipun masjid atau tempat ibadah lainnya sudah sedemikian banyak, tetapi belum dimanfaatkan maksimal. Artinya,  Islam atau al Qur’an belum sepenuhnya dijadikan sebagai petujuk  dalam berpikir dan berperilaku secara utuh. Umpama  demikian itu dilakukan, artinya al Qur’an dan hadits dijadikan sebagai pedoman hidup sepenuhnya, maka  kaum muslimin akan menjadi lebih cerdas dan berkarakter, hingga beridentitas sebagai  ummat terbaik. Wallahu a’lam.       

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *