Setelah hampir tiga tahun menulis pada setiap hari dan kemudian saya posting ke website, facebook, dan scribb, maka banyak mahasiswa bertanya, apakah yang mendorong untuk melakukan hal itu. Pertanyaan itu disampaikan oleh karena, mungkin sementara ini, kebiasaan menulis masih dirasakan sebagai hal yang sulit. Mereka selalu menghadapi kenyataan bahwa, kadang semangat itu muncul, akan tetapi setiap memulai dan belum berjalan beberapa lama, sudah kehabisan semangat, dan akhirnya tidak berlanjut.
Biasanya yang ditnyaankan juga terkait dengan bagaimana memilih judul, mengembangkan ide dan apa saja yang perlu dihindari dalam membuat tulisan. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu saya dapatkan dari mahasiswa. Sudah barang tentu, saya menjadi sangat bergembira, karena dengan pertanyaan itu menunjukkan bahwa mereka sudah tertarik dan akan mencoba memulai menulis. Saya membayangkan bahwa, umpama para dosen dan mahasiswa sudah mulai banyak yang menyukai menulis, membaca, dan melakukan kegiatan penelitian, maka artinya iklim akademik kampus sudah tumbuh. Sebagai pimpinan perguruan tinggi, menumbuh-kembangkan iklim akademik seperti itu adalah sangat mendasar. Oleh karena itu tidak boleh dianggap sebagai tugas sambilan dan dilakukan apa adanya. Oleh karena itu rasanya aneh, jika ada sementara orang masih mempertanyakan, mengapa seorang pimpinan perguruan tinggi, sehari-hari kerjanya hanya menulis artikel, dan bukan melakukan pembinaan kepada para dosen, karyawan dan juga mahasiswa. Rupanya penanya tersebut belum mengerti, bahwa pembinaan yang terbaik adalah melalui contoh, dan bukan sebatas lewat ceramah, petunjuk dan perintah. Apalagi, waktu yang saya gunakan untuk menulis selalu di luar jam dinas, yaitu pada setiap bakda shalat subuh. Secara sederhana, saya memaknai kegiatan menulis adalah merupakan bagian dari pelaksanaan tugas-tugas pimpinan universitas. Tugas-tugas itu harus saya tunaikan sebaik-baiknya. Saya tidak bisa membayangkan, apa yang akan didapatkan dari kampus, jika dari lembaga pendidikan itu tidak pernah lahir karya-karya ilmiah, journal, buku, hasil penelitian dan juga tulisan hasil diskusi-diskusi ilmiah. Jika hal itu terjadi, maka masing-masing orang hanya akan berpikir sederhana, yaitu misalnya siapa akan mendapat apa, menyalahkan orang, dan hal negative lainnya. Menggerakkan orang lain melalui contoh ternyata benar, banyak hasilnya. Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya melihat sudah banyak dosen, mahasiswa dan bahkan karyawan mulai menulis. Pada setiap tahun tidak kurang dari 70 judul buku terbit di kampus ini. Tulisan-tulisan dosen, mahasiswa dan karyawan saya baca lewat website dan atau facebook. Hal ini merupakan tanda-tanda baik dan positif, artinya iklim akademik berhasil mulai ditumbuh-kembangkan. Memang masih ada di antara mereka yang belum memulai, tetapi saya tangkap semangat itu sudah mulai tumbuh. Oleh sebab itu, motivasi menulis bagi saya, adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tugas-tugas saya sebagai pimpinan perguruan tinggi. Cara ini saya rasakan sebagai pilihan strategis yang harus saya lakukan. Inilah motivasi pertama saya melakukan kegiatan menulis setiap bakda shalat subuh. Selain itu, dengan menulis akan menjadi sehat, baik jasmani dan rohani. Jasmani akan sehat jika selalu digunakan. Aliran darah ketika seseorang bekerja, akan berjalan lancar. Demikian pula ruhani atau psikis, dengan memberikan sesuatu kepada orang lain,——sekalipun hanya berbentuk tulisan sederhana, akan muncul perasaan senang, puas, dan gembira. Itu semua menjadikan seseorang sehat. Motivasi lainnya, bahwa dengan tulisan-tulisan tersebut akan sekaligus menjadi bukti, bahwa pada hari itu saya masih hidup dan sehat. Tulisan itu pada suatu saat akan berbicara atau menjadi saksi bahwa pagi itu, saya masih hidup dan bekerja, yaitu menulis. Menurut pandangan saya, bahwa dalam kehidupan ini seharusnya menghasilkan bekas-bekas, tanda-tanda, tapak-tapak sebagai bukti kehidupan itu sendiri. Tentu semua itu harus terbaca secara baik dan menyenangkan. Oleh karena itulah, tatkala saya mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana tulisan itu seharusnya dibuat, maka saya memberikan gambaran sederhana, bahwa tatkala menulis maka hendaknya berpedoman pada hal-hal berikut. Di antaranya, yaitu jangan menulis sesuatu yang mengakibatkan orang lain menjadi susah atau sakit hati. Saya juga menyarankan agar menulis sesuatu yang mudah dimengerti. Melalui tulisan itu maka berikanlah informasi, buah pikiran, pandangan yang mudah, bisa dilaksanakan dan menggembirakan. Selain itu, melalui kebiasaan menulis, akan bermanfaat jika disampaikan pesan-pesan moral yang baik dan mulia. Contoh-contoh menarik yang mengandung hikmah, kearifan, kalimat bijak akan menyenangkan banyak orang. Tidak perlu dan, bahkan seharusnya dihindari membuat tulisan yang akan melahirkan debat, silang pendapat, perpecahan, dan apalagi menjadikan banyak orang bertengkar dan sakit hati. Terlalu banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan menulis, lebih-lebih bagi penulisnya sendiri. Melalui kegiatan menulis seolah-olah seseorang telah memberi sesuatu kepada orang lain. Padahal, pada saat itu sebenarnya keuntungan yang terbanyak justru akan diperoleh oleh penulisnya sendiri. Dengan menulis maka pengetahuannya menjadi terpelihara dan akan selalu bertambah. Selain itu, juga terbangun sillaturrahmi yang luas. Menulis tentang kebaikan dan dilakukan dengan cara baik, maka kebaikan itu akan kembali ke penulisnya sendiri, dan begitu pula sebaliknya. Umpama saja seseorang menulis tentang sesuatu yang kurang baik, maka keburukan akan kembali kepada penulisnya. Oleh karena itu, seyogyanya menulis harus dimaknai sebagai bagian dari upaya menunaikan tugas-tugas menyeru pada kebaikan, dan sekaligus berbagi tentang kebaikan itu sendiri. Pandangan seperti itu, insya Allah akan membangkitkan semangat menulis. Sebab menulis pada hakekatnya adalah identik dengan mengembangkan kebaikan, kepuasan, dan kegembiraan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
