Monday, 11 May 2026
above article banner area

Isra’ Mi’raj Sebagai Inspirasi Untuk Membangun Karakter, Ilmu Pengetahuan, Dan Peradaban Bangsa

Assalamu alaikum wr. Wb. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ, أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ،   Yang Kami muliakan Presiden Republik Indonesia Bapak Dr.H. Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ibu Negara Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono; Yang Kami hormati Bapak dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, Para Pimpinan dan Anggota Lembaga Tinggi Negara Yang mulia Para Duta Besar Negara-negara Sahabat; Yang Mulia Para alim ulama’, cendekiawan, dan hadirin yang berhagia,

  Pada kesempatan yang mulia ini, ijinkan kami mengajak para hadirin semuanya untuk memanjatkan rasa syukur yang mendalam ke hadirat Allah swt., yang telah melimpahkan rakhmat, taufiq dan hidayah kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan pada junjungan kita Nabi Besar Besar Muhammad saw., keluarga, sahabat dan kita semua yang mengikuti dan mencintainya. Mengawali ceramah saya pada peringatan isro’ mi’roj malam hari ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas perkenan Bapak Presiden yang memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan ceramah pada peringatan salah satu hari besar Islam di tempat yang mulia ini. Melalui tempat yang mulia ini,  dengan hati yang tulus, saya mengajak semua hadirin yang berbahagia untuk selalu bersyukur ke hadirat Allah swt. bahwa kita ditakdirkan menjadi bangsa Indonesia. Kita mesti bangga  sebagai bangsa yang besar, yang tahan uji, yang religius, yang terdiri atas berbagai suku, bahasa dan adat istiadat, tetapi tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rasa syukur ini amat penting kita lakukan, sebab dengan bermodal rasa  syukur,   kita akan  meraih nikmat dan prestasi yang lebih besar di kemudian hari. Tuhan hanya akan menambah nikmat kepada  orang-orang yang pandai bersyukur, sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an,  surat  Ibrahim: 7 Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)   Sebaliknya, Tuhan tidak menyukai orang-orang yang kufur nikmat, yang selalu merasa kurang, lemah, dan tidak percaya diri.  Kepada bangsa Indonesia, Allah  swt telah melimpahkan nikmat yang luar  biasa besarnya. Secara fisik, bangsa ini hidup di tanah yang luas lagi subur, dengan sumber alam yang melimpah, lautan dan samudera yang amat luas, dengan iklim dan air yang melimpah sehingga semua jenis tanaman dan  ternak bisa hidup, tumbuh dan berkembang secara sehat. Itulah kenikmatan yang dilimpahkan oleh Allah yang semestinya kita syukuri bersama. Bagi orang-orang yang tidak mau bersyukur, Allah memberikan sindiran lewat firman-Nya dalam surat  ar Rahman yang berbunyi: “ “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”   Bapak Presiden, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono dan hadirin yang berbahagia; Pada malam yang khitmad ini,  kita bersama-sama memperingati peristiwa sangat aneh, menakjubkan  dan bahkan ajaib, yang dialami oleh Rasulullah Muhammad saw.,yang sulit dinalar oleh otak manusia, tetapi harus kita yakini kebenarannya, yaitu peristiwa isro’ dan mi’roj. Peristiwa itu diungkapkan di dalam al Qur’an, yaitu pada surat al Isro’ ayat: Karena itu, kebenarannya tidak perlu diragukan lagi. Disebut sebagai peristiwa langka dan aneh, serta ajaib, karena dalam sejarah kehidupan umat manusia, termasuk kehidupan para nabi dan rasul, hanya Nabi Muhammad saw., sendiri yang mengalami dan mengetahui peristiwa itu.   Peristiwa itu terjadi pada saat Nabi masih berada di Makkah. Pada saat itu Muhammad masih belum banyak mendapatkan kepercayaan masyarakat tentang status kerasulannya dan pengikutnya juga  masih terbatas. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, Muhammad justru memberikan kabar yang tidak masuk akal bagi semua orang, yaitu perjalanan isra’ dan mi’raj yang baru saja dialami. Isra’ dan mi’raj sendiri adalah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, pada  malam hari, dimulai dari masjid al Haram di Makkah menuju ke Masjid al Aqsho di Yerusalem. Itulah yang disebut dengan isra’. Kemudian  perjalanan dari masjid itu dilanjutkan dengan perjalanan untuk mi’raj, masih di malam itu dengan naik melewati langit lapis tujuh, menemui  Allah di Sidratul Muntaha. Dalam kisahnya nabi ketika itu didampingi oleh  Malaikat  Jibril. Banyak cerita terkait dengan isro’ dan mi’roj ini, yang bisa kita ambil hikmahnya, di antaranya adalah sebagai berikut:   Pertama, dalam peristiwa isro’ dan mi’roj itu nabi dalam keadaan galau. Ada dua peristiwa yang menjadikan kegalauannya itu. Yaitu, ketika itu Nabi baru saja ditinggal mati oleh pamannya, yaitu Abu Tholib, seorang paman,  yang selama itu sangat mencintainya. Sekalipun belum mengakui kerasulan Muhammad, Abu Thalib selalu melindungi dari segala macam gangguan terhadapnya. Selain itu dalam waktu yang hampir bersamaan, Rasulullah ditinggal mati oleh Hadijah, seorang isteri yang sangat dicintainya yang selama ini menjadi penopang kuat dakwahnya. Dari persitiwa ini saja kita bisa membayangkan bagaimana perasaan Nabi saat itu. Tetapi justru di saat seperti itu Nabi melaksanakan peristiwa amat sangat penting dalam sejarah kehidupannya, yakni sebuah doktrin teologis berupa perintah sholat melalui isro’ dan mi’roj.       Kedua, sebelum melakukan isro’ dan mi’roj, Muhammad SAW. dibawa  oleh Malaikat Jibril ke sumur zam-zam yang ada di lingkungan masjidil Haram. Di tempat itu Nabi Muhammad dibedah dadanya, dan dicuci hatinya dengan air zam-zam. Peristiwa ini menggambarkan bahwa seseorang yang akan menuju kepada kemuliaan, maka hatinya harus bersih dan bahkan suci. Kesucian itu, bukan saja terkait aspek fisik, melainkan hatinya. Hati yang bersih akan melahirkan jiwa yang bersih, khusnudzan, ikhlas, sabar, dan tawakkal. Ketiga, perjalanan dalam waktu semalam yang amat jauh itu dilakukan dari masjid ke masjid, kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Perjalanan itu dilakukan sendirian, dan hanya ditemani oleh Jibril. Peristiwa itu adalah semata-mata merupakan skenario  Allah, dilakukan secara mendadak dan sangat rahasia. Tidak sebagaimana perjalanan manusia biasa, sebelum berangkat harus pamit, menyiapkan bekal, dan sebagai perjalanan penting harus dilakukan pelepasan. Apa yang dilakukan oleh Muhammad tidak demikian. Peristiwa itu  tidak ada yang mengetahuinya, baik ketika menjelang berangkat, di dalam perjalanan, hingga sampai tempat yang dituju. Keempat, melalui peristiwa isro’ dan mi’roj itu Nabi bersama umatnya diperintahkan untuk menjalankan sholat lima waktu. Dikisahkan bahwa perintah shalat itu semula diwajibkan hingga 50 kali sehari semalam. Namun Nabi Muhammad atas usul para rasul yang ditemui ketika itu, agar frekuensi sholat itu dikurangi. Berkali-kali Nabi Muhammad kembali menghadap Allah, dan akhirnya sebagaimana sekarang ini sholat hanya diwajibkan lima kali sehari semalam. Semua ini adalah lambang atau simbol, betapa Nabi masih mau mendengarkan saran dari kolega sesamanya. Selain itu, betapa gigih harus berulang kali menghadap Allah agar umatnya mendapatkan keringanan atau  kemudahan dari kewajiban yang harus diembannya. Kebutuhan umat harus dikedepankan.              Selanjutnya peristiwa itu diberitahukan sendiri oleh Muhammad saw., kepada para sahabatnya. Tahap-tahap kegiatan Rasulullah yang sangat luar biasa, aneh, dan ajaib  itu dijelaskan oleh Rasulullah sendiri. Sebab peristiwa itu, hanya Rasulullah saja yang tahu. Orang-orang yang dekat pun tidak ada yang mengetahui bahwa di malam itu, Rasulullah melakukan perjalanan yang tidak biasa dilakukan oleh semua orang.             Mendengar kabar tersebut, wajar jika banyak orang memberikan respons yang berbeda-beda. Orang-orang yang semula sudah mulai mempercayai kerasulan Muhammad, dengan kabar yang tidak masuk akal itu justru mulai ingkar. Muhammad bahkan dianggap benar-benar orang aneh, sempurnalah berita yang dianggap tidak benar selama ini. Sebab, berita tersebut  dipandang sangat bertentangan dengan akal sehat. Apalagi bagi mereka yang sejak awal, yakni orang-orang Quraisy, yang selalu menentang ajaran yang dibawakan oleh Muhammad, maka  kisah isra’ mi’raj itu justru dijadikan tambahan bukti bahwa apa yang selama itu disampaikan utusan Allah hanyalah kebohongan belaka.             Berbeda dengan kebanyakan orang yang mulai ingkar terhadap Nabi, salah seorang shahabat Nabi bernama Abu Bakar justru sebaliknya. Bagi Abu Bakar, berita seaneh apa pun asalkan yang menyampaikannya  adalah Muhammad adalah diyakini kebenarannya. Keyakinan itu selalu tumbuh, karena Muhammad di hadapan Abu Bakar tidak pernah sedikitpun melakukan kebohongan. Muhammad adalah manusia jujur yang tidak pernah berbohong sekali pun dalam hidupnya. Bagi Abu Bakar,  terkait dengan peristiwa yang baru saja dialami Nabi tidak perlu disusun logika yang rumit tentang bagaimana proses itu terjadi. Maka itulah sebabnya, Abu Bakar diberi gelar Ashiddiq, yaitu orang yang selalu membenarkan apa saja yang datang dari Muhammad saw.             Dua gambaran yang berbeda seperti itu sampai saat  ini masih sama-sama tumbuh dan berkembang. Ada sebagian ilmuwan yang mencoba untuk merasionalkan peristiwa itu. Dengan berbagai perhitungan, mulai dari jarak yang harus ditempuh yang sedemikian jauh, kemungkinannya dzat atau materi berupa jasad rasulullah bergerak bersama-sama jibril yang bukan materi, kemungkinan lainnya wilayah yang sebenarnya tidak akan bisa dijamah oleh benda apapun, termasuk Rasulullah, tetapi ternyata tidak ada yang mampu menjelaskan secara ilmiah.             Peristiwa isra’ dan mi’raj bukan merupakan wilayah kajian ilmiah yang bisa diverifikasi kebenarannya dan apalagi peristiwa itu tidak akan bisa diulang dan bahkan  oleh Rasulullah sendiri, kecuali atas izin-Nya. Isro’ mi’roj adalah merupakan peristiwa tunggal dalam sejarah kemanusiaan, yaitu hanya dilakukan oleh Muhammad saw pada saat itu. Bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana Abu Bakar, begitu mudah menerima kebenaran atas peristiwa itu. Memang sebagai orang yang beriman, maka  harus mempercayai sesuatu yang sifatnya ghaib, yang tidak bisa diterima oleh akal sekalipun, asalkan sumbernya  benar. Peristiwa isro’ miroj, bagi orang yang beriman mudah menerimanya,  karena  sumbernya jelas yaitu, rasulullah dan ayat-ayat al Qur’an. Peristiwa isro’ mi’roj memang berada pada wilayah imani dan bukan pada wilayah ilmiah. Karena itu, seorang peneliti atau ilmuwan sehebat apa pun  tidak akan pernah  mampu melakukan telaah peristiwa isro’ dan mi’roj secara ilmiah.               Sebagai seorang mukmin, apapun yang datang dari Rasulullah dan al Qur’an adalah benar. Al Qur’an mengajarkan bahwa sebagai penanda keimanan seseorang adalah mempercayai adanya yang ghaib. Al Qur’an sebagai kitab suci tidak memerlukan pembuktian. Ayat-ayat al Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Sebagai sebuah sumber, tidak perlu diragukan, tetapi justru digali dan dimanfaatkan.   Bapak Presiden, Ibu Negara,  dan Hadirin yang berbahagia,             Jika peristiwa isra’ dan mi’raj bukan berada pada wilayah ilmiah, melainkan  berada pada wilayah imaniyah, maka  apa relevansinya dengan pengembangan karakter, ilmu pengetahuan dan upaya membangun peradaban dunia. Maka jawabnya adalah bahwa jagad raya ini  bagi Allah adalah sangat kecil. Sekalipun usaha-usaha manusia untuk menggali dan mengembangkan ilmu dan teknologi sudah sedemikian dahsyat dengan menghabisakan beaya dan tenaga yang tidak terhitung jumlahnya, tetapi tidak demikian bagi Allah. Sejak 14 abad yang lalu ditegaskan oleh al Qur’an bahwa, :  wama uutitum minal ilmi illa qolila, yaitu tidak kami berikan ilmu untuk kamu sekalian kecuali hanya sedikit. Penegasan itu memberikan pemahaman, bahwa menggali ilmu pengetahuan tidak mengenal-batas sehingga yang diperoleh menjadi terbatas. Selain itu, ayat itu juga mengeaskan tidak sedikit pun ruang bagi manusia untuk berbuat sombong ata takabur, karena sejatinya ilmu yang diperoleh hanya sedikit dibanding ilmu Allah yang luas tak terbatas.                 Lebih dari itu, bahwa jika selama ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sedemikian cepat dan dahsyat, seolah-olah semua rahasia Tuhan telah terungkap oleh hasil kerja keilmuan manusia, maka  peristiwa isra’ mi’raf  menggambarkan lebih dahsyat dari itu. Kemajuan ilmu pengetahuan dan  teknologi, yang diraih oleh  manusia, sehingga  bisa mengirim informasi, baik melalui kalimat, gambar atau lainnya secara tepat, ternyata  Tuhan telah mengirimkan utusannya, yakni Muhammad dari bumi ke langit yang jaraknya hanya bisa diukur dengan menggunakan ukuran tahun cahaya.             Kejadian itu memberikan inspirasi, betapa sesungguhnya obyek kajian ilmu pengetahuan  terbentang luas tanpa batas yang seharusnya dikaji oleh  kaum muslimin ini. Pintu kemajuan adalah ilmu. Tanpa ilmu pengetahuan komunitas apa pun tidak akan mengalami kemajuan. Maka itulah sebabnya mencari ilmu, membangun lembaga-lembaga pendidikan,  bagi  umat Islam adalah merupakan sebuah tuntutan yang harus dipenuhi. Dengan ilmu pengetahuan, manusia menjadi makkluk beradab dan bermartabat, jauh melebihi makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Karena itu pula, Allah mengabadikan di dalam al Qur’an surah al Mujadilah ayat 11 ; bahwa Allah angkat derajat manusia yang berilmu pengetahuan.  “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujaadilah: 11).             Selain itu melalui peristiwa yang agung itu  juga bisa kita pahami  bahwa  ilmu pengetahuan tidak hanya sebatas yang bisa ditangkap oleh indera, yaitu yang diperoleh melalui observasi, eksperimentasi dan penalaran logis.  Melalui  isra’ dan mi’raj, umat Islam   diperkenalkan tentang ilmu pengetahuan yang bersumber dari kitab suci  yang disebut sebagai   ayat-ayat kauliyah.  Dengan demikian, bagi umat Islam ada dua sumber ilmu pengetahuan, yaitu ayat-ayat kauniyah dan ayat kauliyah. Seharusnya umat Islam  menjadikan dua sumber  ilmu pengetahuan tersebut  untuk selalu digali secara bersama-sama,  terpadu,  dan komprehensif.           Sayangnya, selama ini masih terdapat dikotomi yang jelas dalam melihat ilmu. Ada sebagian yang lebih menekankan ilmu yang bersumberkan dari hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis yang disebut sebagai ayat-ayat kauniyah. Sementara lainnya terlalu menekankan jenis ilmu pengetahuan yang bersumberkan pada ayat-ayat kauliyah saja. Pemahaman dikotomik seperti melahirkan bentuk dan praktik pendidikan yang tidak tepat sehingga akhirnya  melahirkan manusia yang tidak berkepribadian utuh.  Menurut saya, saat ini sebagai  sebagai sebuah bangsa yang sedang bekerja keras membangun berbagai aspek kehidupan, Indonesia memerlukan manusia-manusia cerdas yang berkarakter.  Manusia berkarakter hanya akan diperoleh dengan model pendidikan yang tepat, yakni yang tidak melihat ilmu secara dikotomik.   Oleh karena itu, melalui peringatan isro’ dan mi’roj ini, kita bisa merenungi pemahaman kita terhadap ilmu pengetahuan dan melahirkan inspirasi baru dalam mengembangkan keilmuan. Insya Allah dengan cara begitu, bangsa ini akan menemukan bentuk atau bangunan keilmuan  yang ideal yang menjadi landasan pengembangan pendidikan di Tanah Air.               Bangunan keilmuan yang   memadukan antara ilmu yang bersumber dari kitab suci dan sekaligus hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis  akan melahirkan manusia  yang  utuh. Manusia yang utuh, dalam pandangan saya, adalah manusia yang memiliki empat kekuatan utama, yakni kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kemantapan profesional. Bagi bangsa Indonesia yang memiliki falsafah Pancasila, di tengah-tengah masyarakat yang hidup berbagai agama dan budaya yang berbeda-beda, mengembangkan konsep tersebut tidak terlalu sulit.   Yang Kami Muliakan Bapak Presiden dan Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono,             Kita sadar saat ini sebagai bangsa kita sedang  menghadapi persoalan yang pelik dan tidak mudah diselesaikan. Persoalan itu rumit, karena sumber persoalannya  adalah manusia itu sendiri.  Banyak manusia cerdas dan memiliki ilmu pengetahuan luas, tetapi keilmuannya hanya sebatas ilmu yang bersumber dari ayat-ayat kauniyah. Dengan ilmunya itu maka mereka menganggap bahwa kebahagiaan hidup hanya ditentukan oleh faktor material.  Atas dasar pandangan itu maka tujuan, orientasi dan cita-cita mereka sebatas material itu, dan bahkan lebih sederhana lagi yaitu  hanya di seputar mengumpulkan  harta. Lebih parahnya lagi, untuk memenuhi keinginannya itu, apa saja  dilakukan, tidak peduli apakah hal itu merugikan orang lain, termasuk dirinya sendiri. Akibatnya   mereka itu  lalai, sehingga  melakukan korupsi, kolusi,  dan nepotisme. Pribadi seperti ini di antaranya merupakan akibat dari model pendidikan dan bangunan keilmuan yang tidak utuh, terpadu,  dan komprehensif sebagaimana paparan di atas.             Sudah sekian lama, pekerjaan pemerintah terfokus pada upaya bersih-bersih, yaitu membersihkan tindak kejahatan korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya di semua level birokrasi dan lembaga-lembaga lainnya.  Orang-orang yang melakukan penyimpangan itu umumnya berpendidikan tinggi, tetapi sayangnya tidak diimbangi oleh kekayaan ruhaniyah.  Sedemikian pentingnya kekayaan ruhaniyah itu, hingga  Nabi Muhammad saw., dipanggil langsung oleh Allah, dipertunjukkan alam raya yang sedemikian luas dan selanjutnya pengetahuannya itu disempurnakan dengan kekayaan bathiniyahnya melalui shalat lima waktu.             Lagi-lagi  Muhammad sebagai rasul dalam konteks membangun karakter, ilmu pengetahuan, dan peradaban, sebagaimana yang tercantum dalam beberapa ayat al Qur’an, dirinci menjadi empat ranah, yaitu pertama tilawah, kedua adalah tazkiyah, ketiga adalah taklim atau mengajarkan kitab suci dan yang kelima adalah hikmah. Keempat tugas itu telah dilakukan sebaik-baiknya oleh Rasulullah, hingga berhasil membangun masyarakat Madinah  yang gemilang dan hal itu berpengaruh pada kehidupan masyarakat yang lebih luas hingga sekarang ini.             Pendidikan yang kita lakyukan selama ini  lebih menekankan pada tilawah, atau membaca jagad raya ini. Dalam konsep ilmu pengetahuan, para anak bangsa ini baru diperkenalkan tentang dasar-dasar ilmu alam dan sosial, seperti  biologi, fisika, kimia, matematika, sosiologi, psikologi sejarah dan bahasa. Dari kisah yang dialami oleh Rasulullah lewat isro’ dan mi’roj, mendidik harus ditambah dengan fase lainnya, yaitu tazkiyah, yaitu penyucian hati, dan taklim, yaitu pengajaran  dan menuntun agar mereka memiliki kearifan atau hikmah.             Upaya-upaya pemerintah telah sedemikian besar dalam memperbaiki pendidikan, terutama terkait dengan penyediaan anggaran. Namun seberapa pun anggaran itu disediakan, apabila tidak diikuti oleh upaya-upaya mencari bentuk pendidikan yang lebih ideal, maka tidak akan mendapatkan hasil maksimal. Secara jujur kita harus mengakui upaya-upaya pemerintah telah sedemikian besar dalam memperbaiki pendidikan, terutama terkait dengan penyediaan anggaran. Namun seberapa pun anggaran itu disediakan, apabila tidak diikuti oleh upaya-upaya mencari bentuk pendidikan yang lebih ideal, maka tidak akan mendapatkan hasil maksimal. Model pendidikan seperti itu akan melahirkan karakter yang unggul, berilmu pengetahuan,  dan bahkan berperadaban yang unggul. Lebih dari itu, pendidikan seperti itu akan menghasilkan manusia yang utuh, baik secara intelektual, spiritual, akhlak dan ketrampilan yang diperlukan.              Berangkat dari uraian tersebut, maka melakukan perenungan terhadap peristiwa isra’ mi’raj sangat penting. Dalam peringatan ini, kita semua disadarkan akan betapa pentingnya beberapa hal, di antaranya yaitu : Pertama, bahwa  bangsa ini perlu isra’ dan mi’raj sekalipun dalam pengertian simboliknya. Bangsa ini sebenarnya tidak miskin, tetapi penyebaran dan akses ekonomi kurang merata.  Al Qur’an memperingatkan bahwa janganlah harta  kekayaan  berputar di kalangan tertentu, sebab akan menjadikan pertumbuhan ekonomi  berhenti. Selanjutnya, perlu dilanjutkan dengan mi’raj, yaitu tidak hanya terjebak memikirkan  ekonomi secara berlebihan. Padahal kemuliaan itu akan diraih oleh kegiatan mi’raj, yaitu membangun kehidupan ruhani yang melahirkan hikmah atau kearifan itu. Kedua,  melalui isra’ dan mi’raj bahwa ternyata dalam membangun pribadi seseorang tidak cukup  melibatkan aspek-aspek  yang bersifat lahir, tetapi juga yang batin. Hal itu juga termasuk dalam membangun ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan ini tidak  mencukupi pengetahuan yang bersifat empiric, melainkan juga pengetahuan yang dating dari ajaran agama. Keterpaduan itulah yang akan melahirkan sosok pribadi unggul dan tangguh. Ketiga, betapa pentingnya kebersamaan dalam melakukan aktivitas kolektif, seperti membangun negara besar ini . Dalam konsep Islam yang dibawa Nabi Muhammad dikenal dengan konsep jama’ah. Rasulullah setiap kali menjalankan shalat selalu berjama’ah. Demikian pula dalam kegiatan lainnya. Kebersamaan menjadi kokoh dan begitu pula sebaliknya.   Bapak Presiden,  Ibu Negara, dan Hadirin yang Terhormat, Mengakhiri ceramah dalam rangka peringatan isro’ dan mi’roj malam ini, saya sekali lagi menyampaikan rasa terima kasih dan hormat yang mendalam kepada Bapak Presiden Dr. H. Susilo Bambang  Yudhoyono yang telah berkenan memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan ceramah. Kepada seluruh hadirin, saya juga menyampaikan rasa terima kasih atas perhatiannya mengikuti ceramah saya ini. Akhirnya, kepada Allah kita bersama-sama memohon ridha dan pertolongan-Nya agar para pemimpin negara ini selalu diberi kesehatan dan kekuatan serta petunjuk untuk mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter yang ditandai dengan akhlak yang mulia, berilmu pengetahuan tinggi dan berperadaban maju.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *