Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Istiqomah

Seringkali saya mendapat pertanyaan yang saya anggap aneh, yaitu menanyakan tentang bagaimana menjalankan sesuatu secara istiqomah. Pertanyaan itu saya anggap aneh, karena selama ini saya sendiri belum merasa, bahwa hal itu berhasil saya menjaganya. Mungkin mereka melihat bahwa saya bisa menulis artikel setiap pagi, tetap bersemangat mengurus lembaga pendidikan, dan setidaknya juga sebagai takmir masjid. Pertanyaan semacam itu biasanya datang dari dosen, kawan, dan juga yang lebih sering lagi dari mahasiswa. Mereka mungkin tertarik juga untuk bisa melakukannya. Memang rupanya, sekalipun mudah dan semua orang bisa menjalani, ternyata melaksanakannya secara istiqomah tidak semua orang bisa. Biasanya orang dalam mengerjakan sesuatu beberapa hari saja bersemangat, tetapi belum berjalan lama sudah bosan dan kemudian berhenti. Menjawab pertanyaan seperti itu, saya sendiri juga kebingungan. Bagaimana saya bisa menerangkan secara jelas dan memuaskan. Apalagi hal itu sesungguhnya tidak menjadi perhatian saya. Artinya, saya tidak merasa dengan sengaja melakukan tugas-tugas itu secara istiqomah. Mungkin hanya sebagai kebiasaan saja. Dan akhirnya kemudian saya tahu, bahwa bekerja secara istiqomah adalah bagian dari ajaran Islam yang harus ditunaikan. Islam mengajarkan bahwa pekerjaan kecil tetapi dilakukan secara istiqomah akan lebih baik dibanding dengan pekerjaan berskala besar tetapi tidak dilakukan secara istiqomah. Hal seperti itu sesungguhnya tidak sulit dicari rasional dan juga bukti pendukungnya. Banyak orang gagal menyelesaikan tugas-tugasnya hanya karena tidak bisa menunaikannya secara istiqomah. Kalau di kampus, banyak mahasiswa yang sudah sekian lama tidak segera berhasil menyelesaikan tugas akhir skripsi, tesis, dan bahkan disertasi, hanya karena tidak mampu menjaga sikap istiqomah ini. Tatkala menjawab pertanyaan itu, sekali lagi sekalipun saya belum merasa bisa menjaganya, saya lantas menjawab seadanya. Mungkin kebiasaan itu saya dapatkan sejak kecil. Sebagai anak desa, sejak kecil sudah dilatih oleh orang tua untuk menunaikan tugas-tugas secara istiqomah. Saya ingat kira-kira menginjak kelas dua sekolah dasar dulu disebut Sekolah Rakyat, saya sudah diberi tanggung jawab, setiap hari membantu mencari rumput untuk menghidupi beberapa ekor sapi. Tugas itu tidak pernah putus atau henti. Bahkan beberapa tahun kemudian, tanggung jawab itu saya masih ingat dialihkan yaitu mencari rumput untuk makanan kuda. Tugas itu harus saya tunaikan pada setiap hari tanpa mengenal keadaan. Umpama hari itu hujan deras atau sebaliknya, terik matahari karena musim kemarau, sepulang sekolah, saya harus mencari rumput sampai mencukupi beberapa ekor sapi dan kemudian kuda tersebut. Tidak pernah mengenal hari libur untuk mencari rumput. Sebab, hewan apapun, sebagaimana manusia, tidak pernah bisa sehari saja tidak makan. Setiap hari, sepulang sekolah saya harus merumput. Ini tugas yang tidak boleh sehari saja saya tinggalkan. Selain itu masih ada tugas-tugas tambahan, seperti mencari daun sirih untuk nenek, menyediakan air minum di depan rumah bagi musyafir, dan bahkan tugas lain mencari kayu bakar dan lain-lain. Sudah menjadi kelaziman, bahwa anak desa sejak kecil sudah dilatih bekerja dan bertanggung jawab. Ketika itu tidak pernah ada orang yang menyalahkan orang tua yang mempekerjakan anak-anak seperti itu. Semua tugas-tugas dari orang tua itu harus saya jalankan setiap hari. Tidak boleh sehari pun tugas itu saya lewatkan. Mungkin pelajaran sejak kecil seperti ini menjadikan saya terbiasa bekerja secara istiqomah. Selain istiqomah, bekerja harus tuntas, yaitu ditunaikan hingga selesai. Tugas-tugas semacam itu, bagi anak desa dianggap sebagai sebuah kelaziman, dan bahkan jika anak seusia seperti itu belum ikut bekerja, maka dianggap kurang baik, dan akan dipandang sebagai pemalas. Mungkin sejarah hidup di pedesaan seperti ini hingga saya menjadi terbiasa menunaikan tugas-tugas secara istikomah, terlatih bekerja, dan sekaligus juga menjadi terbiasa bertanggung jawab. Cara orang tua mendidik seperti itu, jika dilihat dari pespektif saat ini, mungkin dianggap salah. Yaitu membebani anak-anak yang semestinya belum waktunya. Tetapi, apapun orang melihatnya, setelah dewasa atau tua ini, saya merasakan, mungkin jika saya tidak melewati masa hidup seperti itu, mungkin saya tidak akan bisa menjalankan tugas-tugas, kata sementara orang, dapat saya jalani secara istiqomah. Kebiasaan semasa kecil pada setiap hari saya harus mencari rumput di saat apapun bahkan waktu hujan deras atau panas karena musim kemarau, maka ketika dewasa, kebiasaan itu menjadi sulit dihilangkan. Dalam perasaan saya tertanam bahwa hidup ini harus bekerja dan harus ditunaikan secara istiqomah. Demikian pula kegiatan lain seperti sholat berjama’ah di masjid, menulis artikel, sholat dhuha, dan lain-lain terasa menjadi enak jika saya laksanakan setiap saat. Sebaliknya, jika tidak melaksanakan, justru merasa ada sesuatu yang hilang atau kurang sempurna dalam hidup ini. Selain itu, saya juga merasakan bahwa kebiasaan ternyata menjadi kekuatan yang luar biasa dalam membentuk perilaku, termasuk menulis artikel setiap pagi. Karena itu pembiasaan adalah bagian penting dalam pendidikan. Karena itu, jika kita menginginkan agar kita semua dan juga anak kita dekat dengan masjid, rajin menulis, mampu berbahasa asing, dan juga berbagai prestasi lainnya, maka jalan yang terbaik adalah biasakanlah kegiatan itu terus menerus secara istiqomah. Insya Allah, keinginan itu akan terwujud dengan mudah. Istiqomah menjadi sangat penting dalam kehidupan ini. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *