Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Jika Guru Hanya Sebatas Mentransfer Pengetahuan

Akhir-akhir ini banyak tokoh pendidikan mulai berbicara tentang pentingnya membangun kepribadian di kalangan para siswa atau mahasiswa. Dikatakan bahwa, pendidikan semestinya tidak hanya menstranfer pengetahuan, tetapi yang lebih penting dari itu adalah menstranfer kepribadian guru kepada para murid atau siswanya. Namun pada kenyataannya, pendidikan yang berjalan selama ini kebanyakan lebih tepat disebut hanya sebatas menstranfer pengetahuan tetapi minus transfer kepribadian yang dianggap lebih penting itu. Hal itu tampak dengan jelas dari tatkala berbicara pendidikan, mereka lebih banyak menyinggung tentang betapa pentingnya kurikulum, buku pelajaran, metode mengajar, ruang kelas, evaluasi, dan akhir-akhir ini tentu tentang ujian nasional. Memang semua itu adalah penting adanya. Kurikulum, buku pelajaran, metode mengajar dan seterusnya, semua harus dipilihkan yang terbaik. Tetapi lebih dari itu, jika pendidikan dimaknai tidak saja mentransfer pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya menstranfer kepribadian, maka faktor kualitas guru adalah justru yang lebih menentukan. Guru tidak boleh dimaknai sebatas orang yang bertugas menerangkan isi kurikulum yang telah terjabarkan dalam buku teks atau bahan ajar. Guru bukan hanya sebatas orang yang bertugas di depan kelas untuk menjadi juru bicara buku atau materi pelajaran. Begitu pula, sukses tidaknya guru tidak hanya diukur dari apakah isi bahan pelajaran telah berhasil diterangkan dengan jelas kepada para murid atau mahasiswa. Demikian pula ukuran terhadap lembaga pendidikan. Sukses tidaknya lembaga pendidikan semestinya tidak hanya diukur dari besarnya prosentase kelulusan para siswanya tatkala mengikuti ujian nasional. Apalagi hanya dilihat dari para siswanya bisa berhasil menjawab soal-soal ujian dengan benar. Jika hanya demikian tugas guru, maka sesungguhnya telah terjadi reduksi makna pendidikan yang sebenarnya. Tugas guru sebetulnya bukan hanya sebatas itu, walaupun akhir-akhir ini yang terjadi adalah demikian itu. Secara teoritis para pelaku pendidikan dengan mengutip pandangan Bloom, menyadari bahwa pendidikan semestinya harus menjangkau tiga ranah sekaligus, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Mereka mengatakan bahwa jika hanya salah satu aspek yang berhasil dijangkau, maka dianggap kurang lengkap. Tetapi anehnya, dalam praktek pendidikan, mereka puas sekalipun hanya menyentuh aspek kognitif saja. Jika pendidikan diharapkan tidak hanya berhasil menstransfer pengetahuan, melainkan lebih dari itu, ialah mentransfer kepribadian, maka yang justru memegang peran strategis adalah guru. Guru harus dipilih dari orang-orang yang benar-benar matang kepribadiannya, memiliki tanggung jawab, kompeten sebagai guru, memiliki integritas yang tinggi terhadap tugas-tugasnya. Guru bukan hanya sebagai pekerja atau pegawai untuk mendapatkan gaji. Guru harus benar-benar berjiwa guru. Hanya saja akhir-akhir ini, yang justru terjadi di kebanyakan lembaga pendidikan, guru belum mendapatkan perhatian serius. Ukuran keberhasilan pendidikan yang digunakan juga sederhana, yaitu apakah bahan pelajaran telah disampaikan sesuai dengan target, metode yang benar, dan kemudian para siswa berhasil menjawab soal-soal ujian, baik ujian sekolah maupun ujian nasional. Jika para siswa berhasil menguasai pelajaran itu dan bisa menjawab soal ujian, maka tugas guru dianggap sukses dan selanjutnya dikatakan bahwa sekolah itu baik dan unggul. Para siswa dari sekolah itu dianggap unggul, karena paling tidak, mereka berhasil diterima di lembaga pendidikan pada jenjang berikutnya. Pertanyaannya, apakah mereka yang dianggap unggul itu sekaligus juga unggul kepribadiannya. Ternyata tidak selalu demikian. Sebagai contoh sederhana, tatkala diselenggarakan ujian masuk perguruan tinggi negeri, para panitia juga disibukkan oleh gangguan adanya joki di mana-mana. Para joki tersebut tentu cerdas, dan karena itu biasanya datang dari perguruan tinggi yang hebat-hebat. Artinya kemudian, perguruan tinggi yang disebut hebat selama ini, sebagiannya baru berhasil menstrasfer pengetahuan, tetapi belum sukses dalam mewariskan kepribadian unggul. Melalui contoh kecil ini, tampak bahwa tidak selalu orang berotak cerdas memiliki kepribadian terpuji. Kenyataan itu semestinya menyadarkan bagi siapapun, khususnya para pengambil kebijakan, dan juga para pendidik, bahwa kegiatan mentransfer pengetahuan seharusnya sekaligus diikuti oleh proses upaya mentransfer kepribadian. Dengan begitu, maka diharapkan peserta didik, selain menjadi pintar dan cerdas, juga sekaligus menyandang pribadi unggul. Tampak dengan jelas selama ini, bahwa orang pintar tetapi minus kepribadian dan akhlak, ternyata justru lebih membahayakan terhadap siapapun, baik dirinya, apalagi orang lain. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

RektorĀ  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *