Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Bentuk Pelajaran Baru Yang Memprihatinkan

Tulisan ini bukan bermaksud menunjukkan titik lemah reformasi yang sudah bergulir selama lebih dari 10 tahun di negeri ini. Peristiwa apapun memang selalu memiliki ekses atau dampak yang kadang kurang menyenangkan. Begitu pula reformasi di negeri kita ini. Dampak positif reformasi, siapapun mengakui, cukup besar bagi bangsa Indonesia. Tetapi harus diakui pula, ada titik-titik lemah yang perlu mendapatkan perhatian serius. Awal minggu ini saya mendapat undangan dari Departemen Keuangan di Jakarta untuk membicarakan tentang tindak-lanjut bantuan IDB pada UIN Maliki Malang. Undangan itu kebetulan pagi hari, jam 09.00 pagi. Saya datang di kantor itu tepat waktu. Memasuki kantor Departemen Keuangan yang amat besar itu, keadaannya seperti masuk kantor-kantor Departemen lainnya, terasa aman dan tidak ada apa-apa. Namun setelah rapat selesai dan mau pulang, pintu masuk kantor Departemen Keuangan itu telah ditutup rapat. Di luar pagar, ternyata berbaris banyak orang sambil berteriak-teriak, melakukan orasi menyuarakan aspirasi. Agar aman, untuk keluar dari kantor itu, oleh satpam kantor, saya dianjurkan lewat jembatan penyeberangan. Saya mengikuti saja saran itu. Dari atas jembatan, saya melihat banyak orang mengenakan pakaian bermacam-macam, bagaikan karnaval memperingati tujuh belas Agustus. Para pendemo itu bergerombol, dan sebagian berbaris yang tidak terlalu rapi, dengan membawa pamlet, spanduk, gambar-gambar atau foto Pimpinan Departemen itu, dan pejabat lain yang terkait dengan persoalan Bank Century. Gambar-gambar yang dibawa tersebut dibuat dalam bentuk yang tidak semestinya. Wajah pimpinan negeri ini digambar sedemikian rupa, ditampakkan secara tidak pantas. Begitu pula orasi atau teriakan-teriakan terdengar tidak pantas didengarkan dan sangat menyedihkan. Kata-kata kotor, mengumpat, menghujat, menghina terhadap pejabat yang dianggap salah disuarakan dengan lantangnya. Menyaksikan demo seperti itu, saya sebagai seorang guru merasa sedih. Siapa yang harus disalahkan, rasanya sulit juga dicari. Para pendemo disalahkan tentu tidak mau. Mereka merasa benar. Demikian pula, para pejabat atau pimpinan negeri ini, bagaimana pun jika dihujat seperti itu juga tidak pantas dan bukan pada tempatnya. Kata-kata kotor, hujatan, umpatan, hinaan dan seterusnya, rasanya bukan menjadi watak bangsa ini. Bangsa Indonesia, dengan siapapun dikenal santun, ramah, rendah hati, menghormati kepada siapapun. Tetapi, mengapa pada akhir-akhir ini menampakkan sifat kasar seperti itu. Demo di Departemen Keuangan, sebagaimana yang saya ceritakan tersebut, sejak awal reformasi telah terjadi di mana-mana, dan bahkan hampir di sepanjang waktu. Demo seperti itu tidak saja di kampus atau di kota-kota, tetapi juga terjadi hingga di desa-desa. Selain itu, demo selalu diekspresikan dengan cara serupa, yaitu dengan melakukan orasi, berteriak-teriak, menyalahkan sana sini, menghujat terhadap pihak-pihak yang dianggap salah. Sebagai seorang pendidik, menyaksikan peristiwa itu tentu merasa sedih. Seorang guru sebagaimana amanahnya adalah untuk membiasakan anak didik agar berkata dan berbuat santun, menghormati orang yang lebih tua, para pimpinan, dan bahkan juga kepada siapapun. Jika berkata untuk menyampaikan sesuatu, harus menggunakan kata-kata atau kalimat terbaik, jangan sampai menjadikan orang lain tersinggung, dan apalagi tersakiti hatinya. Dalam berdemo, prinsip-prinsip seperti itu tentu selalu diabaikan. Dalam berdemo di manapun rupanya belum ada sopan santunnya. Semakin keras dalam menghujat, mencaci maki, dan mengolok-olok dianggap lebih berhasil. Sepertinya dalam berdemo, apa saja bisa dilakukan sebebas-bebasnya, termasuk menyakiti hati orang lain. Demonstrasi dengan cara seenaknya itu, saya sendiri belum tahu asal muasalnya. Islam yang saya tahu, tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Rasanya memang sangat menyedihkan. Sebagai seorang guru, yang sehari-hari harus memberikan contoh atau ketauladanan yang baik, tentu menjadi terusik. Sudah barang tentu saya selalu khawatir, jangan-jangan anak-anak negeri ini ke depan, menjadi merasa tidak salah tatkala berkata dan berlaku kasar kepada siapapun, sebagaimana yang mereka lihat di waktu ada demo itu. Saya tidak menyukai ada pejabat di tingkat manapun berbuat curang, semisal KKN yang merugikan rakyat banyak. Tetapi saya juga tidak merasa enak, tatkala melihat orang berteriak-teriak, menghujat dan memaki-maki siapapun yang diduga salah, padahal belum tentu demikian keadaannya. Sebagai guru, saya benar-benar khawatir, jangan-jangan banyaknya demo yang kasar itu menganggu pertumbuhan anak, apalagi menjadi pelajaran baru bagi mereka yang sedang dalam proses membentuk karakter atau kepribadiannya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

RektorĀ  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *