Melihat kenyataan di tengah-tengah masyarakat sehari-hari seperti ini, usaha menyatukan umat yang keadaannya beraneka ragam, terasa tidak mungkin berhasil sepenuhnya. Akan tetapi hal itu harus selalu dipandang penting dan diperjuangkan semaksimal mungkin. Setidak-tidaknya adalah persatuan di kalangan para tokoh-tokohnya sendiri.
Nabi Muhammad saw., lewat berbagai kisahnya,selalu berupaya untuk membangun persatuan dan bahkan lebih dari itu adalah bekerjasama. Persatuan yang dibangun oleh Rasulullah tidak saja di kalangan ummat Islam, terapi juga dengan ummat lainnya. Persatuan itu tidak saja dalam satu suku, melainkan juga di antara suku-suku yang berbeda-beda. Di Makkah Nabi Muhammad pernah membuat Perjanjian Hudaibiyah agar terjadi saling berdamai. Hal lagi yang menarik, tatkala menghadapi beberapa pemuka suku yang berebut ingin meletakkan hajar aswad pada tempatnya setelah selesai ka’bah dibangun kembali, dengan cara yang sangat unik nabi menyatukan di antara mereka. Cara yang unik tersebut, nabi datang dengan membawa kain, dan selanjutnya hajar aswad diletakkan di atasnya. Setelah itu, semua kepala suku diminta memegang masing-masing sudut kain itu bersama-sama. Maka dengan cara itu, para kepala suku yang berbeda-beda justru menjadi satu dan bekerjasama. Tatkala berhijrah, Nabi juga mempersatukan antara kaum muhajirin dan kaum ansyar. Dua kelompok yang semula tidak saling mengenal, maka dipersatukan di Madinah. Kaum muhajirin adalah para pengikut nabi dari Makkah berhijrah ke Madinah. Sedangkan kaum Ansyar adalah penduduk Madinah yang menerima dan sekaligus menolong kehadiran kaum muhajirin tersebut. Nabi Muhammad di Madinah juga membuat Piagam Madinah, yaitu sebuah perjanjian untuk membangun kehidupan bersama di antara kaum muslimin, nasranmi, dan juga orang-orang Yahudi di Madinah. Mereka bersepakat untuk membangun kehidupan bersama, hingga terjadi saling mengenal, menghargai, menjaga, dan bekerjasama. Upaya mempersatukan umat juga dilakukan dengan ucapan, nasehat, dan juga contoh-contoh nyata yang diberikan oleh nabi sendiri. Dikemukakan misalnya, bahwa sesama muslim adalah bersaudara, maka di antara sesama saudara harus saling kasih mengasihi dan tolong menolong. Mencintai sesama dikaitkan dengan keimanan seseorang. Sehingga, dianggap tidak sempurna iman seseorang sampai mereka sanggup mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Persatuan dalam kehidupan bersama adalah sangat penting. Siapapun yang ingin mendapatkan keberhasilan dalam hidup, maka kuncinya adalah bisa bersatu. Ummat Islam akan menjadi maju, kuat dan kokoh, manakala berhasil dalam membangun persatuan. Bangsa ini akan menjadi besar dan maju, juga kalau para pemimpinnya bersatu dan juga berhasil menyatukan seluruh komponen yang ada. Namun sayangnya, sekedar bersatu saja bangsa ini terasa sulit. Sehari-hari yang terdengar adalah konflik, saling menjatuhkan, menunjukkan aibnya teman dan apalagi lawan. Bercerai berai dianggap menjadi hal biasa. Akibatnya adalah sama-sama tampak kekurangan dan bahkan keburukan semuanya. Kewibawaan menjadi tidak pernah terbangun hingga seolah-olah bangsa ini kehilangan sosok yang patut ditauladani, oleh karena mereka gagal membangun persatuan yang seharusnya diutamakan. Tatkala para pemimpin gagal bersatu, maka rakyat dan ummat akan menanggung akibatnya. Keadaan yang tidak kompak dan bersatu, maka energi dan konsentrasi akan terkuras untuk mencari kesalahan orang lain. Maka akibatnya tidak terjadi saling mempercayai, sedangkan yang muncul adalah justru sebaliknya, yaitu saling curiga mencurigai, khawatir, dan saling mewaspadai. Keadaan seperti itu tentu tidak sehat. Para pemimpin, mestinya selalu menjaga persatuan dan kesatuan, sekalipun itu sulit diwujudkan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
