Demokratis itu baik, tetapi tidak demikian bagi pelatih sepak bola. Pelatih sepak bola justru harus bersikap otoriter. Apa yang menurut pandangannya itu terbaik, maka itulah yang harus dipilih. Pelatih sepak bola tidak perlu mendengarkan usul atau saran dari siapapun. Menghadapi pertandingan final sore nanti di Malaysia, tidak perlu mengikuti saran, misalnya mengambil seorang pemain dari Indonesia timur atau sebaliknya dari barat, agar ada keseimbangan dan atau keterwakilan.
Saran, titipan, keterwakilan atau apapun namanya dalam soal sepak bola, ——-agar berhasil memenangkan pertandingan, maka semua itu tidak boleh diterima. Umpama anaknya menteri, gubernur, bahkan anak presiden sekalipun kepingin tampil, maka tidak boleh diikuti manakala yang bersangkutan tidak terhebat dan atau terbaik. Pemilihan pemain sepak bola harus dilakukan atas dasar pertimbangan super professional. Syarat itu harus dipenuhi jika kesebeasannya dikehendaki menang. Permainan sepak bola tidak seperti berpolitik. Permainan politik tidak harus professional, tetapi kadang boleh memilih pendekatan proporsoinal. Sekalipun semua tahu, bahwa pilihan proporsional seringkali menjadikan tugas-tugas strategis tidak dijalankan secara cepat dan tepat, yang akibatnya merugikan masyarakat luas. Namun untungnya, kemenangan dan atau kekahalan dalam menjalankan tugas-tugas politik tidak sebagaimana dalam permainan sepak bola yang bisa dilihat secara jelas. Keseimbangan, keterwakilan, pemerataan dalam berpolitik perlu dilakukan. Demokratis sekalipun hasilnya kurang menguntungkan maka dianggap lebih baik. Baik dan atau buruk, untung dan atau rugi dilihat dari pemerataan, keseimbangan dan proporsionalitasnya. Kehebatan dalam berpolitik pada kenyataannya bukan selalu dilihat dari kemajuan yang dikehendaki oleh rakyat. Umpama saja negeri ini tidak maju, maka dianggap tidak mengapa, asal demokrasi tetap dijadikan dasar dalam mengambil keputusan. Itulah keinginan sementara orang dalam berpolitik. Logika pelatih sepak bola rasanya menjadi terbalik dengan logika berpolitik. Akan tetapi, umpama logika pelatih sepak bola itu diadopsi oleh pemain politik, sehingga misalnya, dalam pemilihan anggota kabinet mendasarkan atas kemampuan professional, sebenarnya juga tidak mengapa. Pemilihan anggota kabinet juga didasarkan atas kemampuan, pengalaman, track record, dan sejenisnya. Sehingga tidak perlu, misalnya dalam memilih anggota kabinet harus mengikuti perimbangan proporsional dari partai politik yang berkoalisi. Jika cara terakhir ini dilakukan——pendekatan proporsional, maka tidak saja pelatih yang akan repot, maka penonton atau rakyat pun menjadi sumpek, karena melihat permainan politik yang kurang indah. Sebagai gambaran dari akibat pendekatan proporsional dalam politik itu, saya pernah mendapatkan cerita, yang saya rasakan, sangat lucu. Cerita itu bukan datang dari sembarang orang, melainkan dari seorang Duta Besar yang pernah menjadi anggota kabinet. Cerita itu disampaikan bukan dalam kontek bersenda gurau, melainkan dalam suasana serius. Oleh karena itu, saya sulit sekali untuk tidak mempercayainya. Melalui cerita dimaksud, ternyata tidak seluruh anggota kabinet di negeri ini mahir berkomunikasi, baik tulis maupun lisan. Sekedar ngomong, memberikan usul, atau pandangan dalam sidang penting, misalnya sidang kabinet, tidak semuanya berani. Mereka menghemat bicara, karena mungkin ragu, sungkan, atau takut dinilai salah oleh anggota cabinet lain, dan apalagi oleh presiden dan wakilnya. Sebagai seorang menteri merasa kurang enak, apabila buah pikiran, usul, atau pandangannya yang disampaikan dianggap kurang berbobot. Maka pilihan aman yang diambil, ia bersikap diam, atau cukup menjadi pendengar saja. Menteri dalam cerita dimaksud, baru berbicara, tatkala memberikan laporan tentang kementeriannya sendiri yang sudah dipersiapkan oleh staf sebelumnya. Menurut informasi dari Duta Besar dalam cerita tersebut, terdapat menteri yang sudah genap dua tahun menjabat belum pernah sekalipun memberikan pandangannya dalam sidang kabinet lengkap. Suatu saat, tatkala pimpinan sidang memberikan kesempatan, maka seorang menteri yang tergolong pendiam, mengangkat tangannya, dikira sebagai pertanda akan berbicara. Karena dianggap aneh, maka semua anggota kabinet yang lain memperhatikan kepadanya dan demikian pula pimpinan sidang segera mempersilahkan untuk berbicara. Tanpa diduga sebelumnya, ternyata setelah dipersilahkan berbicara, Pak Menteri dimaksud hanya menunjuk jam dan kedua tangannya diangkat sebagai insyarat, memohon agar sidang segera diistirahatkan, karena waktu shalat sudah hampir lewat. Inilah salah satu buah dari pendekatan proporsional dalam berpolitik. Ternyata tidak selalu menghasilkan yang terbaik. Oleh karena itu, mestinya tidak saja dalam permainan sepak bola, tetapi dalam berpolitik pun, dalam hal-hal tertentu, seharusnya berani mengambil keputusan atas dasar pendekatan profesional. Pendekatan proporsional kadang memang perlu. Tetapi cara itu bisa jadi, akan mendapatkan orang yang tidak kompeten, sehingga merugikan semuanya dan apalagi rakyat banyak. Pendekatan yang dilakukan oleh pelatih kesebelasan Indonesia kali ini, hingga berhasil masuk ke babak final, adalah karena selalu menggunakan pendekatan otoriter dalam memilih para pemainnya. Maka pada kenyataannya bahwa pendekatan otoriter tidak selalu buruk, dan sebaliknya pendekatan proporsional dan bahkan demokratis selalu baik. Oleh karena itu, dalam hal-hal tertentu, siapapun, ——tidak terkecuali para politikus, perlu menjadikannya sebagai pelajaran yang berharga, untuk kemajuan negeri ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
