Wednesday, 22 April 2026
above article banner area

Kehilangan Nikmat Di Akhir Ramadhan

Setiap memasuki akhir Ramadhan, saya selalu pulang kampung untuk menjenguk ibu. Sebagaimana orang tua pada umumnya, tidak mau diajak hijrah ke kota. Ia lebih menyukai tinggal di rumahnya sendiri, sekalipun seluruh anak-anaknya mengajak tinggal bersamanya. Itu barangkali sudah merupakan bagian dari psikologi orang tua, yang selalu merasa dan berpikir seperti itu, ingin tinggal di rumahnya sendiri.

Sibuk apapun, saya mesti sempatkan memenuhi tugas itu. Rasanya nikmat sekali menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh ibu di hari raya. Ibu senang jika, tatkala anak dan cucu-cucunya datang di hari raya ada yang disuguhkan. Saya selalu siapkan beras, bahan-bahan membuat kue, minuman, dan tidak ketinggalan adalah lembaran-lembaran uang baru. Saya tidak pernah membelikan kue dalam bentuk jadi. Ibu saya senang sekali membuat kue sendiri untuk para anak, cucu, dan jamaáhnya yang datang. Sekalipun usianya sudah lebih delapan puluh tahun, ia masih menyukai membuat kue sendiri. Tampaknya ia sangat bangga, jika kue suguhan yang dibuat sendiri dinikmati oleh mereka yang bersilaturrahmi. Umur setua itu masih ingin berprestasi, untuk memberi manfaat bagi lainnya. Tatkala cucunya datang dan kemudian menikmati kue, lalu mendengar kata-kata bahwa kue-kue itu adalah bikinan nenek, tampak ia bangga sekali. Ia masih bisa membikin kue. Oleh karena itu saya lebih suka membawakan bahan-bahannya, dan bukan dalam bentuk jadi. Mestinya, agar tidak merepotkan, saya belikan saja kue kaleng. Tapi dengan begitu kenikmatan ibu menjadi berkurang. Dengan cara itu, ibu tidak akan merasakan nikmat mendengarkan celotehan cucu-cucunya makan kue buatan nenek. Selain bahan membuat kue, hal penting lagi yang harus saya siapkan adalah lembaran uang baru. Cucunya yang berjumlah ratusan, setiap mereka datang, mesti harus diberi olehnya lembaran uang kecil tetapi baru. Rupanya berhasil bisa memberi kue dan uang kepada cucu-cucunya yang datang, tampak merupakan kebahagiaan tersendiri di hari raya. Ibu juga merasa sangat berbahagia jika menyaksikan para anak-anaknya datang membawa menantu dan cucu-cucunya. Dia mesti menghitung satu demi satu, siapa yang sudah datang dan yang belum datang. Jauh sebelumnya, kabar tentang kedatangannya diketahui benar. Keadaan seperti inilah yang kiranya menjadikan siapa saja yang bertempat tinggal jauh dari orang tua, pada setiap hari raya harus mudik atau pulang kampung. Saya pulang kampung selalu dua kali, yaitu beberapa hari sebelum hari raya tiba, untuk mengantarkan bahan-bahan membuat kue dan selainnya, dan kemudian hari pertama pada hari raya. Saya berangkat pulang kampung setelah menunaikan tugas berkhotbah di Malang. Semua tugas dan peran itu saya sampaikan ke ibu untuk menambah kebanggaannya sebagai orang tua. Namun, sudah genap dua tahun ini kenikmatan itu tidak bisa saya rasakan lagi, karena sejak tahun 2007, Ibu yang ketika itu berumur 86 tahun dipangil oleh Allah swt., wafat. Tanpa mengeluh sakit, setelah sholat dhuha, dan masih beralaskan sajadahnya dalam keadaan sendirian, beliau wafat. Ayah sudah terlebih dahulu, wafat pada tahun 1986. Sejak itu, saya sudah kehilangan nikmat yang selama itu saya rasakan. Siapapun saya kira merasakan, betapa mulia dan besarnya jasa orang tua terhadap anak-anaknya. Oleh karena itu sekecil apapun yang bisa diperbuat untuk orang tua, akan dirasakan sebagai kebahagiaan yang luar biasa. Tidak akan mungkin seorang anak bisa membalas kebaikan orang tua, apalagi yang terkait dengan doa dan kasih sayangnya. Saya merasakan itu semua. Saya selalu ingat, setiap berpamit kembali ke kota,sejak masih sekolah hingga sudah bekerja, selalu dipesan supaya selalu berhati-hati, agar memperbanyak doa memohon kepada Allah swt. Saya juga tahu, orang tua selalu berdoa, di waktu malam ia bangun untuk sholat, dan mendoákan kepada anak-anaknya. Mengingat betapa besarnya jasa orang tua, tidak akan mungkin bisa membalasnya, kecuali hanya dengan berdoá. Pada setiap menjelang hari hari raya, akhirnya yang bisa saya lakukan hanya sederhana, berkunjung ke makamnya, berziarah mendoakan di sana. Begitu besar jasa orang tua, tetapi hanya bisa saya balas dengan cara memasukkan jenazahnya ke liang lahat. Saya angkat jenazah ibu ketika itu, dan saya memasukkannya ke liang kubur, tempat peristirahatannya yang terakhir, menghadap Allah swt. Melayani orang tua sesungguhnya merupakan kenikmatan yang luar biasa. Sekalipun kuantitas maupun kualitas layanan itu jauh tidak seimbang bila dibandingkan dengan besar dan mulianya jasa orang tua kepada anaknya. Siapapun orang tua selalu memberikan segala-galanya kepada para anaknya. Orang tua selalu memberikan kasih sayang secara total. Mereka berusaha mencukupi kehidupan sehari-hari, mendidik, dan sekaligus mendoakan sepanjang waktu, agar semua anaknya sukses dan bermanfaat bagi masyarakat di kemudian hari. Atas jasanya itu, orang tua tidak pernah berharap mendapatkan imbalan jasa dari para anak-anaknya. Setiap akhir Ramadhan, saya selalu merasakan telah kehilangan nikmat yang luar biasa itu. Datang bersilaturrahmi ke orang tua, memenuhi kebutuhannya yang hanya sederhana, yaitu membawakan bahan membuat kue dan lembaran uang baru. Namun sekecil itupun, kini tidak bisa lagi saya lakukan lagi. Artinya, sejak beberapa tahun terakhir ini, saya sudah kehilangan kenikmatan di akhir Ramadhan. Akhirnya, saya hanya bisa berdoa, semoga Allah swt., menempatkan beliau berdua pada tempat yang mulia, bersama-sama orang-orang yang dicintai dan dimuliakan-Nya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *