Suatu saat saya pernah diajak teman ke rumah kyai. Biasanya kyai tersebut pada malam-malam tertentu, ada di rumah. Kedatangan itu tidak terkait dengan persoalan pelik yang perlu untuk dikonsultasikan, misalnya urusan politik, organisasi social, atau apa saja. Kunjungan itu sekedar silaturrahmi biasa.
Datang ke rumah kyai tidak sama dengan ke rumah pejabat atau orang penting lainnya. Ke rumah kyai tidak perlu memberi tahu atau janji terlebih dahulu. Kapan saja, asal ada waktu. Kyai biasanya juga tidak akan keberatan menerima tamu, misalnya datang terlalu malam. Biasanya, kyai juga tidak menyusun jadwal kapan menerima tamu. Begitu pula berapa lama dan kapan saja, tamu-tamu akan dilayani. Berbeda hal tersebut, berkunjung ke rumah pejabat atau orang penting lainnya. Tidak boleh bertamu sembarangan, harus memberi tahu terlebih dahulu. Waktunya juga tertentu, atas dasar kesepakatan. Tidak bisa misalnya, datang sembarang waktu. Jika tidak sesuai dengan janji, atau terlalu lama, maka bisa jadi tidak diterima. Datang ke rumah kyai bisa tengah malam sekalipun. Memang, tidak semua kyai dapat didatangi sembarangan waktu. Kyai sepuh biasanya memerlukan banyak istirahat. Tetapi, jika ada hal penting, tidak mengapa didatangi. Apalagi kedatangannya dimaksudkan untuk mendapatkan nasehat terkait dengan kehidupan. Kyai yang saya datangai bersama teman tersebut kebetulan belum terlalu tua. Pesantrennya cukup besar, ribuan santri yang belajar di pondok pesantrennya itu. Datang ke rumah kyai seringkali juga memerlukan kesabaran. Kadang harus menunggu lama, kyai tidak keluar ke ruang tamu. Tamu dibiarkan dukuk-duduk menunggu. Biasanya santri atau pembantunya, menyediakan kopi atau teh, dan hidangan ringan sambil menunggu kyai menemuinya. Saya sudah lama mengenal baik Kyai yang saya maksudkan dalam tulisan ini. Pada malam tertentu, tamu kyai sedemikian banyak. Mereka datang dari mana-mana sekedar ngobrol bersama kyai. Kadang tamu itu bermacam-macam latar belakang kehidupannya. Semua itu diterima oleh kyai. Di antara mereka ada pengusaha sukses, pejabat, orang biasa, petinju, seniman, pengangguran dan bahkan mungkin juga preman. Mereka datang ke kyai sekedar bincang-bincang tentang kehidupan. Suatu saat saya menanyakan kengapa kyai menjadi sabar menerima tamu-tamu itu. Dijawab sedemikian ringannya, bahwa mereka makhluk Allah yang memerlukan agar didengarkan suara hatinya, keluhan, dan persoalan-persoalannya. Saat sekarang ini, kata kyai suatu ketika, sudah sedemikian langka orang yang mau menerima orang-orang yang membutuhkan suaranya didengarkan. Banyak orang sudah sibuk dengan urusan mereka sendiri, tidak terkecuali adalah para tokoh atau pemimpin masyarakat. Mereka sadar jika orang lain itu penting, jika dirinya sudah menghadapi masalah. Dalam keadaan seperti itu, mereka datang ke kyai. Mereka sebatas datang, untuk mendengarkan beberapa orang berbincang-bincang secara leluasa. Kyai juga tahu bahwa tidak semua tamunya sudah menjadi santri yang baik, artinya menjalankan sholat, puasa, dan ibadah lain secara tertib. Semua tamu yang datang diterima, apapun keadaannya. Bagi kyai, mereka mau datang saja sudah beruntung, agar mendengarkan sendiri makna kehidupan itu dari perbincangan itu. Salah satu tamu yang rajin bersilaturrahmi ke kyai ini, yang kebetulan saya kenal baik, adalah pengusaha yang cukup sukses. Selain sebagai pengusaha batu bara, juga telah lama mengeksport ikan krapu ke Hongkong yang diambil dari kepulauan di sekitar Maluku. Atas usahanya itu, dia memiliki banyak pekerja. Dia hanya mamanage dari jauh, sudah dianggap tidak perlu lagi ia menangani sendiri secara langsung. Dalam berbagai perbincangan, pengusaha keturunan cina ini merasakan telah memperoleh kedamaian setelah berkenalan dan bersilaturrahmi dengan kyai . Tokoh agama ini dinilai olehnya mau mendengarkan keluhan dan juga memberikan berbagai solusi atas problem kehidupan lainnya dengan cara yang enak. Dia juga mengagumi kyai atas usahanya di bidang pendidikan, menampung anak orang tidak mampu, dan anak-anak yatim tanpa biaya. Pengusaha ini kemudian tidak mau ketinggalan, pada setiap bulan mengirim beras untuk memenuhi keperluan anak-anak yatim dan anak orang miskin ini. Anehnya, ia baru merasa puas jika setiap mengirim beras tersebut ditangani sendiri dan bahkan diangkatnya sendiri dari mobilnya ke tempat di mana beras itu harus diletakkan di pesantren. Dengan cara itu, dia mengaku merasa puas, karena telah berbuat sesuatu untuk pendidikan sekaligus membantu orang miskin. Selama bergabung dengan kyai, ia mengaku usahanya tidak pernah terganggu dan bahkan justru semakin berkembang. Selain itu, ia juga merasakan telah menemukan kehidupan yang sebenarnya. Ia merasakan kehidupan kyai yang damai, menerima siapa saja yang mau berkonsultasi. Pada suatu saat ketika saya bertemu, pengusaha keturunan Cina ini mengatakan bahwa sesungguhnya di tengah masyarakat pada saat ini sangat diperlukan kyai yang mau mengambil peran seperti itu. Tokoh agama ini menerima siapapun yang datang dari berbagai macam etnis, latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan bahkan juga dari beraneka afiliasi politik. Ia mengatakan, inilah kyai yang sesungguhnya benar-benar diperlukan, yaitu mau menerima siapapun yang ingin mendapatkan kedamaian hati bagi semua. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
