Saya merasakan sedemikian indahnya Islam ini. Keindahan itu, di antaranya, terasa di waktu subuh. Menjelang bangun dari tidur, di subuh itu, dari berbagai arah masjid, para muadzin menyeru dengan kalimat-kalimat indah. Mereka juga mengingatkan bahwa sholat lebih baik daripada tidur. Melihat langit bagian timur, selagi tidak terdapat awan tebal, tampak ke merah-merahan, sedemikian indahnya. Udara di waktu subuh juga menambah kenikmatan, terasa sejuk.
Bacaan ayat-ayat Al Qur’an dari berbagai arah, melalui pengeras suara terdengar sedemikian indah. Memang, sementara orang tidak menyukai suara itu, dianggap mengganggu. Namun sebaliknya, tidak sedikit orang, menganggap bahwa suara itu justru terasa sangat indah. Pagi buta itu, muadzin mengingatkan kepada semua orang dengan kalimat-kalimat mulia. Sehingga, sedemikian damai di saat subuh itu. Suara ayam jantan, di setiap subuh, juga bersaut-sautan, siapa saja dibangunkan. Binatanmg itu tidak pernah lupa menunaikan tugasnya, berkokok pada setiap subuh. Seolah-olah ayam-ayam itu tidak mau ketinggalan dengan para muadzin, membangunkan para pemiliknya, agar segera bangun, mengambil air wudhu, dan berangkat ke masjid memenuhi panggilan adzan. Secara universal, ayam di manapun, bahkan di belahan dunia ini, melakukan hal yang sama. Selain suara ayam, selanjutnya secara susul menyusul, suara adzan berkumandang dari berbagai arah, memanggil semua orang untuk menunaikan sholat subuh berjama’ah. Suara itu saling saut menyaut dari berbagai penjuru. Kota Malang, dan kiranya juga kota-kota lain di negeri ini, kaya tempat ibadah. Masjid, musholla, langgar, atau apa namanya, semua mengumandangkan suara adzan. Masjid atau musholla dianggap belum lengkap jika tidak dilengkapi dengan pengeras suara. Banyak masjid sudah dilengkapi dengan menara, tetapi juga masih membutuhkan pengeras suara. Memang ada saja pendapat yang mengatakan bahwa dengan pengeras suara itu, ada sebagian orang yang merasa terganggu. Tetapi rupanya siapapun bisa memahami, alat modern itu sangat efektif untuk mengingatkan kepada siapapun, bahwa waktu sholat telah tiba waktunya. Subuh itu terasa benar-benar indah dan nikmat. Sentuhan air pagi ke wajah di saat ambil air wudhu terasa nikmat luar biasa. Berwudhu, sekalipun bentuknya sebatas membasuk muka, menyiram kedua tangan, mengusap kepala, dan membasuh kaki, semua itu terasa nikmat. Ucapan taawudz dan basmallah untuk mengawali berwudhu mengingatkan pelakunya pada Dzat Yang Maha Besar dan suci ialah Allah swt. Seringkali saya membayangkan, umpama saja saya tidak mengenal ajaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, keindahan itu tidak pernah saya nikmati. Di pagi itu, saya akan meneruskan kegiatan saya, tidur hingga mata hari benar-benar bersinar, atau menjelang pergi ke kantor. Dengan mengenal ajaran Muhammad saw., maka saya berjama’ah di masjid, sehingga juga bisa menikmati keindahan alam di subuh itu. Bersama-sama dengan tetangga, saya ikut ambil bagian menghiasi lingkungan dengan bacaan tasbih, tahmid dan takbir, dan kalimat-kalimat mulia lainnya. Sebelum subuh datang, biasanya beberapa orang sudah hadir di masjid. Segera setelah masuk waktu sholat, di antara mereka mengumandangkan adzan. Tidak terkecuali, ibu-ibu yang sudah usia lanjut telah hadir, sholat sunnah qobla subuh, atau membaca dzikir, menyebut asma Allah. Di pagi itu, dengan sholat subuh berjama’ah, orang-orang di sekitar masjid sudah berjumpa antar sesama tetangga. Mereka semacam lapor, sebagai tanda bersyukur kepada Allah, bersama-sama menghadap kepada-Nya. Menjalani subuh seperti itu, pikiran, perasaan, dan bahkan juga jasmani menjadi sehat. Kaum muslimin yang pergi ke masjid, di pagi buta itu, sudah saling bersilaturrahmi. Laki-laki dan perempuan, mereka saling bertemu dan mengucapkan salam, saling mendo’akan agar keselamatan dan berkah Allah selalu tercurahkan. Dengan cara itu, pada diri kaum muslimin terbangun kesadaran tentang keberadaan dan posisi dirinya, dan yang lebih penting dari itu, adalah terhadap Tuhan yang telah mengaruniai kehidupan yang indah ini. Islam benar-benar menghiasi subuh dengan sangat indah. Suara adzan, puji-pujian, tasbih, tahmid, dan takbir, selalu menyempurnakan keindahan suasana pagi. Orang-orang di sekitar masjid sama-sama bertemu, sholat berjama’ah, menghadap pada Tuhan. Orang-orang ketika itu tidak bersuara, kecuali mengucapkan kalimat-kalimat mulia dan indah. Selanjutnya, segera sepulang dari masjid, mereka menunaikan tugasnya masing-masing, mencari rizki, bekerja di kantor, di pasar, di pabrik, mencari ilmu dan atau berkarya lainnya. Rasanya, kehidupan ini, menjadi benar-benar indah dan berkah, tatkala pagi itu diawali dengan sholat subuh berjama’ah. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
