Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Konflik Dan Korupsi

Akhir-akhir ini, selain korupsi, fenomena  konflik di negeri ini seolah hampir-hampir tidak pernah berhenti. Sebuah konflik reda disusul oleh konflik lainnya. Konflik  terjadi di hampir di semua lapisan. Telah terjadi konflik antar lembaga negara, konflik antar kelompok yang berbeda, konflik antar kepentingan, konflik antar warga desa dan  bahkan juga menyentuh wilayah agama yang berbeda.

  Konflik antar  lembaga negara terjadi antara KPK,  kepolisian dan kejaksaan beberapa waktu yang lalu, antara legislative dan  eksekutif terkait dengan kasus Bank Century, konflik antara Satpol PP dengan pengurus makam Mbah Priuk di Jakarta, antara Satpol PP dengan berbagai pedagang kaki lima di berbagai kota, konflik  polisi dan  mahasiswa di Makassar dan lain-lain.  Kasus  yang masih segar adalah konflik antara warga Ahmadiyah  dan  penduduk lainnya yang terjadi di Banten, Jawa Barat,  hingga menelan korban mati 3 orang dan sejumlah lainnya luka-luka. Kejadian yang terakhir ini masih dalam proses penyelesaian. Presiden sendiri hingga turun tangan, ikut ambil bagain,  mengeluarkan perintah mengusut tuntas dan  menyelesaikannya.  Sejumlah konflik  yang terjadi  secara berturut-turut tersebut tentu mendatangkan keprihatinan bagi  semua pihak. Konflik yang meluas, bukan saja terjadi di kalangan rakyat  biasa, sehingga tidak mudah menyelasaikannya. Umpama saja peristiwa itu  terjadi di kalangan orang-orang yang kurang berpendidikan,  maka segera kesimpulkan  bahwa masyarakat yang pendidikan rendah dalam  masyarakat majemuk akan mudah terjadi benturan atau konflik.   Kesimpulan tersebut segera terbantah oleh karena konflik sudah terjadi secara merata, mulai dari tingkat bawah hingga tingkat atas, yaitu mulai  dari mereka yang  berpendidikan paling rendah hingga yang paling tinggi. Para pejabat yang duduk di lembaga legislative maupun eksekutif adalah orang-orang pilihan, elite masyarakat, namun  masih  terlibat konflik.   Konflik akhirnya menjadi milik,  dan atau bisa terjadi di semua lapisan  masyarakat pada tingkat apapun. Fenomena ini amat bahaya dan memprihatinkan. Sebab dengan begitu tidak akan ada lagi pihak  yang mampu memberikan nasehat atau peringatan, bahwa betapa besar bahaya konflik  manakala tidak segera terselesaikan. Bahaya itu menjadi nyata, oleh karena semua orang terlibat dalam konflik. Bagaimana  mungkin seseorang dapat menasehati bahwa konflik itu adalah buruk, sementara yang bersangkuitan sedang dalam keadaan bermusuhan sendiri.   Kejadian yang sama sulitnya adalah menyangkut korupsi. Pemberantasan korupsi sudah sedemikian sulit, oleh karena di hampir semua lembaga, —–dengan berbagai kadarnya,  terdapat oknum yang  terlibat korupsi atau penyimpangan uang negara. Lembaga yang diharapkan bersih, seperti kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman,  ternyata justru menjadi sorotan tajam , karena kasus-kasus mafia yang lebih berbahaya.    Korupsi juga terjadi di lembaga eksekutif, legislative, BUMN dan lain-lain.  Tertangkapnya   para bupati, wali kota, gubernur, menteri atau mantan menteri, pimpinan  bank, DPR, pengusaha dan lain-lain di semua level dalam kasus korupsi menggambarkan bahwa, korupsi sebenarnya sudah dilakukan oleh semua orang.  Lebih mengejutkan lagi bahwa  dalam  KPK sendiri,  ——-sebagai institusi yang bertugas pokok memberantas korupsi, ternyata mantan pimpinannya sudah masuk penjara. Kasus  tersebut  menunjukkan dengan jelas bahwa persoalan itu sudah sedemikian akut.   Akhirnya  mereka  yang korupsi,   yang  menangkap koruptor, mengadili dan bahkan memasukkan dan  yang bertugas di penjara pun sudah melakukan hal yang sama, yaitu sama-sama melakukan kejahatan korupsi. Hal ini sama dengan fenomena konflik, bahwa semua  sudah terlibat dan mengalaminya. Diumpamakan  sebagai sebuah  wabah, maka penyakit tersebut sudah merambah pada  para pasien, dokter, perawat hingga semua petugas yang bekerja  di pelayanan kesehatan   itu. Mereka  sudah sakit semua.           Bagaimanapun,  bangsa ini  harus keluar dari bahaya  tersebut. Namun  hal  itu  tidak mudah dilakukan,  oleh karena penyakit tersebut sudah  terjadi di  semua bagian. Bahkan mungkin, karena sudah menjadi milik semua orang, maka  penyakit itu  tidak dirasakan lagi sebagai hal yang membahayakan, karena sudah menjadi kebiasaan. Sehari-hari banyak orang terlihat  konflik dan korup, sehingga hal itu dipandang  sebagai kehidupan  biasa. Inilah tantangan besar bangsa ini yang harus segera mendapatkan penyelesaian bersama. Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *