Kemarin (01/02/2011) sepulang dari kampus, saya langsung menghadiri undangan ke pesantren Riyadhul Jannah di Pacet, Mojokerto. Di pesantren itu berkumpul para kyai yang tergabung dalam Majelis Muwashollah bainal ulama., Mereka datang dari beberapa kota, seperti Solo, Kediri, Gresik, Pacitan, Probolinggo, Bandung, dan bahkan juga ada yang datang dari Lampung.
Pertemuan para kyai yang tergabung dalam forum dimaksud seringkali dilakukan, sebagai media komunikasi dan atau sillaturrahmi. Setiap pertemuan mereka berdiskusi atau halaqoh. Dalam kesempatan itu, saya mendapatkan pertanyaan, mengenai kunci keberhasilan dalam mengembangkan lembaga pendidikan. Dikatakan oleh salah seorang kyai yang hadir, bahwa ternyata tidak semua orang berhasil mengembangkan lembaga pendidikan dan termasuk juga dalam mengembangkan kewirausahaan. Oleh kyai tersebut, dikatakan bahwa saya termasuk salah seorang yang selalu berhasil dalam mengembangkan lembaga pendidikan. Ia melihat bahwa, tanpa perencanaan dan bahkan hitungan yang cermat, apa saja yang saya lakukan terhadap lembaga pendidikan selalu berkembang. Hal yang sama, —–katanya, dialami oleh Kyai Mahfudz dalam mengembangkan kewirausahaan. Disebutkan bahwa apa saja yang ditangani oleh Kyasi Mahfudz, dalam mengembangkan kewirausahaan selalu berhasil. Selama ini kyai Mahfudz telah mengembangkan berbagai usaha, seperti pertanian, toko-toko swalayan, rumah makan atau restoran di beberapa kota dan lain-lain, dan ternyata selalu berhasil maju. Menjawab pertanyaan itu, saya mengatakan bahwa usaha apapun agar berhasil, maka harus dilakukan dengan beberapa syarat, misalnya ikhlas, sabar, istiqomah dan tawakkal. Atas jawaban itu, salah seorang kyai menyanggah, bahwa jawaban itu kurang operasional. Kyai dimaksud mengatakan bahwa banyak orang ikhlas, sabar dan istiqomah, tetapi lembaga pendidikan yang dikembangkan tidak maju. Ia meminta untuk memberikan jawaban yang lebih spesifik dan jelas hingga dapat ditiru oleh yang lain. Saya merasakan, bahwa ternyata mengikuti halaqoh atau diskusi para kyai tidak mudah. Tatkala memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan harus memuaskan, dan tidak cukup dengan jawaban yang bersifat basa-basi atau apa adanya. Secara spontan, akhirnya saya perjelas jawaban saya, bahwa agar lembaga pendidikan menjadi berkembang, maka ada beberapa sikap yang harus dibangun oleh pimpinan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Pertama, pimpinan lembaga pendidikan harus menceburkan diri sepenuhnya pada tugas yang diamanahkan itu sepanjang waktu. Sehari-hari harus berpikir, bekerja, dan melakukan apa saja untuk kepentingan lembaga yang diurusnya. Pimpinan lembaga pendidikan tidak boleh bekerja hanya secara sambilan. Umpama sebagai seorang petani, maka harus mau bekerja, menceburkan diri ke lahan pertanian sepenuhnya. Petani tidak cukup hanya duduk-duduk di pematang dan apalagi hanya melihat-lihat tanamannya dari jauh. Demikian pula, lembaga pendidikan harus diurus dan dikembangkan sepenuh hati. Kedua, harus sanggup mencintai terhadap semua yang terlibat dalam lembaga pendidikan itu. Lembaga pendidikan selalu melibatkan banyak orang, mulai dari unsur pimpinan, para dosen, pegawai dan mahasiswa. Semua pihak harus dikembangkan dan mendapatkan perhatian yang cukup. Tugas ini tidak mudah. Mencintai terhadap orang yang menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, akan mudah. Namun, pimpinan harus juga sanggup mencintai terhadap orang-orang yang suka mengganggu atau menyimpang di lembaganya itu. Pekerjaan ini tidak mudah, tetapi harus juga ditunaikan sebaik-baiknya, agar penyimpangan dan atau sikap yang tidak produktif itu berubah menjadi baik. Ketiga, pimpinan lembaga pendidikan, dan atau pimpinan apa saja, harus berani mengambil resiko apapun. Seorang pimpinan tidak boleh hanya memilih untuk mengambil keputusan yang pasti atau tanpa resiko. Tanpa keberanian mengambil resiko, maka lembaga yang dipimpin tidak akan maju. Pimpinan harus berani memposisikan lembaga yang dipimpinnya di tengah-tengah perubahan yang penuh tantangan dan persaingan yang keras dan luas.Keempat, pimpinan lembaga pendidikan harus mengetahui target-target yang diinginkan, jalan yang harus dilalui untuk meraih tujuannya itu, dan mengenali halangan atau hambatan yang mungkin dihadapi serta tahu cara menghadapinya. Pemimpin lembaga pendidikan atau lembaga apa saja harus berbekal pengetahuan yang diperlukan. Pemimpin tidak cukup hanya bermodalkan semangat menjadi pemimpin, tanpa berbekal pengetahuan yang memadai. Kelima, pemimpin yang berhasil harus mau berkorban. Usaha apapun agar berhasil harus diikuti oleh kesediaan berkorban, dan demikian pula seorang pemimpin lembaga pendidikan. Tugas-tugas pemimpin selalu berbeda dengan tugas-tugas seorang pegawai. Seorang pegawai atau apalagi buruh merasa berhasil, manakala ia mendapatkan gaji yang cukup. Mental pegawai atau buruh seperti itu tidak boleh dimiliki oleh seorang pemimpin lembaga pendidikan. Salah satu tugas seorang pemimpin adalah menggerakkan orang. Biasanya orang mau bergerak sepenuhnya manakala diajak oleh pimpinan yang tulus dan ikhlas, yang dibuktikan dengan kesediaannya untuk berkorban. Sebenarnya, masih banyak lainnya lagi yang harus dimiliki sebagai bekal seorang pemimpin lembaga pendidikan agar berhasil. Namun, rupanya para kyai yang hadir dalam halaqoh terserbut, termasuk yang mengajukan pertanyaan sudah tampak merasa cukup. Saya berharap, apa yang saya sampaikan tersebut menjadi tambahan bekal untuk mengembangkan lembaga pendidikan di tempatnya masing-masing. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
