Ada saja sementara orang yang kurang mempedulikan terhadap makam, bahkan siapapun orang yang dimakamkan di tempat itu. Orang yang telah meninggal dunia dan sudah dimakamkan, maka dianggap selesai dan tidak memiliki makna apa-apa. Oleh karena itu seseorang boleh dimakamkan di mana saja, asalkan tidak mengganggu, baik keindahan maupun kesehatan.
Namun diakui atau tidak, ada pandangan sebaliknya. Bahwa makam harus dirawat, dihormati dan bahkan diziarahi pada setiap saat. Makam orang-orang yang dianggap penting dan dimuliakan, biasanya dipelihara, dihormati, dan dizikarahi oleh banyak orang. Beraneka ragam cara memperlakukan makam seseorang, tergantung pada kepercayaan dan keyakinan masyarakat yang bersangkutan. Orang-orang Syiáh, di Iran pada umumnya sangat menghormati makam para ulama dan atau orang-orang yang dianggap mulia sebagai pemimpinnya. Makam Fathimah Az Zahra di Qum, Imam Ali Ridha di Masyhad, dan makam Ayatullah Imam Khumaini di Teheran, pada setiap hari dikunjungi oleh puluhan dan bahkan ratusan ribu orang. Oleh karena banyaknya peziarah, maka sebatas untuk melihat bangunan makam itu menjadi kesulitan.Peziarah dengan jumlah yang banyak juga terjadi di makam para Nabi. Saya pernah berziarah ke makam Nabi Hud di Yaman. Sekalipun tempat itu terpencil, ——jauh dari pemukiman penduduk, akan tetapi di sekeliling makam itu terdapat banyak sekali bangunan-bangunan yang diperuntukkan penginapan bagi peziarah yang datang dari tempat yang jauh, pada bulan-bulan tertentu. Makam Nabi Muhammad yang berdampingan dengan makam Abu Bakar dan Umar bin Khotob, pada setiap hari selalu dijubeli oleh para peziarah. Para jamaáh haji dan umrah, selalu menyempurnakan ibadahnya dengan berziarah ke tempat suci itu.Di tempat-tempat lainnya, makam orang-orang yang dianggap mulia juga sedemikian dihormati dan banyak dikunjungi oleh para peziarah. Makam Syekh Abdul Qadir al Jailani, seorang yang dikenal sebagai sulthonul auliya’ berada di tengah kota Baghdad, makam Abas cucu Rasulullah di Karbala, makam Husein di Masir, Ali bin Abi Tholib di Iraq, yang semua itu pernah saya kunjungi, selalu ramai dikunjungi para peziarah.Para peziarah memanjatkan doa, atau membaca al Qurán di makam itu. Sudah barang tentu masing-masing peziarah, akan mendapatkan pengalaman batin sendiri-sendiri. Pada saat seseorang berziarah ke makam tertentu, maka akan mengingat kembali kehidupan orang yang dimakamkan di tempat itu. Tatkala mengunjungi makam Nabi Muhammad saw misalnya, saya membayangkan kehidupan yang sedemikian indah, yaitu kehidupan yang diliputi oleh suasana keimanan, ketaqwaan, amal shaleh, dan akhlakul karimah. Pada saat mendekat makam Rasulullah, dalam hati saya terbayang tentang kehidupan seorang yang sangat mulia, seorang yang menjadi utusan Tuhan, dan sangat dekat dengan-Nya. Selain itu juga tergambar kehidupan seorang yang sedemikian indah akhlaknya, yang sehari-hari mempedulikan orang lain, menyayangi semua orang dan apalagi yang miskin dan lemah, mengajak kepada semua saja untuk berbuat baik dan meninggalkan hal yang tidak perlu dilakukan. Oleh karena itu sepulang dari berziarah, seseorang akan merasakan, menjadi bagaikan sebuah baterai atau accu yang telah selesai diisi kembali. Dari kegiatan berziarah akan muncul semangat atau kekuatan baru, terutama terkait dengan jiwa atau semangat keberagamaan. Maka menjadi mudah dipahami, bahwa Islam tidak melarang berziarah kubur, bahkan dianjurkan atau disunnahkan, karena banyak manfaat spiritual yang diperoleh dari kegiatan itu. Di Indonesia juga terdapat makam para ulama terdahulu yang selalu diziarahi oleh kaum muslimin dari berbagai tempat, yang dikenal dengan makam wali songo. Tradisi berziarah ternyata semakin lama justru semakin ramai. Sarana transportasi yang semakin murah dan mudah didapat maka peziarah semakin bertambah jumlahnya. Kita lihat pada hari-hari tertentu, di sepanjang waktu makam para wali songo tidak pernah sepi dari peziarah. Kegiatan itu hingga memunculkan wacana baru, disebut sebagai wisata spiritual.Penghormatan terhadap makam ternyata tidak saja terjadi di kalangan masyarakat beragama. Saya melihat di Kremlin, Moskow, para tokoh komunis, seperti Stalin, Lenin, dan lain-lain dimakamkan di tempat itu. Saya tidak terlalu mengerti, apa maksud banyak orang datang ke tempat itu, apakah sekedar berekreasi atau lainnya. Akan tetapi dari bangunan makam yang dibuat besar, luas, dan berwibawa menjadi petunjuk bahwa orang yang mengaku tidak beragama pun ternyata masih menghormati para pahlawan atau leluhurnya. Memang dari keadaan makam itu, orang-orang yang datang akan mendapatkan pelajaran hidup yang berharga.Masih terkait dengan makam, kita juga selalu melihat bahwa pemerintah di berbagai kota juga membangun taman makam pahlawan. Orang-orang yang dianggap telah berjasa dalam hidupnya, dalam berjuang dan berkorban untuk rakyat, maka tatkala meninggal, diistimewakan dengan cara dimakamkan di taman makam pahlawan. Namun akhir-akhir ini, tidak sedikit tempat itu yang mulai terdesak oleh bangunan mall, petokoan, kantor, dan seterusnya. Padahal tempat itu seharusnya tetap dimuliakan sebagai bagian dari cara menghormati dan sekaligus mengambil tauladan dari orang-orang yang telah berjasa yang dimakamkan di tempat itu. Wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
