Pekerjaan paling berat terkait dengan pendidikan adalah membikin anak menjadi jujur. Sampai hari ini belum banyak ditemukan teori tentang itu. Padahal yang diperlukan sekarang ini adalah kejujuran itu. Memintarkan anak didik bagi siapapun merasa sulit, akan tetapi yang lebih sulit lagi ternyata adalah meningkatkan kejujuran anak.
Kesulitan menanamkan kejujuran itu itu sebenarnya telah disadari oleh semua pihak. Pejabat yang menangani pendidikan, para kepala sekolah, guru dan siapapun mengetahui bahwa kejujuran sudah semakin langka. Bukan saja murid yang masih harus dididik menjadi jujur, tetapi guru, bahkan pejabat yang bertanggung jawab terhadap pendidikan, hingga kepala sekolah pun dalam hal-hal tertentu masih belum bisa dipercaya kejujurannya. Pelaksanaan ujian nasional hingga melibatklan pengawasan dari perguruan tinggi, dan bahkan harus menggunakan jasa polisi untuk mengamankan naskah soal, semua itu mengambarkan bahwa para pejabat dan pengemban profesi pendidik sudah tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Maka bisa dibayangkan, jika guru saja tidak sepenuhnya bisa dipercaya, lalu siapa lagi sebenarnya person-person yang mampu berbuat jujur di alam modern seperti sekarang ini. Sudah terbukti, bahwa biaya kegiatan apa saja akan menjadi sangat mahal disebabkan oleh karena banyak orang yang tidak jujur. Sebagai contoh sederhana, ujian nasional dengan melibatkan para dosen perguruan tinggi dan juga polisi, maka anggaran untuk pengawasan itu tidak sedikit. Milyaran rupiah harus dibayar oleh pemerintah untuk menambah biaya pengawasan itu. Bahkan yang lebih mahal lagi dari sekedar uang adalah citra berbagai lembaga yang terkait dengan pendidikan itu sendiri.Selain itu, orang akan mengatakan, bagaimana akan berhasil mendidik para siswa menjadi jujur, sementara para pendidik dan pejabatnya sendiri masih diragukan kejujurannya. Gurunya sendiri sudah tidak sepenuhnya dipercaya, apalagi produk-produk kerjanya. Rendahnya kepercayaan terhadap para kepala sekolah dan guru juga tidak tanpa sebab. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, bahwa ujian nasional ditengarai banyak dimanipulasi. Itulah kemudian kepercayaan itu akhirnya dicabut. Akan tetapi, apakah dengan begitu akan menyelesaikan masalah. Tentu jawabannya tidak. Untuk mengembalikan kepercayaan terhadap lembaga pendidikan, maka harus dimulai dari kepala sekolah dan gurunya terlebih dahulu. Kepala sekolah dan guru harus dibangun in tegritasnya hingga bisa dipercaya. Persoalannya adalah bagaimana menjadikan para pelaku pendidikan itu bisa dipercaya. Apakah harus dilakukan melalui pendidikan, indoktrinasi, penataramn dan seterusnya, makla jawabnya tentu tidak. Kejujuran tidak bisa dibangun lewat cermaha, penataran atau indoktrinasi, melainkan di antaranya adalah lewat pemberian kepercayaan itu sendiri. Artinya, harus lewat saling mempercayai. Dari hasil pengamatan panjang dan perenungan yang mendalam, sementara ini saya justru mendapatkan kesimpulan bahwa semakin seseorang tidak dipercaya, maka justru tidak akan menjaga kepercayaannya itu. Mereka akan berdalih dengan mengatakan, untuk apa berbuat jujur, jika dengan kejujurannya itu tetap tidak dipercaya. Oleh karena itu, jika tesis ini benar, maka yang membikin para kepala sekolah dan guru menjadi tidak dipercaya, oleh karena lingkungan, ——dalam hal ini pejabat atasannya, tidaki mempercayainya. Pintu lain agar orang menjadi jujur bisa didekati dengan peraturan. Namun lagi-lagi peraturan seperti apapun, jika seseorang mau menyimpang atau melakukan hal yang tidak jujur, maka bisa saja dicari strategi penyimpangan itu. Manusia adalah makhluk kreatif, maka kreatifitasnya bisa jadi, disalurkan pada kegiatan yang tidak benar, yakni di antaranya mensiasati berbagai peraturan yang ada. Bahkan banyak terjadi, orang yang tidak berpendidikan pun ternyata bisa mensiasati peraturan apapun ketatnya. Oleh karena itu membuat anak-anak menjadi jujur tidak mudah, namun demikian apapun harus bisa dilakukan. Menanamkan kejujuran harus dengan pendekatan ketauladanan, menumbuhkan rasa malu tatkala disebut tidak jujur, pemberian penghargaan, dan juga dengan hukuman. Seseorang akan jujur manakala yang bersangkutan tahu bahwa semua orang dalam lingkungannya telah berbuat jujur. Seseorang biasanya tidak mau berbuat salah sendirian, karena akan malu kalau dianggap berperilaku berbeda. Dan juga sebaliknya seseorang tidak akan mau berbuat jujur sendiri, sementara lainnya tidak jujur. Selain itu, seseorang menjadi jujur oleh karena lingkungannya mengakui bahwasanya ia selama ini berbuat jujur. Dia akan takut derajatnya jatuh dengan disebut tidak jujur lagi. Oleh karena itu, maka memberikan kepercayaan kepada seseorang pada hakekatnya bermakna menjadikan seseorang berbuat jujur. Oleh karena itu, membangun kejujuran harus dengan pendekatan positif, yakni pemberian citra positif terhadap seseorang dan sebaliknya harus dikurangi cara-cara negative, yakni dengan terlalu memberikan pengawasan yang berlebihan. Pengawasan memang perlu, tetapi jika sampai membelenggu dan menimbulkan rasa khawatir atau was-was, maka pengawasan itu justru tidak produktif lagi.Apa yang diungkap di atas sebenarnya adalah baru dari hasil pengamatan selintas. Kebenarannya masih perlu diuji dengan data yang cukup dan akurat. Tetapi, sepintas kita bisa lihat, bahwa penyimpangan dalam pengertian ketidak-jujuran, justru banyak terjadi di tempat-tempat yang pengawasannya lebih ketat. Kita sering mendengar, di lingkungan instansi pemerintah, termasuk kepolisian, kejaksaan, dan di tempat lain yang pengawasannya lebih ketat, ternyata justru banyak terjadi kebocoran dan penyimpangan. Oleh karena itu mendidik anak menjadi jujur, caranya adalah latihlah dan biasakan mereka diberi kepercayaan. Mereka akan menjaga kepercayaan yang diberikan itu sebaik-baiknya, wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
