Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Tatkala Idiologi Negara Melemah

Setiap komunitas selalu memerlukan idiologi, dan apalagi komunitas  besar seperti sebuah  negara. Idiologi  berfungsi, selain sebagai gambaran terhadap cita-cita bersama yang sedang dan akan diperjuangkan, sekaligus juga  penting sebagai  kekuatan pemersatu. Idiologi juga sebagai identitas, oleh karena itu biasanya dibela dan dibanggakan.

Bangsa Indonesia sebenarnya telah memiliki idiologi yang jelas, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Idiologi  yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini telah lama berhasil mempersatukan bangsa Indonesia. Bangsa yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, agama dan adat istiadat  berhasil disatukan dengan    idiologi  dan  berbagai lambang, seperti bendera merah putih, lagu kebangsaan, bahasa nasional,  dan  beberapa lagi lainnya.Sebagai sebuah Idiologi, maka   harus selalu dipelihara secara terus menerus dengan jalan diucapkan, dirasionalkan,  dijelaskan, diindoktrinasikan, dan dibuktikan dalam perilaku terutama oleh para pemimpinnya. Dengan cara itu maka siapa saja yang tergabung dalam komunitas itu akan memahami, mempercayai,  dan  akhirnya berusaha untuk mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Para pemimpin tidak boleh berhenti mensosialisasikannya, bahkan kegiatan itu  seolah-olah harus menjadi bagian dari ritualnya sehari-hari. Akhir-akhir ini terasa sekali, idiologi bangsa melemah. Sudah tidak banyak , —-atau paling tidak semakin kurang para pemimpin bangsa yang menyebut pancasila, UUD 1945 dan lain-lain. Bahkan yang justru terjadi adalah berwacana tentang mengamandemennya.  Beberapa kali UUD 1945 disuarakan untuk diamandemen, dan nyata hal itu  benar-b enar dilakukan. Idiologi yang seharusnya dipelihara, disosialisasikan, dan dipedomani secara terus menerus, justru dikoreksi  dan  direvisi kembali. Melemahnya idiologi  tersebut  dibarengi oleh soliditas kepemimpinan bangsa agak  terganggu. Terjadinya konflik terbuka  antar lembaga tinggi negara, misalnya antara presiden dengan DPR, kejaksanaan, kepolisian, dan lain-lain,  bahkan dengan KPK secara berkepanjangan,  sehingga  membuka peluang bagi kelompok-kelompok tertentu   memunculkan idiologi yang sudah lama terpendam. Persoalan itu masih diperparah lagi oleh proses demokratisasi yang kehilangan arah, hingga mengakibatkan kecintaan rakyat terhadap para pemimpinnya menjadi terganggu. Hal lainnya  lagi yang tidak menguntungkan  adalah  lewat pengadilan ditemukannya kasus-kasus korupsi, kolusi,  dan nepotisme yang dilakukan oleh  para pejabat, baik yang berada di lembaga eksekutif, legislative,  maupun  yudikatif. Semua itu menjadikan kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya menjadi runtuh. Para pemimpin bangsa  yang seharusnya menjadi acuan dalam berperilaku, sebagai  kebanggaan dan sosok pribadi yang dicintai dan dihormati menjadi runtuh. Mereka bahkan diprotes, didemo,  dan dicaci maki,  dianggap tidak menjalankan amanah sebagaimana mestinya. Keadaan seperti itu, selain mengakibatkan keperecayaan rakyat menjadi terganggu, hal yang membahayakan lagi,  adalah akan muncul idiologi baru. Mereka menganggap bahwa idiologi yang selama ini dikembangkan sudah tidak mampu lagi menjadi kekuatan penggerak, pemersatu dan pemberi arah  terhadap cita-cita bersama.  Munculnya gerakan NII misalnya, adalah sebagai akibat dari melemahnya idiologi besar bangsa Indonesia yang seharusnya selalu digelorakan itu. Oleh karena itu, untuk mencegah lahirnya idiologi baru yang tidak disukai itu,   maka cara yang tepat adalah berusaha memperkokoh kembali idiologi bangsa yang secara nyata telah lama terbukti berhasil menyatukan yang  bhineka itu. Idiologi bangsa jika bangsa itu ingin tetap bertahan tidak boleh melemah. Para pemimpinnya harus selalu menggelorakannya. Bahkan ritual untuk mengingatkan dan  sekaligus menumbuhkan suasana cinta terhadap bangsa dan tanah air harus dilakukan tanpa henti. Apa yang disebut dengan ritual itu misalnya upacara bendera, menyanyikan lagu kebangsaan,  dan bahkan memasang gambar presiden dan wakil presiden  di tempat-tempat yang semestinya. Dengan cara itu, maka idiologi besar akan terpelihara dan sekaligus menghindari lahirnya idiologi tandingan,——sekelopok kecil,  yaitu  semacam NII yang akhir-akhir ini meresahkan banyak kalangan. Melemahnya idiologi bangsa di mana-mana  beresiko melahirkan  idiologi tandingan yang akan mengganggu persatuan.  Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *