Setiap komunitas selalu memerlukan idiologi, dan apalagi komunitas besar seperti sebuah negara. Idiologi berfungsi, selain sebagai gambaran terhadap cita-cita bersama yang sedang dan akan diperjuangkan, sekaligus juga penting sebagai kekuatan pemersatu. Idiologi juga sebagai identitas, oleh karena itu biasanya dibela dan dibanggakan.
Bangsa Indonesia sebenarnya telah memiliki idiologi yang jelas, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Idiologi yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini telah lama berhasil mempersatukan bangsa Indonesia. Bangsa yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, agama dan adat istiadat berhasil disatukan dengan idiologi dan berbagai lambang, seperti bendera merah putih, lagu kebangsaan, bahasa nasional, dan beberapa lagi lainnya.Sebagai sebuah Idiologi, maka harus selalu dipelihara secara terus menerus dengan jalan diucapkan, dirasionalkan, dijelaskan, diindoktrinasikan, dan dibuktikan dalam perilaku terutama oleh para pemimpinnya. Dengan cara itu maka siapa saja yang tergabung dalam komunitas itu akan memahami, mempercayai, dan akhirnya berusaha untuk mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Para pemimpin tidak boleh berhenti mensosialisasikannya, bahkan kegiatan itu seolah-olah harus menjadi bagian dari ritualnya sehari-hari. Akhir-akhir ini terasa sekali, idiologi bangsa melemah. Sudah tidak banyak , —-atau paling tidak semakin kurang para pemimpin bangsa yang menyebut pancasila, UUD 1945 dan lain-lain. Bahkan yang justru terjadi adalah berwacana tentang mengamandemennya. Beberapa kali UUD 1945 disuarakan untuk diamandemen, dan nyata hal itu benar-b enar dilakukan. Idiologi yang seharusnya dipelihara, disosialisasikan, dan dipedomani secara terus menerus, justru dikoreksi dan direvisi kembali. Melemahnya idiologi tersebut dibarengi oleh soliditas kepemimpinan bangsa agak terganggu. Terjadinya konflik terbuka antar lembaga tinggi negara, misalnya antara presiden dengan DPR, kejaksanaan, kepolisian, dan lain-lain, bahkan dengan KPK secara berkepanjangan, sehingga membuka peluang bagi kelompok-kelompok tertentu memunculkan idiologi yang sudah lama terpendam. Persoalan itu masih diperparah lagi oleh proses demokratisasi yang kehilangan arah, hingga mengakibatkan kecintaan rakyat terhadap para pemimpinnya menjadi terganggu. Hal lainnya lagi yang tidak menguntungkan adalah lewat pengadilan ditemukannya kasus-kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakukan oleh para pejabat, baik yang berada di lembaga eksekutif, legislative, maupun yudikatif. Semua itu menjadikan kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya menjadi runtuh. Para pemimpin bangsa yang seharusnya menjadi acuan dalam berperilaku, sebagai kebanggaan dan sosok pribadi yang dicintai dan dihormati menjadi runtuh. Mereka bahkan diprotes, didemo, dan dicaci maki, dianggap tidak menjalankan amanah sebagaimana mestinya. Keadaan seperti itu, selain mengakibatkan keperecayaan rakyat menjadi terganggu, hal yang membahayakan lagi, adalah akan muncul idiologi baru. Mereka menganggap bahwa idiologi yang selama ini dikembangkan sudah tidak mampu lagi menjadi kekuatan penggerak, pemersatu dan pemberi arah terhadap cita-cita bersama. Munculnya gerakan NII misalnya, adalah sebagai akibat dari melemahnya idiologi besar bangsa Indonesia yang seharusnya selalu digelorakan itu. Oleh karena itu, untuk mencegah lahirnya idiologi baru yang tidak disukai itu, maka cara yang tepat adalah berusaha memperkokoh kembali idiologi bangsa yang secara nyata telah lama terbukti berhasil menyatukan yang bhineka itu. Idiologi bangsa jika bangsa itu ingin tetap bertahan tidak boleh melemah. Para pemimpinnya harus selalu menggelorakannya. Bahkan ritual untuk mengingatkan dan sekaligus menumbuhkan suasana cinta terhadap bangsa dan tanah air harus dilakukan tanpa henti. Apa yang disebut dengan ritual itu misalnya upacara bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, dan bahkan memasang gambar presiden dan wakil presiden di tempat-tempat yang semestinya. Dengan cara itu, maka idiologi besar akan terpelihara dan sekaligus menghindari lahirnya idiologi tandingan,——sekelopok kecil, yaitu semacam NII yang akhir-akhir ini meresahkan banyak kalangan. Melemahnya idiologi bangsa di mana-mana beresiko melahirkan idiologi tandingan yang akan mengganggu persatuan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
