Thursday, 9 July 2026
above article banner area

Manajemen Lillahi Taála

Seringkali saya mendengarkan ungkapan, bahwa dalam menyelesaikan sesuatru agar hasilnya maksimal, maka jangan menggunakan manajemen lillahi taála.  Manajemen  lillahi taála  yang dimaksudkan itu adalah cara kerja sederhana, menggunakan sarana apa adanya, tidak teratur, tidak memiliki target,  dikerjakan sembarang waktu, dan akhirnya hasilnya tidak maksimal.

 Ungkapan itu muncul, dan tentu sudah digunakan oleh bayak orang. Mungkin pada awalnya penggunakan kata itu tidak disengaja. Disebut lillah taála karena pekerjaan itu tidak diberi imbalan atau upah yang cukup. Namun, harus diikerjakan dengan ikhlas hanya karena Allah, atau disebut lillahi taála.  Padahal sebenarnya, pekerjaan apa saja yang dilakukan dengan lillahi taála, harus dijalannya dengan cara yang terbaik. Islam mengajarkan semua pekerjaan diawali dengan basmallah, dilakukan tepat waktu, amanah, ikhsan dan istiqomah. Bahwa tawakkal atau berserah diri pada Allah, dilakukan setelah semuanya dikerjakan secara sempurna.  Umat Islam tatkala melakukan sesuatu  harus memulai dengan mengucap basmallah, dan diniati dengan ikhlas, yaitu dilakukan hanya untuk Allah. Kalimat basmallah diucapkan untuk mengingatkan bahwa apa yang akan dilakukan adalah dipersembahkan  pada Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Dzat Yang Mulia, maka seharusnya dilakukan dengan cara terbaik.  Sebaliknya, manakala motivasi kerja itu hanya didasari oleh upah, ——yang belum tentu banyak jumlahnya, bisa jadi dikerjakan dengan cara apa adanya, disesuaikan dengan upah itu. Oleh karena itu,  justru suatu pekerjaan yang  didasari oleh niat atau manajemen lillahi taála, maka  harus dilakukan dengan cara yang terbaik.  Mengingat Tuhan tatkala memulai kerja dengan menyebut basmallah, mestinya berhasil menyadarkan dan memotivasi bahwa pekerjaan itu harus dilakukan dengan cara terbaik, dikerjakan bukan karena terpaksa, tetapi sebaliknya, harus dilakukan dengan penuh kasih sayang. Hal demikian karena pekerjaan itu  dipersembahkan untuk Dzat Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang.  Kaum muslimin diajarkan tentang konsep ikhsan, atau pilihan terbaik. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan oleh berbagai pilihan. Maka umat Islam dianjurkan untuk memilih pilihan yang terbaik. Itulah konsep ikhsan. Tidak selayaknya, seorang muslim memilih sesuatu secara sembarangan, atau menerima apa adanya. Ber-Islam, maka artinya adalah tatkala menghadapi  pilihan, maka harus memilih pilihan yang terbaik atas dasar keyakinan dan pertimbangan  keselamatan.Selain itu, Allah telah memberikan contoh, bahwa  semua ciptaan-Nya  diperlihatkan dalam  keadaan sangat sempurna dan dahsyat. Kita lihat jagad raya ini, misalnya pergantian antara siang dan malam, penciptaan bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang sedemikian indah, teratur dan sempurna. Manusia mestinya menirunya. Keindahan itu, —–dalam cntoh sederhana, bagaimana warna-warni pepohonan yang masih alami, tampak selalu serasi antara warna batang, dahan,  dan daun, semua selalu tampak  indah dan menarik.   Contoh keindahan lain yang paling dekat, yaitu diri manusia sendiri. Tubuh manusia menunjukkan keindahan yang luar biasa. Semua diciptakan dalam keadaan sempurna. Kiranya tidak ada seorang pun sepanjang hidupnya  berhasil memahami secara sempurna tentang dirinya sendikri. Orang tidak akan tahu, bagaimana cara kerja saraf-saraf yang lembut, hingga melahirkan gerakan-gerakan reflek. Misalnya, mengapa pada diri seseorang tiba-tiba muncul perasaan was-was dalam perjalanan, ternyata setelah diperiksa lebih teliti ada sesuatu  yang tertinggal.  Artinya Tuhan telah memberikan contoh cara bekerja secara sempurna. Oleh karena itu, semestinya siapapun  tatkala memulai bekerja dengan mengucapkan basmallah, maka dalam kesadarannnya akan melakukan yang terbaik sebagaimana Tuhan memberikan contoh-contoh yang sedemikian baik dan sempurna itu. Oleh karena itu menjadi sangat aneh kalau dengan istilah manajemen lillahi ta’ala kemudian diartikan bahwa pekerjaan itu boleh dijalankan seenaknya, dan tidak memperhatikan kualitas hasilnya. Oleh karena itu, ungkapan lillahi ta’ala dengan konotasi semaunya, sederhana dan tanpa menghiraukan kualitas adalah keliru. Justru manajemen lillahi ta’ala, oleh karena dipersembahkan kepada Dzat Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mulia, Yang Maha sempurna, maka harus dilakukan dengan cara terbaik dan sesempurna mungkin. Maka mangurus kampus dengan manajemen lillahi ta’ala, maka artinya harus dilakukan dengan cara yang terbaik. Membuat pernyataan yang tidak semestinya, seharusnya dihindari, apalagi hal itu terkait dengan ajaran yang dianggap mulia.  Konsep-konsep Islam yang sedemikian agung tidak boleh digunakan untuk main-main sembarangan.  Apapun yang terkait dengan ajaran  luhur, tidak selayaknya dipelesetkan, hingga berkonotasi rendah. Boleh-boleh saja seseorang bergurau untuk menghilangkan rasa penat, akan tetapi seharusnya tidak menggunakan kalimat yang bisa mengubah arti sebenarnya. Kemuliaan ajaran Islam harus dijaga oleh siapa saja yang mengimani dan mencintai-Nya. Wallahu a’lam.   

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *