Mengubah masyarakat ternyata tidak mudah. Bangsa Indonesia ini sejak lama ingin mengubah diri, menjadi maju. Perubahan itu memang telah terjadi, tetapi tidak merata secara kseluruhan dan juga tidak selalu cepat. Apalagi perubahan yang dimaksudkan itu menyangkut perilaku, watak atau karakternya.
Al Qurán ternyata memberikan petunjuk, bagaimana melakukan perubahan pada tingkat yang mendasar ini. Petunjuk itu sedemikian komprehensif dan mendalam. Dan hal itu sebenarnya telah dilakukan oleh Rasulullah sejak diangkat menjadi Rasul, dan akhirnya diteruskan dari generasi ke genarasi. Sedemikian tangguh konsep perubahan itu, hingga api atau semangat yang dihasilkan tidak pernah padam dan bahkan selalu menyala dan membakar jiwa atau semangat hati ummat hingga pada saat ini. Melalui perenungan yang mendalam dari membuka-buka sejarah turunnya al Qurán, saya mendapatkan rumusan tahap-tahap perubahan itu adalah sebagai berikut. Perama, perubahan itu harus dimulai dari proses membaca. Oleh karena itulah maka ayat pertama yang diturunkan oleh Allah adalah perintah membaca, atau qiroáh. Membaca atau beriqra’ terhadap lingkungan yang luas, lengkap dan mendalam akan melahirkan kesadaran. Kegiatan membaca secara saksama, oleh siapapaun dan, ——— apalagi bagi orang-orang yang cerdas, akan menghasilkan pengertian, pemahaman, wawasan yang luas dan lengkap. Orang yang tahu atau mengerti akan berbeda dengan orang yang tidak tahu atau tidak mengerti. Al Qurán juga mengatakan begitu. Betapa pentingnya kegiatan membaca harus dilakukan oleh setiap orang, karena rupanya membaca adalah merupakan pintu dan bahkan kunci utama dari semua keberhasilan hidup ini. Kedua, adalah penyadaran. Orang yang memiliki kesadaran penuh terhadap diri, alam, dan juga Tuhannya, akan melakukan gerakan perjuangan. Oleh karena itu, al Qurán menyeru kepada orang-orang dengan sebutan berselimut. Berselimut menggambarkan orang yang pasif, tidak bergerak dan bahkan juga terbelenggu, yaitu terbelenggu oleh selimutnya itu. Seruan itu membangkitkan orang-orang yang terbelenggu agar bangkit dan bergerak setelah melakukan bacaan yang saksama. Hal itu bisa ditangkap bahwa sedemikian penting kesadaran itu terbangun pada diri setiap orang. Kesadaran itu akan tumbuh dan berkembang, jika aktivitas membaca dimotivasi untuk memahami ciptaan Allah. Kegiatan membaca tentu beraneka ragam motifnya. Membaca hingga melahirkan gerakan berupa amal shaleh dan perubahan adalah membaca yang didasari oleh semangat ibadah, yaitu pengabdian kepada Allah. Fase ketiga, adalah kebangkitan. Dalam al Qurán terdapat perintah qiyam atau bangkit dan perintah itu segera disusul dengan perintah selanjutnya, yaitu memberi peringatan. Kebangkitan berhasil melahirkan gerakan peradaban, manakala dilakukan oleh orang-orang yang bersih, yaitu bersih hatinya, pikirannya, jiwanya dan juga semua anggota badannya. Oleh karena itu, fase selanjutnya, atau keempat, adalah perintah melakukan penyucian diri. Menjaga kesucian itu penting, sehingga dalam al Qurán perintah itu dinyatakan secara jelas, dengan kalimat watsiyabaka fathohhir, atau maka pakaianmu bersihkanlah. Perubahan hingga berhasil dilakukan jika syarat penting tersebut dipenuhi, yaitu ada kesediaan melakukan kegiatan bersuci, yaitu bersuci secara menyeluruh mulai dari yang tampak hingga yang tidak mungkin diketahui, yaitu pada wilayah qolb atau hati. Para pelaku perubahan harus berhati bersih. Orang yang terlibat dalam perubahan peradaban, namun tidak mampu menghilangkan aspek-aspek subyektifitas dan bahkan berpikiran jangka pendek, maka perubahan peradaban itu tidak akan berhasil diraih. Pada umumnya titik lemah dalam membangun peradaban unggul, hingga mengalami kegagalan, adalah disebabkan oleh ketidak-mampuan dalam bersuci ini. Dalam al Qurán disebutkan warrujza fahjur, wala tamnun tastaktsir. Ayat al Qurán itu jika diterjemahkan secara bebas menjadi hindarilah angkara murka dan jangan bersikap subyektif, berharap untuk mendapatkan sesuatu secara berlebihan. Rupanya, hambatan dalam melakukan perubahan menuju peradaban yang mulia dan unggul, adalah adanya orang-orang yang tidak mampu menahan diri, berbuat aniaya, dan orang-orang yang selalu bersifat subyektif, yaitu mengharap keuntungan diri sendiri yang berlebih. Mengkaji secara mendalam ayat-ayat al Qurán yang turun pada fase-fase awal, maka akan mendapatkan petunjuk, bagaimana perubahan sosial menuju peradaban mulia dan unggul itu bisa dijalankan. Saya tidak bermaksud menafsirkan rangkaian ayat-ayat al Qurán tersebut, tetapi dengan berulang-ulang membacanya, saya mendapatkan pengertian yang sedemikian jelas, komprehensif dan indah. Bahwa perubahan itu selalu dimulai dari proses membaca. Kegiatan membaca yang cukup akan melahirkan kesadaran. Selanjutnya kesadaran itu akan mendorong untuk bangkit. Kekuatan berbangkit akan melahirkan perjuangan. Hanya saja perjuangan itu akan berhasil manakala diikuti oleh kesediaan untuk mensucikan diri, yaitu suci dari perbuatan angkara murka dan sifat-sifat subyektif yang merusak. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
