Ada konsep hidup dalam Islam yang sedemikian indah, agar kita tidak terlalu kecewa tatkala menghadapi kegagalan, yaitu tawakkal. Konsep ini seharusnya dimaknai sebagai sikap menyerahkan segala keputusan akhir pada Allah. Manusia hanya sebatas berusaha untuk meraih sesuatu, sedangkan hasilnya, tentu selalu berada di tangan Tuhan. Maka itulah sebabnya, setiap usaha selalu diikuti oleh doa, memohon campur tangan-Nya. Sikap yang rasanya kurang tepat adalah, bahwa sebelum berusaha sudah bertawakkal. Menyerahkan saja seluruh ketentuan pada Allah. Apa saja dalam hidup diserahkan pada-Nya. Tidak mau usaha, dengan alasan semua akan tergantung pada Allah. Jika sikap seperti ini yang dikembangkan, maka hal yang harus dipertanyakan adalah, di mana posisi akal, semangat beriman dan beramal sholeh, perintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, perintah berjuang, dan seterusnya. Berbagai ayat dalam al Qurán ternyata memberikan petunjuk adanya peluang bagi manusia untuk menentukan masa depannya sendiri. Bahwa di balik ciptaan Allah, ternyata ada rahasia, yang harus digali, diriset, hingga melahirkan ilmu pengetahuan. Bukti tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan sudah sekian banyak. Islam mendorong umatnya untuk mengembangkannya tanpa batas. Hanya rahasia tentang ruh saja yang tidak akan dibuka oleh Allah. Selain itu, yakni semua ciptaan Allah supaya dipikirkan atau dipelajari. Bagi mereka yang berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan, siapapun orangnya, ternyata telah mendapatkan manfaat. Teknologi modern, seperti alat transportasi, komunikasi, dan bahkan juga alat-alat perang canggih telah diciptakan, sekalipun juga mengancam keselamatan umat manusia. Umat Islam yang bertawakkal terlebih dahulu sebelum usaha, dan tidak mengembangkan ilmu pengetahuan, akhirnya hanya menjadi penonton, dan kalau pun ikut mengambil keuntungan, maka hanya berposisi sebagai konsumen. Padahal ayat al Qurán dan hadits Nabi mendorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, dan bahkan dinyatakan pula bahwa derajat tinggi hanya akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan mereka yang mengembangkan ilmu pengetahuan. Bukti tentang itu semua pada saat ini sudah tampak sedemikian jelas. Bahwa kemajuan umat manusia ternyata sangat tergantung dari ilmu pengetahuan yang dihasilkan. Dan, sesungguhnya hal itu sangat relevan dengan perintah al Qurán maupun hadits Nabi. Al Qurán menyeru agar umat manusia berpikir, merenung, melakukan riset seluas-luasnya. Sayangnya, riset yang dikembangkan oleh umat Islam selama ini, baru sederhana, sebatas apa saja yang terkait dengan ritual dan spiritual. Padahal al Qurán sendiri memerintahkan hingga meneliti bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi dihamparka, gunung ditegakkan, dan seterusnya. Bukankah semestinya, dengan membaca perintah itu segera membangun pusat-pusat riset, hingga kemudian melahirkan sains dan teknologi. Selama ini umat Islam belum banyak yang berpikir ke sana. Para ulama masih sibuk mengurus hal yang bersifat normative dan tidak terlalu mendasar. Selain itu lembaga pendidikan Islam sebagian besar juga masih berkutat pada pemikiran lama, sebatas memperbincangkan fiqh, tauhid, tarekh, tasawwuf. Padahal semua itu sesungguhnya sudah jelas, sehingga seharusnya sudah tiba waktunya energy dialihkan untuk memikirkan hal yang lebih penting dan mendasar sesuai dengan tantangan zamannya. Semestinya disadari bahwa ibadah dan juga mengumpulkan pahala, bagi seorang ilmuwan, bisa diraih melalui kegiatan riset. Tidak berarti bahwa ritual itu tidak penting, tetap perlu dilakukan, dan bahkan ditingkatkan secara terus menerus, akan tetapi tidak boleh dengan alasan mengembangkan spiritual, kemudian pengembangan ilmu pengetahuan berhenti, apalagi ditinggalkan. Lembaga pendidikan tinggi Islam sementara ini masih disibukkan ikut aktif mengkaji hal yang sederhana, misalnya di mana letak bulan tatkala menjelang tiba bulan Ramadhan dan hari raya. Apalagi, para tokoh ilmuwannya juga masih ikut mempelopori terjadinya kontroversi sederhana itu. Mereka bukan ikut menyelesaikan persoalan, meredam pertikaian umat, malah justru terlibat meramaikannya. Lemahnya pengembangan ilmu pengetahuan itu sesungguhnya telah berakibat cukup fatal. Umat Islam menjadi tertinggal jauh dari umat lainnya. Umat Islam kemudian identik dengan kemunduran dan ketertinggalan. Tidak itu saja derita yang harus ditanggung, melainkan juga secara politik, ekonomi, social maupun ilmu pengetahuan menjadi kalah. Hal yang dapat kita lihat dan rasakan dengan mudah, misalnya tatkala bepergian ke luar negeri, kita dengan mudah menjumpai saudara-saudara kita bekerja sebagai TKW/TKI. Mereka itu dipekerjakan sebagai buruh kasar dan tentu berupah rendah di negeri orang. Melihat kenyataan ini, umat Islam semestinya harus segera bangkit, membangun kepercayaan diri dan kekuatan secara nyata, memaknai kembali ajaran Islam secara tepat, hingga melahirkan kesadaran, semangat berpikir dan mengembangkan ilmu, serta bekerja atas dasar keahlian yang tinggi. Jika semua itu telah dilakukan, maka sebagai seorang yang beriman, baru menyerahkan hasilnya kepada Allah swt., atau disebut dengan sikap tawakkal. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
