Kali ini saya ingin berbicara tentang pengalaman dan pandangan yang bersifat lebih pribadi, yaitu menyangkut keberagamaan. Karena itu, bisa jadi sangat subyektif. Artinya, apa yang saya anggap benar, tetapi orang lain bisa menganggapnya salah. Apalagi yang saya bicarakan berikut adalah menyangkut pengalaman keberagamaan.
Sejak belajar agama di waktu kecil, guru mengaji saya menerangkan tentang nama-nama rasul yang jumlahnya 25 orang, yaitu mulai dari nabi Adam hingga nabi Muhammad. Saya diajarkan bahwa di antara ke 25 rasul itu tidak pernah ada yang berselisih, apalagi bertengkar. Konflik antar rasul dalam sejarahnya tidak pernah terjadi. Sesama rasul Allah saling membenarkan dan bahkan juga menyempurnakan. Saya tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang peperangan antar Rasul. Selain itu, juga tidak ada rasul yang menyalahkan, dan apalagi rasul yang datang kemudian menjelek-jelekkan rasul sebelumnya. Sejarah Nabi Muhammad yang diajarkan pada saya, disebut sebagai nabi yang datang terakhir. Hal itu tidak sulit dipercayai, karena tanggal dan tahun kelahirannya tercatat secara jelas. Saya diajari bahwa, Nabi Muhammad adalah penyempurna ajaran para nabi sebelumnya. Bahkan sejak kecil, nama-nama nabi pembawa risalah dari Tuhan itu harus saya hafalkan, mulai dari Nabi Adam hingga nabi Muhammad. Oleh karena itu, sejak kecil saya mengenal nama nabi atau rasul, misalnya Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Sulaiman, Ibrahim, Musa, Isa, Harus, Yahya, Suaib, hingga nabi Muhammad. Nama-nama para Rasul beserta kisah hidupnya itu diabadikan dalam al Qurán. Saya harus mengimani bahwa nama-nama mereka itu adalah benar. Semua rasul menerima wahyu, dan di antara mereka membawa kitab suci, seperti kitab taurat, zabur, injil, dahn al Qurán. Saya diajari oleh guru saya, bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang terakhir. Namun saya juga harus mengimani atas kebenaran ajaran para rasul sebelum itu. Setiap saat, saya harus mendoakan para nabi-nabi Allah itu, tanpa ada yang dikecualikan. Padahal ternyata para nabi tersebut mewariskan ajarannya dalam bentuk agama yang diberi nama berbeda-beda. Sekalipun telah datang seorang penyempurna terhadap ajaran nabi-nabi terdahulu, yaitu nabi Muhammad saw., ternyata masih saja banyak orang yang bersetia pada ajaran nabi para rasul sebelumnya. Memahami kenyataan itu, bagi saya tidak sulit, karena mengubah kepercayaan di mana saja dan kapan saja, pada kenyataanya tidak mudah. Apalagi menyangkut agama, hal sangat sederhana, yaitu sebatas menyatukan organisasi saja, ternyata sulitnya bukan main. Kita lihat banyak organisasi sosial keagamaan dalam satu agama, mereka juga tidak mudah bersatu. Jangankan mempercayai pandangan baru, maka sebatas mempercayai hal sederhana, misalnya apakah bulan sudah terbit atau belum, ternyata sulit berkompromi, mereka lebih memilih berbeda. Apalagi, hal itu menyangkut kepercayaan ajaran agama, atau mengubah keyakinan agama. Menghadapi persoalan itu, maka sikap yang saya kembangkan ialah menerima kenyataan itu. Saya berusaha beragama sebaik-baiknya. Ajaran agama yang saya yakini, yaitu Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, saya selalu berusaha menjalani sebaik-baiknya, semaksimal kemampuan saya. Saya juga selalu merasa jauh belum mampu, menjalankan ajaran kitab suci al Qurán dan hadits Nabi yang saya anggap paling benar dan mulia itu. Selain itu, terkait dengan keberagamaan, saya meyakini kebenaran al Qurán, bahwa apa yang disebut sebagai petunjuk atau hudan hanyalah datang dari Allah. Pemberian petunjuk terhadap kebenaran adalah hak prerogative pemilik-Nya, yaitu Allah swt. Sedangkan peran manusia hanyalah sebagai penyampai peringatan, dan bahkan sebatas menggembirakan, atau disebut basyiran. Saya melihat bahwa keberagamaan dalam satu agama sendiri pada kenyataannya beraneka ragam, sehingga Clifford Geerdz, seorang peneliti barat, membagi masyarakat menjadi tiga, yaitu santri, priyayi dan abangan. Terlepas apakah pembagian itu tepat atau tidak —–pada kenyataannya banyak kritik, telah menggambarkan bahwa dalam menjalankan agamanya masing-masing orang berbeda-beda. Hal itu tidak akan bisa disamakan, misalnya oleh pendidikan, organisasi, atau keluarga. Dalam satu keluarga intensitas atau kualitas keberagamaan mereka berbeda-beda. Bahkan antara suami dan isteri, sekalipun menganut agama yang sama, juga bisa berbeda. Lebih dari itu, bahwa seseorang secara pribadi, ——-dari waktu ke waktu, kualitas keberagamaannya bisa naik-turun atau berubah-ubah. Jika memang demikian adanya, maka menyangkut keberagamaan, selain bisa berbeda juga berada pada rentang kualitas yang tidak terhingga jaraknya. Ke-Islam-an yang paling sempurna adalah hanya pada diri rasulullah sendiri. Setelah itu, masing-masing orang memiliki kualitas yang berbeda-beda. Semua orang hanya mampu merusaha meraih kualitas yang paling baik atau unggul. Akan tetapi, pada kenyataannya akan mendapatkan di antara rentangan yang luas dan panjang itu. Oleh karena itu, sebenarnya masing-masing orang tidak akan ada yang sempurna, melainkan hanya pada posisi menuju kesempurnaan. Dalam soal keberagamaan, sikap yang paling tepat dikembangkan adalah bagaimana sehari-hari memperbaiki dirinya sendiri hingga meraih kualitas terbaik. Selalu menganggap orang lain kurang dan apalagi salah, disadari atau tidak, yang bersangkutan sudah berada pada wilayah kesalahan. Artinya, tatkala menganggap orang lain salah, bisa jadi kesalahan itu sebenarnya ada pada dirinya sendiri. Oleh karena itu dalam ajaran Islam ——al Qurán, sikap yang tepat adalah bukan saling menyalahkan, melainkan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Akhirnya, jika sikap keberagamnaan seperti itu yang berhasil dikembangkan, maka perbedaan tidak akan menjadi sebab perselisihan yang akan berakhir merugi bersama. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
