Seusai mengikuti pertemuan dengan Mendiknas bersama Yayasan Dana Sejahtera Mandiri yang dipimpin oleh Prof.Dr.Haryono Suyono, tanggal 1 September di Jakarta, maka esoknya pada tanggal 2 September 2010, saya langsung ke Kajen, Pati, Jawa Tengah, memenuhi undangan Sekolah Tinggi Agama Islam Mathaliul Falah yang didirikan sebuah Yayasan yang dipimpin langsung oleh Dr.KH.Sahal Mahfudz, Ketua Syuriäh PBNU. Saya diundang untuk memberikan kuliah umum di kampus yang baru dirintis sejak tiga tahun yang lalu itu.
Selama ini sudah dua kali, saya diundang ke pesantren tersebut. Sekalipun kedatangan saya yang pertama ke pesantren ini sudah cukup lama, yakni kira-kira 10 tahun yang lalu, saya masih merasakan hal yang sama. Yaitu, di pesantren ini masih konsisten memelihara kedisiplinan dan menjaga mutu hasil pendidikannya. Madrasah yang ada di pesantren ini tidak mengikutsertakan para siswanya Ujian Nasional (UN), tetapi standard kelulusannya justru lebih berat. Akibatnya, jika ada para siswa tidak lulus di pesantren ini dianggap hal biasa. Sebagai gambaran tentang kedisiplinan yang selalu dipelihara dengan ketat itu, saya mendapatkan informasi yang menarik. Yaitu, bahwa putra satu-satunya Kyai Sahal Mahfudz sendiri pernah tidak naik kelas karena ada satu persyaratan yang belum dipenuhi. Untuk bisa naik kelas misalnya harus hafal kitab jurumiyah, imriti, dan alfiyah. Padahal kekurangan itu disebabkan oleh alasan yang jelas dan bisa diterima akal, yaitu pada waktu yang ditentukan Gus Rozin —-putra Kyai itu, mengalami sakit. Akan tetapi demi menegakkan kedisiplinan, siapapun harus diberlakukan secara sama, tidak terkecuali terhadap putra kyai sendiri Kasus ini sengaja saya tulis untuk menunjukkan bahwa di pesantren pun telah memelihara budaya mutu dan juga kedisiplinan. Maka sebagai buahnya, kulitas pendidikan tetap berhasil dipelihara dan jumlah peminat masuk ke lembaga pendidikan ini tidak pernah menurun, dan bahkan justru sebaliknya, selalu naik. Di tengah-tengah masyarakat yang sedang mencari pendekatan dalam peningkatan mutu pendidikan, maka kiranya apa yang dilakukan oleh pesantren bisa dijadikan acuan oleh siapapun. Pesantren tidak banyak berbicara tentang mutu, standard pendidikan, dan lainnya tetapi semua itu dijalankan. Memang bagi kebanyakan pesantren dalam melakukan apapun selalu didasarkan pada kekuatan instrinsik, yaitu niat para pelakunya. Dalam tradisi pesantren, niat harus benar-benar ditata, agar semua berhasil dijalankan dengan benar. Bahkan kualitas hasil pendidikkan, justru yang berpengaruh adalah pada aspek niat itu. Bisa jadi beberapa aspek belum mencukupi, asalkan dilakukan dengan niat yang lurus, benar dan kokoh, masih dipercaya akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Akan tetapi sebaliknya, jika niatnya tidak lurus dan kokoh,——sekalipun semua aspek yang terkait dengan kegiatan itu terpenuhi, maka hasilnya tidak akan memuaskan. Pesantren Pimpinan Dr.KH. Sahal Mahfudz, yang dikenal sudah berusia sangat lama ini, sejak tiga tahun lalu mendirikan sekolah tinggi agama Islam bernama STA Mathali úl Falah. Perguruan tinggi ini membuka tiga program studi, yaitu pendidikan Bahasa Arab, Perbankan Syariah, dan Pengembangan Masyarakat Islam. Sikalipun perguruan tinggi itu berada di kota kecil, oleh karena sudah dipercaya masyarakat dalam mengelola pendidikan, maka jumlah peminat masuk cukup besar. Lokasi kampus perguruan tinggi ini dibangun terpisah dari pesantrennya. Gedung baru yang didirikan di atas lahan kurang lebih 3 hektar, beberapa lokal untuk kuliah dan perkantoran sudah selesai dibangun. Di lokasi itu rencanya, selain dibangun fasilitas perkulihan, perpustakaan dan lain-lain, juga akan dibangun tempat penginapan mahasiswa. Sebagai perguruan tinggi di pesantren, semua mahasiswa harus bertempat tinggal di asrama. Dengan cara itu, maka mahasiswa tidak saja berhasil mengembangkan keilmuannya, tetapi juga sekaligus diharapkan berhasil membangun kultur keberagamaan dan nilai-nilai kepesantrenan. Dalam kesemptan itu, saya menyampaikan bahwa mahasiswa perguruan tinggi di pesantren seperti di STAI Mathaliul Falah ini jika berhasil menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai basis pengembangan keilmuannya, maka akan bisa membangun tradisi keilmuan yang kuat. Nilai-nilai pesantren itu misalnya kebiasaan menghargai ulama’atau ilmuwan, mencintai ilmu lebih dari sebatas ijazah, memiliki motivasi transcendent dalam mengembangkan ilmu, ikhlas, bersungguh-sungguh, berani berkorban, menderita, dan bahkan beresiko untuk meraih tujuan, kesederhanaan, kebersamaan dan lain-lain. Saya ketika itu memberikan contoh lembaga pendidikan pesantren, yang berhasil melahirkan ulama besar, ——selain pesantren yang dipimpin oleh Dr.KH. Sahal Mahfudz sendiri, yaitu seperti pesantren Tremas, Pacitan, Gontor Ponorogo, Lirboyo, Kediri dan lain-lain. Keberhasilan lembaga pendidikan tersebut, bukan karena kelebihan dalam hal-hal yang bersifat material, seperti ketersediaan gedung yang mencukupi dan sarana lainnya, melainkan karena keberhasilannya dalam membangun nilai-nilai pendidikannya itu. Dalam kesempatan itu, DR.KH.Sahal Mahfudz sebagai Ketua Yayasan dalam sambutannya memberikan pandangan tentang betapa pentingnya lembaga pendidikan selalu mencari alternative yang terbaik. Beliau mengingatkan bahwa selama ini, ada dua jenis pendidikan, yaitu yang terstruktur seperti sekolah, madrasah hingga perguruan tinggi. Selain itu, ada yang tidak terstruktur seperti yang dikembangkan di pesantren salaf. Keduanya sama-sama telah menunjukkan sisi-sisi positifnya. Dalam pendidikan Islam, Dr.KH.Sahal Mahfudz menunjuk ulama besar terdahulu, yaitu Imam al Ghazali di Baghdad, pernah belajar dan memimpin lembaga pendidikan al Nidhamiyah yang berstruktur dan juga berhasil. Melihat semangat, etos kerja, potensi, dan keikhlasan yang dimiliki oleh pimpinan lembaga pendidikan ini, saya yakin ke depan Sekolah Tinggi Agama Islam Mathaliul Falah ini, ——sekalipun berada di kota kecil, ke depan akan berkembang. Lokasi perguruan tinggi itu justru menguntungkan karena memiliki hubungan dekat dengan masyarakatnya. Asalkan tidak terlalu dipaksa mengikuti aturan birokrasi pemerintah, maka lembaga pendidikan ini akan cepat berkembang. Saya juga memberikan masukan agar lembaga pendidikan tinggi Islam ini lebih mempertahankan nilai-nilai pesantren sebagaimana dikemukakan di muka, dari pada sebatas memenuhi aturan berupa menghitung-hitung waktu belajar dengan menggunakan sks, ujian, dan ijazah sebagaimana pendidikan formal selama ini. Selain itu, saya mengingatkan bahwa adanya kegelisahan tentang turunnya kualitas pendidikan selama ini, justru disebabkan oleh adanya semangat yang lebih mengutamakan formalitas itu. Oleh karena itu, PTA Mathaliul Falah, harus pandai-pandai mengemas pendidikannya agar tidak kehilangan jati diri yang sebenarnya justru menjadi keunggulannya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
