Monday, 16 March 2026
above article banner area

Membaca Merupakan Pintu Utama Meraih Keberhasilan

Di  saat peringatan hari pendidikan, pada tanggal 2 Mei 2011,  saya  teringat ayat pertama kali yang diturunkan oleh Allah dalam al Qurán adalah perintah membaca. Sedemikian penting kegiatan membaca, hingga selain  itu, misi rasulullah ke dunia yang disebutkan pertama kali  dalam al Qurán adalah juga tilawah yang lagi-lagi artinya juga membaca.

  Dalam kenyataan sehari-hari yang bisa dilihat, ternyata orang-orang sukses dan beruntung adalah selalu  berasal dari  orang-orang yang  mampu dalam membaca secara cepat dan tepat. Rupanya tidak semua orang  bisa melakukan hal itu.  Pengetahuan antar orang menjadi berbeda-beda, oleh karena kemampuannya dalam membaca  juga  berlain-lainan.  Seorang yang mampu membaca potensi ekonomi, maka ia akan berhasil mengembangkan usahanya hingga  mendapatkan keutungan yang melimpah. Sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki kemampuan tentang itu, maka usaha ekonominya akan  gagal.  Bahkan seseorang,  sama sekali  tidak bisa mengembangkan usahanya, karena tidak mampu membaca, bagaimana  memilih jenis usaha, mengembangkan modal, mamanage usahanya,  dan apalagi mengkalkulasi untung ruginya.   Orang yang tidak memiliki kemampuan  membaca dalam dunia  ekonomi atau usaha, maka mereka hanya akan mengikut  bekerja kepada orang lain.  Oleh karena tidak memiliki kemampuan membaca, maka seseorang  hanya akan bisa menjual tenaganya. Tenaga yang dijual pun juga tenaga kasar, atau disebut menjadi buruh. Gaji buruh kasar biasanya tidak seberapa, sehingga akhirnya tingkat kehidupan ekonominya  menjadi pas-pasan.   Oleh karena itu,  sebenarnya akar kemiskinan di mana-mana dan kapan saja,   adalah  kelemahan   yang bersangkutan  dalam membaca potensi ekonomi yang bisa dikembangkan. Maka  cara untuk mengentaskannya tidak mudah dilakukan sepanjang mereka tidak diajari membaca tentang hal itu secara tepat.  Orang yang tidak mampu membaca potensi ekonomi, sekalipun  mereka diberi bantuan modal atau lainnya tetap tidak berkembang, oleh karena kemampuan  bacaannya yang terbatas.       Demikian pula dalam berbagai bidang lainnya. Seorang yang mampu membaca  peta politik, maka akan memenangkan dalam pertarungan poilitik. Mereka akan sukses memperoleh kekuasaan, mempertahankan,  dan memanfaatkannya. Sebaliknya, orang yang tidak mampu membaca politik,  tatkala  terjun di dunia politik akan selalu  mengalami kekalahan. Itulah dalam dunia modern, lantas muncul penjual jasa yang disebut konsultan, termasuk konsultan atau penasehat  politik.  Kemampuan membaca secara cerdas juga harus dimiliki oleh para penyelenggara atau pemimpin birokrasi pendidikan. Orang yang tidak mengerti pendidikan, karena  tidak pernah melakukan pembacaan terhadap dunia pendidikan, kemudian diserahi tugas di bidang itu, akan mengalami kesulitan dan bahkan gagal dalam menunaikan tugasnya.  Penyandang wawasan pendidikan yang terbatas, akan memaknai  konsep  pendidikan sebatas  sebagai proses kegiatan menyampaikan bahan pelajaran tertentu,  pada rentang waktu tertentu pula,  oleh seorang  guru kepada murid, sehingga  arti pendidikan tereduksi menjadi sangat sederhana dan tidak mengenai sasaran.  Bagi orang yang mampu membaca dunia pendidikan secara luas dan utuh, konsep itu tidak hanya menyangkut kegiatan transfer ilmu pengetahuan, tetapi pendidikan akan dimaknai sebagai upaya  membangun pribadi  secara utuh. Ketika pengertian pendidikan dimaknai seperti itu, maka kegiatan pendidikan tidak sebatas menyiapkan buku teks, kurikulum, ruang kelas dan sejenisnya, tetapi  lebih luas dari sekedar itu.  Keberhasilan pendidikan memerlukan lingkungan yang tepat, guru berpribadi unggul, yang memiliki pengetahuan dan integritas yang tingi, keikhlasan, kesabaran, istiqomah, tanggung jawab, amanah dan tercukupinya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.   Kemampuan membaca ternyata menjadi kunci utama dalam meraih segala hal. Oleh kaera itulah maka  tepat  sekali  al Qurán yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca. Selain itu juga, bahwa misi nabi yang disebutkan pertama kali adalah  membacakan ayat-ayat Allah yang terbentang luas di jagat raya ini. Rupanya memang kemampuan membaca merupakan awal dari kesuksesan hidup bagi siapapun.   Namun sayangnya, ajaran tentang betapa pentingnya kegiatan membaca ini belum berhasil ditanamkan kepada ummat Islam secara keseluruhan.  Selain itu, membaca dalam pengertian luas dan mendalam seharusnya  dimaknai sebagai kegiatan  pengembangan ilmu dan atau  riset. Oleh karena itu, ummat Islam  mestinya segera mengembangkan pusat-pusat riset di berbagai tempat. Perhatian yang belum  maksimal terhadap  kegiatan membaca, qiroáh atau thilawah inilah, hingga menjadikan ummat tertinggal dari  lainnya.  Kegiatan membaca adalah merupakan kunci utama  terhadap  semua keberhasilan dan kemajuan. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *