Sunday, 19 April 2026
above article banner area

Membangun Karakter Bangsa

Salah satu pemandangan yang bisa kita lihat hampir pada setiap saat, setelah bergulir reformasi adalah keterbukaan, kebebasan, dan keberanian yang tidak sedemikian terasakan sebelumnya. Dampak suasana itu ternyata tidak selalu dirasakan menggembirakan semua orang. Ada pihak-pihak yang merasa terganggu. Sebab dengan keterbukaan, kebebasan dan keberanian itu melahirkan bentuk-bentuk komunikasi yang berbeda, sehingga menjadikan perasaan sementara orang menjadi terusik. Dengan begitu kedamaian, ketenangan, dan kesejukan dalam kehidupan bersama, terasa menjadi mahal harganya. Protes, melawan, dan bahkan juga demonstrasi seringkali mewarnai kehidupan pada hampir setiap saat. Selain itu, sopan santun, tatakrama, unggah ungguh, etika yang seharusnya dipegangi kemudian banyak dilanggar. Hubungan-hubungan antar orang dan juga kelompok dengan adanya suasana terbuka, bebas dan berani tersebut menjadi terganggu. Bangsa yang semula dikenal santun, solidaritas tinggi, saling menghormat antar sesama berubah menjadi sebaliknya. Banyak orang dengan mudah menuntut, tidak saling mempercayai, curiga yang berlebihan, menganggap orang lain selalu salah, dan bahkan menyimpang, dan harus dihukum. Pengaduan atas kesalahan seseorang, kelompok, bahkan juga pemerintah dari pihak lain pada khir-akhir ini banyak mewarnai kehidupan. Proses pengadilan terhadap berbagai persoalan yang dianggap sebagai penyimpangan yang diadukan oleh berbagai pihak selalu terjadi di mana-mana. Lembaga pengadilan semakin menjadi sibuk dan demikian pula ruang tahanan, dan bahkan juga penjara menjadi penuh. Fenomena baru lainnya, penjara dulu hanya dihuni oleh orang-orang tertentu, yaitu mereka yang tergolong kelas bawah dengan kesalahan sederhana, seperti mencuri, mencopet, menipu, dan sejenisnya. Berbeda dengan itu, pada saat ini penghuni penjara berasal dari semua lapisan masyarakat. Para pejabat mulai dari tingkat bawah, seperti lurah, camat, bupati, wali kota, anggota DPRD, DPR, dan bahkan pejabat pengadilan seperti jaksa, hakim, KPK sekalipun terbukti melakukan kesalahan, dan akhirnya dipenjara. Keadaan seperti itu menumbuhkan kesadaran terhadap sementara pihak, terutama dari kaum pendidik, agamawan, sementara tokoh masyarakat, dan juga pemerintah terhadap perlunya pendidikan kharakter bangsa. Departemen Pendidikan Nasional pada hari Kamis tanggal 14 Januari 2010, hari ini, mengadakan sarasehan, mengundang berbagai pihak yang dipandang memiliki perhatian dan kapasitas itu untuk mendiskusikan dan selanjutnya akan merumuskan bentuk atau formatnya. Saya hari ini termasuk diundang pada kegiatan tersebut. Karakter bangsa menurut berbagai pendapat, terbentuk oleh berbagai sumber nilai, yaitu nilai-nilai local, nilai-nilai ke Indonesiaan, nilai agama, dan akhir-akhir ini dengan keterbukaan informasi sebagai akibat terjadinya revolusi komunikasi, maka muncul sumber nilai lainnya yang juga sangat dominan ialah nilai-nilai global. Pengaruh global itu ikut mewarnai seluruh kehidupan, termasuk masyarakat yang tinggal di pedesaan sekalipun. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana membangun karakter bangsa, agar betapapun dahsyatnya hiruk pikuk pengaruh yang datang dari berbagai arah itu, bangsa ini masih akan berhasil mempertahankan identitasnya sebagai bangsa Indonesia yang santun, ulet, menyukai kedamaian, kejujuran, pekerja keras, menghormati sesama, saling mencintai dan seterusnya. Sesungguhnya, jika saja bangsa ini masih tetap berpegang pada nilai-nilai agama yang diyakini secara kokoh, apapun dan etapapun besarnya pengaruh luar, maka identitas luhur itu masih akan tetap bertahan. Persoalannya adalah seberapa jauh para pemimpin bangsa, tokoh masyarakat, agamawan, dan juga para pendidik masih tetap konsisten memandu masyarakat untuk memegangi nilai-nilai yang dipandang luhur dan mulia itu. Saya berpandangan, bahwa agama sajalah yang bisa menyelamatkan bangsa ini. Jika agama ditinggalkan, maka siapapun, baik individu, kelompok, dan tidak terkecuali karakter bangsa ini akan runtuh. Wallahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *