Kemarin pagi saya menulis tentang belenggu, yaitu sesuatu yang menjadikan seseorang, kelompok, atau bahkan bangsa tidak memiliki vitalitasnya sehingga terasa kurang dinamis, inovatif, atau maju. Pagi ini, rasanya masih ada sesuatu yang perlu saya tulis lagi. Belenggu itu bermacam-macam sumbernya. Pembelenggu itu bisa bersumber dari diri sendiri, orang lain, kondisi social, atau juga keadaan alam di mana ia atau mereka hidup. Orang bisa terbelenggu oleh dirinya sendiri. Sifat pemalas, pikiran kacau, tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, segera puas dengan keadaan yang ada, maka semua itu adalah pembelenggu dirinya sendiri. Penyandang sifat malas atau selalu mengikuti hawa nafsu, belum tentu dirinya menyadari atau tahu akan keadaannya itu. Orang semacam itu disebut dalam al Qurán sedang berselimut atau tertutup oleh hijab. Al Qurán menyebutnya dengan istilah al mutdatsir. Memang agaknya aneh, terhadap dirinya sendiri saja tidak semua orang berhasil mengetahuinya. Atau memang semua orang begitu. Dalam bahasa sehari-hari orang demikian disebut sebagai tidak tahu diri. Sebutan itu didengar tidak mengenakkan. Tetapi, itulah keadaannya. Banyak orang merasa mampu, padahal hakeketnya tidak. Orang merasa cakap, padahal jika diberi tanggung jawab tidak bisa menyelesaikannya. Merasa sanggup tetapi selalu gugup. Merasa pintar, tetapi selalu lambat berpikir. Memang banyak orang kritis terhadap orang lain, tetapi tidak demikian pada dirinya sendiri. Semua hal tersebut adalah bagian dari belenggu-belenggu kehidupan. Namun, tidak semua orang tahu dan menyadarinya. Tidak semua orang tahu bahwa dirinya serba berkekurangan, terbatas, dan bahkan juga menderita. Seseorang tahu bahwa dirinya miskin, tatkala melihat orang kaya. Juga seseorang baru mengetahui bahwa dirinya bodoh, tatkala melihat orang lain telah mengalami kemajuan. Bahkan, banyak orang tidak merasa bahwa dirinya sedang dalam keadaan terbelenggu. Orang yang memiliki pengetahuan terbatas, hubungan dan juga pengalaman terbatas pula, maka tidak akan mengerti akan keadaan dirinya. Orang yang hidup di hutan, yang tidak memiliki hubungan dengan orang lain yang sudah maju, maka tidak akan merasa bahwa hidupnya tertinggal dari masyarakat lainnya. Sekalipun hidup miskin dan serba kekurangan, maka seseorang tidak mengerti akan kekurangan dan keterbatasannya itu. Mereka baru tahu dan sadar atas keadaannya itu setelah membandingkannya dengan keadaan orang lain yang lebih maju. Itulah pentingnya melihat atau bersilaturrahmi dengan orang lain. Dengan bertemu dan saling berkomunikasi, maka akan saling mengenal. Mereka akan saling tukar pikiran, atau saling membandingkan, dan akhirnya muncul keinginan untuk berbuat hal yang sama. Orang pada umumnya mudah untuk meniru, sekalipun kadang sulit diajak berpikir. Berangkat dari gambaran manusia seperti itu, maka ayat pertama kali yang diturunkan dalam al Qurán adalah perintah membaca. Dengan membaca maka orang akan menjadi tahu terhadap apa yang dibacanya. Perintah membaca dalam al Qurán tersebut dipertegas, ialah membaca dengan mengatas namakan Tuhan yang telah menciptakan. Sebutan Tuhan dan Penciptaan rasanya menjadi sangat penting dalam kontek ini. Apalagi, ayat itu selanjutnya dirangkai dengan ayat tentang penciptaan diri manusia itu sendiri. Kholaqo al-insaana min al-alaq. Rupanya, ayat-ayat pendek yang turun pada fase awal ini Allah bermaksud menyadarkan manusia tentang awal kejadian dan juga jati diri manusia yang sesungguhnya. Aktivitas membaca itulah yang selanjutnya akan melahirkan kesadaran yang sebenarnya. Kesadaran itulah kemudian akan melahirkan kebangkitan. Bangkit karena sadar akan posisi dirinya. Namun ternyata kegiatan membaca tidak mudah dilakukan oleh semua orang. Orang bisa saja membaca huruf-huruf yang kemudian terangkai dalam bentuk kalimat. Selanjutnya, kalimat demi kalimat terangkai dalan bentuk paragrap, dan seterusnya menjadi sebuah karangan yang utuh. Akan tetapi, ternyata tidak semua orang mampu memahaminya secara sempurna. Hal ini artinya, aktivitas membaca pun tidak mudah dilakukan oleh semua orang. Jika membaca teks tertulis sedemikian sulit, maka akan lebih sulit lagi adalah membaca ciptaan Allah yang terhampar luas yang tidak tertulis, yaitu berupa jagad raya ini. Selama ini para ilmuawan melalui kegiatan observasi, eksperimen dan penalaran logis dimaksudkan untuk mencari tahu tentang hakekat alam semesta. Apa yang mereka lakukan itu pada hakekatnya adalah proses kegiatan membaca. Hanya sayangnya kegiatan para ilmuwan itu, tidak selalu dipahami sebagai bagian dari kegiatan melaksanakan perintah Tuhan. Mereka melaksanakannya hanya didorong oleh rasa ingin tahu. Namun demikian, mereka telah berhasil mengungkap berbagai rahasia alam, social, dan kemanusiaan yang sedemikian dahsyat. Seumpama kaum muslimin, tatkala memahami ayat-ayat al Qurán yang pertama kali turun itu kemudian terdorong semangatnya untuk melakukan pembacaan terhadap jagad raya ini secara sungguh-sungguh, maka kehidupan kaum muslimin akan menjadi sempurna. Iman dan ilmu akan berhasil diraih secara bersamaan, lalu melahirkan amal sholeh. Di sinilah sesungguhnya letak awal kelemahan kaum muslimin selama ini. Keterbatasan dalam melakukan pembacaan ayat-ayat qowliyyah yang kemudian diikuti oleh ketidak-sempurnaan dalam membaca ayat-ayat kawniyyah mengakibatkan kemuduran kaum muslimin yang berkelanjutan hingga saat ini. Melalui tulisan ini, sesungguhnya saya hanya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa sedemikian indah isi kitab suci al Qurán. Kitab suci ini turun diawali dengan perintah membaca, lalu kemudian diteruskan dengan wacana tentang kesadaran. Ternyata kesadaran, hanya akan berhasil dibangun melalui kegiatan membaca. Keduanya, —-membaca dan kesadaran—- tidak bisa dipisahkan. Setiap orang harus selalu sadar, termasuk sadar akan eksistensi dan keadaan dirinya, apakah terbelenggu atau sedang merdeka. Dan kesadaran itu hanya berhasil diraih, jika ditempuh melalui aktivitas membaca dalam pengertian yang sempurna dan seluas-luasnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
