Thursday, 21 May 2026
above article banner area

Mendapatkan Orang Baik Dan Pintar Tidak Selalu Mudah

 Jumlah orang semakin hari semakin banyak. Pertumbuhannya juga semakin cepat. Tidak disangka misalnya, jumlah  penduduk Indonesia sudah lebih dari 230 juta jiwa. Bulan-bulan ini dilakukan sensus penduduk, kiranya akan diketahui hasilnya, berapa sebenarnya jumlah itu  secara pasti.

                Besarnya jumlah dan  semakin  cepat pertambahan penduduk, dalam satu sisi selalu merepotkan. Pemerintah misalnya,  harus menyediakan lapangan pekerjaan. Padahal  beban itu  ternyata  juga tidak mudah  dipenuhi. Akibatnya, pengangguran semakin banyak.    Konsekuensi lainnya, pemerintah harus menyediakan pelayanan pendidikan, pemenuhan kebutuhan perumahan, transportasi, kebutuhan air, listrik dan lain-lain. Selain itu, kepadatan penduduk yang berlebihan juga membawa akibat  social yang lebih komplek dan rumit diselesaikan oleh siapapun.   Namun di negeri ini anehnya, jumlah penduduk yang sedemikian banyak, ternyata tidak mudah mencari orang yang dianggap baik dan pintar. Kita lihat saja misalnya, tatkala akan  terjadi suksesi pimpinan di sebuah organisasi atau instansi, orang selalu bertanya, apa sudah dipersiapkan penggantinya. Pertanyaan seperti itu menggambarkan, bahwa mencari orang yang dianggap memiliki kemampuan memimpin,  selama ini dirasakan  tidak mudah.   Seorang pemimpin memang harus memenuhi beberapa criteria, misalnya harus pintar dan baik. Kepintaran bukan saja diukur dari ijazah yang dimiliki, tetapi juga kualitas  kinerja yang telah berhasil ditunjukkan. Seorang pemimpin dianggap pintar manakala telah nyata-nyata berhasil menyelesaikan problem-problem yang rumit dan pelik.   Selain itu, kepintaran seorang  juga ditunjukkan dari sejauh mana yang bersangkutan mampu melihat lembaga atau komunitas yang dipimpin  dalam kontek yang luas dan jauh ke depan. Bermodalkan  itu, ia diharapkan cakap memahami masyarakat yang dipimpinnya, bertindak arif, dan mampu membangun jaringan yang luas. Selain itu, ia  bisa mengakomodasi berbagai aspirasi yang selalu tumbuh dan berkembang dari kalangan mereka yang dipimpinnya.        Tugas itu menjadi lebih sulit lagi, jika criteria pemimpin yang dicari itu ditambah, misalnya harus baik atau saleh secara sempurna, yaitu saleh ritualnya, sosialnya, dan juga profesionalnya. Dengan kesalehan itu, maka ia selalu mengedepankan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya, pandai membagi kasih sayang serta mampu menghargai orang lain. Selain itu, seorang pemimpin harus  sanggup bekerja dengan ikhlas, sabar, amanah,  dan istiqomah.   Mencari orang yang memenuhi criteria seperti itu, sekalipun di tengah-tengah jumlah penduduk yang sedemikian besar, ternyata tidak mudah. Orang pintar dan baik, di mana-mana  memang tidak mudah didapatkan. Namun anehnya, masyarakat termasuk para elitenya sekalipun, belum tentu menyadari hal itu. Padahal hanya bermodalkan orang baik dan pintar, bangsa ini akan maju dan dihargai oleh bangsa lain.   Rendahnya kesadaran terhadap pentingnya orang pintar dan baik dapat dilihat misalnya, tatkala harus kehilangan, ternyata belum dirasakan sebagai petaka. Padahal, tatkala mencari penggantinya, juga tidak mudah. Inilah sesungguhnya buah dari masyarakat yang bernuansa politik berlebihan, sehingga orang pintar pun dianggap pesaing dan bahkan juga musuh. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *