Jumlah orang semakin hari semakin banyak. Pertumbuhannya juga semakin cepat. Tidak disangka misalnya, jumlah penduduk Indonesia sudah lebih dari 230 juta jiwa. Bulan-bulan ini dilakukan sensus penduduk, kiranya akan diketahui hasilnya, berapa sebenarnya jumlah itu secara pasti.
Besarnya jumlah dan semakin cepat pertambahan penduduk, dalam satu sisi selalu merepotkan. Pemerintah misalnya, harus menyediakan lapangan pekerjaan. Padahal beban itu ternyata juga tidak mudah dipenuhi. Akibatnya, pengangguran semakin banyak. Konsekuensi lainnya, pemerintah harus menyediakan pelayanan pendidikan, pemenuhan kebutuhan perumahan, transportasi, kebutuhan air, listrik dan lain-lain. Selain itu, kepadatan penduduk yang berlebihan juga membawa akibat social yang lebih komplek dan rumit diselesaikan oleh siapapun. Namun di negeri ini anehnya, jumlah penduduk yang sedemikian banyak, ternyata tidak mudah mencari orang yang dianggap baik dan pintar. Kita lihat saja misalnya, tatkala akan terjadi suksesi pimpinan di sebuah organisasi atau instansi, orang selalu bertanya, apa sudah dipersiapkan penggantinya. Pertanyaan seperti itu menggambarkan, bahwa mencari orang yang dianggap memiliki kemampuan memimpin, selama ini dirasakan tidak mudah. Seorang pemimpin memang harus memenuhi beberapa criteria, misalnya harus pintar dan baik. Kepintaran bukan saja diukur dari ijazah yang dimiliki, tetapi juga kualitas kinerja yang telah berhasil ditunjukkan. Seorang pemimpin dianggap pintar manakala telah nyata-nyata berhasil menyelesaikan problem-problem yang rumit dan pelik. Selain itu, kepintaran seorang juga ditunjukkan dari sejauh mana yang bersangkutan mampu melihat lembaga atau komunitas yang dipimpin dalam kontek yang luas dan jauh ke depan. Bermodalkan itu, ia diharapkan cakap memahami masyarakat yang dipimpinnya, bertindak arif, dan mampu membangun jaringan yang luas. Selain itu, ia bisa mengakomodasi berbagai aspirasi yang selalu tumbuh dan berkembang dari kalangan mereka yang dipimpinnya. Tugas itu menjadi lebih sulit lagi, jika criteria pemimpin yang dicari itu ditambah, misalnya harus baik atau saleh secara sempurna, yaitu saleh ritualnya, sosialnya, dan juga profesionalnya. Dengan kesalehan itu, maka ia selalu mengedepankan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya, pandai membagi kasih sayang serta mampu menghargai orang lain. Selain itu, seorang pemimpin harus sanggup bekerja dengan ikhlas, sabar, amanah, dan istiqomah. Mencari orang yang memenuhi criteria seperti itu, sekalipun di tengah-tengah jumlah penduduk yang sedemikian besar, ternyata tidak mudah. Orang pintar dan baik, di mana-mana memang tidak mudah didapatkan. Namun anehnya, masyarakat termasuk para elitenya sekalipun, belum tentu menyadari hal itu. Padahal hanya bermodalkan orang baik dan pintar, bangsa ini akan maju dan dihargai oleh bangsa lain. Rendahnya kesadaran terhadap pentingnya orang pintar dan baik dapat dilihat misalnya, tatkala harus kehilangan, ternyata belum dirasakan sebagai petaka. Padahal, tatkala mencari penggantinya, juga tidak mudah. Inilah sesungguhnya buah dari masyarakat yang bernuansa politik berlebihan, sehingga orang pintar pun dianggap pesaing dan bahkan juga musuh. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
