Monday, 11 May 2026
above article banner area

Mengunjungi Dua Perguruan Tinggi Islam Di Metro, Lampung

Pada hari Sabtu, tanggal 20 Meret 2010 yang lalu, saya diundang oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung, untuk memberikan kuliah umum di hadapan para pimpinan dan dosen perguruan tinggi itu. Sebagaimana biasa, kalau di kota yang saya kunjungi terdapat PTAIN, saya selalu menyempatkan singgah, maka saya kunjungi pula STAIN Metro. Demikian juga, beberapa bulan yang lalu, ketika saya diundang oleh Ketua STAKN (Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri) Palangkaraya, saya juga singgah di STAIN di kota itu. Saya berkunjung ke Universitas Muhammadiyah dan juga STAIN Metro itu baru pertama kali. Sekalipun kotanya kecil, penduduknya menurut informasi, hanya sekitar 150.000 orang, namun kampus Universitas Muhammadiyah Metro tampak berkembang bagus. Demikian pula STAIN Metro, akhir-akhir ini jumlah mahasiswanya meningkat tajam. Tatkala melihat kampus UM Metro, saya teringat bagaimana saya bekerja ketika masih terlibat mengembangkan kampus Universitas Muhammadiyah Malang. Masuk Kampus Universitas Muhammadiyah Metro terasa sekali, lembaga pendidikan itu masih sedang mengalami pertumbuhan. Para pimpinannya memiliki semangat dan cita-cita besar untuk mengembangkan perguruan tinggi yang berada di bawah pembinaan organisasi Muhammadiyah. Pada saat ini masih berlangsung pengembangan fisik. Bahkan juga masih berencana akan memperluas lokasi kampus. Ada beberapa fasilitas fisik yang sedang dibangun, seperti perkantoran, ruang kuliah, perpustakaan dan sarana lainnya. Perguruan tinggi ini memiliki lebih dari 140 dosen tetap, sebagian sudah bergelar Doktor. Sementara lainnya lulus S2, dan hanya beberapa saja yang masih berpendidikan S1. Saya merasakan, warga kampus ini sedang memiliki cita-cita dan semangat maju yang luar biasa. Rupanya, bermodalkan semangat itu muncul berbagai kreatifitas untuk meningkatkan kualitas, seperti mengirim studi lanjut bagi para dosen-dosennya, mendorong mereka untuk melakukan penelitian, penulisan karya ilmiah dan lain-lain. Di antara berbagai upaya pengembangan kampus itu, ada yang mirip dengan apa yang sedang dilakukan oleh UIN Maliki Malang. Yaitu, berupaya mengintegrasikan antara studi Islam dan pengembangan ilmu umum. Rektor Universitas Muhammadiyah Metro, ketika saya sedang di kampus itu menyampaikan agar seluruh bidang ilmu yang dikembangkan di kampusnya diwarnai oleh nilai-nilai yang bersumber dari al Qurán dan hadits. Namun, tugas itu dirasakan tidak ringan, sebab tidak semua dosennya memiliki wawasan agama yang cukup. Beberapa kendala yang dihadapi untuk mengimplementasikan konsep itu, di antaranya masih terbatasnya tenaga, lingkungan, sarana dan prasarana dan lain-lain. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat maju yang dimilikinya. Apapun yang mungkin dilakukan, maka akan dikerjakan. Contoh sederhana, agar para dosen tetapnya bisa membaca al Qurán dengan fasikh, maka setiap pagi, dia menunggui sendiri kegiatan belajar membaca kitab suci itu. Sebagai upaya pengembangan kampus ke depan, sekalipun masih sibuk menambah sarana fisik, Universitas Muhammadiyah Metro sudah mulai merintis usaha-usaha pengembangan sumber pendanaan melalui kerjasama dengan Bank Swasta setempat. Usaha yang dilakukan itu dimaksudkan agar ke depan, kampus ini tidak saja menggantungkan pendapatannya dari sumbangan masyarakat melalui mahasiswa. Terkait dengan usaha itu, saya memberikan apresiasi, bahwa kreatifitas semacam itulah memang yang seharusnya dilakukan. Sebagai bentuk apresiasi itu, saya mengatakan bahwa kehidupan perguruan tinggi Islam tidak boleh hanya berjalan alami, mengikuti musim sebagaimana gerak kapal layar. Jika musim angin kencang, maka kapal tersebut akan bergerak cepat. Sebaliknya, jika tidak ada angin maka gerak kapal menjadi pelan dan bahkan berhenti. Perguruan tinggi Islam, —-apalagi yang berstatus swasta, tidak boleh keadaaanya hanya sebatas mengikuti jumlah mahasiswa. Jika mahasiswanya banyak, maka dana yang dapat dihimpun besar, sehingga kampus bisa berjalan dan begitu pula ketika jumlah mahasiswa menyusut, dana yang diperoleh pun mengecil, sehingga kegiatan kampus pun menjadi lamban. Selanjutnya saya katakan, bahwa perahu layar pada saat sekarang ini sudah tidak ada lagi. Semua kapal laut sudah berubah, tidak lagi menggunakan layar, melainkan sudah digerakkan dengan mesin. Tidak ada lagi, kapal yang hanya digerakkan dengan angin yang datangnya musiman itu. Oleh karena itu, perguruan tinggi Islam, tidak terkecuali Universitas Muhammadiyah Metro, harus memiliki mesin penggerak, berupa sumber-sumber pendanaan yang tidak hanya sebatas atau menggantungkan dari jumlah mahasiswanya saja. Berbeda dengan Universitas Muhammadiyah, STAIN Metro yang berstatus negeri memiki nuansa tersendiri. Semangat berubah dan berkembang ada, tetapi tidak sebagaimana sebebas perguruan tinggi swasta. Managemmen kampus mengikuti ketentuan sebagaimana birokrasi pemerintah pada umumnya. Jika Universitas Muhammadiyah berleluasa mengembangkan kreatifitas, termasuk pengembangan pendanaan kampus ke depan, maka STAIN —–karena merupakan perguruan tinggi negeri dan belum berstatus BLU, maka tidak mungkin melakukan hal yang sama. Kesempatan mengunjungi dua perguruan tinggi Islam tersebut, saya mendapatkan kesan menarik, terkait dengan model pengembangannya masing-masing. Universitas Muhammadiyah Metro, sebagai perguruan tingggi swasta, tidak mendapatkan dukungan dana dari pemerintah, tetapi memiliki keleluasaan berkreasi untuk mengembangkan diri. Tugas itu berat, tetapi bagi pimpinan yang memiliki jiwa entrepeneur merupakan sesuatu yang menantang untuk dihadapi. Sebaliknya, STAIN Metro yang berstatus negeri, maka semua kegiatannya mengacu pada aturan yang ada, sehingga peluang-peluang kreatifitas terbatasi. Semua hal harus mengikuti aturan dan pedoman, dan jika keluar dari aturan, maka dianggap menyalahi prosedur dan salah. Pelajaran penting yang saya peroleh dari mengamati kedua jenis lembaga pendidikan tersebut, adalah terkait dengan kepemimpin dan manajemennya. Sementara ini, banyak orang mengatakan bahwa, kontrol merupakan aspek penting dalam manajemen. Karena itu harus dilakukan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi penyimpangan. Namun pada kenyataannya di lapangan yang terjadi justru sebaliknya. Di tempat-tempat yang kontrolnya ketat, seperti yang dilakukan di beberapa instansi pemerintah, bahkan di per-bank-an sekalipun misalnya, masih banyak terjadi penyimpangan. Sebaliknya, di perguruan tinggi Muhammadiyah yang hampir-hampir tidak ada kontrol, ternyata justru tidak terdengar ada penyimpangan, bahkan lembaganya juga mengalami kemajuan. Berangkat dari kasus tersebut, mestinya boleh ditarik kesimpulan, bahwa kekuatan organisasi termasuk manajemen keuangannya, bukan terletak pada aspek kontrolnya, melainkan adalah berada pada sosok kepemimpinan yang kuat dan sekaligus bisa ditauladani. Pemimpin yang kuat akan mampu mendinamisasikan organisasi dan sekaligus mencegah pemborosan dan penyimpangan. Selain itu pemimpin yang kuat akan berhasil membangun trush, tidak saja pada dirinya sendiri, melainkan juga terhadap anak buah yang dipimpinnya. Rupanya Institusi yang korup sesungguhnya menggambarkan mental para pimpinannya yang lemah dan juga korup. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *