Monday, 20 April 2026
above article banner area

Nabi Ketika Membangun Masyarakat Madinah

Mempelajari kehidupan Nabi Muhammad terutama dalam membangun masyarakat Madinah, lebih-lebih pada saat bangsa  ini menghadapi berbagai persoalan yang cukup rumit dan  komplek,  adalah sangat penting. Siapapun kiranya akan merasa sedih menyaksikan berbagai problem bangsa yang tidak mudah diselesaikan ini. Kasus-kasus korupsi yang dianggap sebagai musuh  bersama  belum  surut,  ditambah dengan berbagai  jenis problem lainnya seperti mafia pajak, mafia peradilan, mafia anggaran, konflik antar elite, kasus-kasus  penyuapan, problem TKI, penyalah gunaan obat terlarang, pengangguran,  dan masih banyak lagi lainnya.

  Berbagai persoalan bangsa  tersebut  seolah-olah tidak ada habis-habisnya.  Kasus-kasus   lama belum terselesaikan,  maka  kasus  baru muncul.  Bangsa ini  menjadi sangat kaya masalah. Semua menuntut pemerintah  agar  segera menyelesaikannya.  Pemerintah dianggap menjadi kekuatan yang  harus  menyelesaikan  semua masalah itu.  Pemerintah terlambat sedikit saja  dalam  memberikan perhatian, maka  segera  muncul komentar dan protes dari masyarakat.   Siapapun tentu tidak mudah   menyelesaikan  berbagai persoalan itu   Dalam banyak hal,  keadaan  bangsa ini terasa mirip dengan masyarakat yang dihadapi oleh Rasulullah pada  awal menjalankan misinya.   Pada saat itu,  bangsa  Arab  dikenal sebagai bangsa jahiliyah. Mereka terdiri atas kabilah-kabilah yang selalu berebut pengaruh, kekuasaan,  dan juga ekonomi. Mereka yang kaya dan kuat tidak mau menolong yang miskin, malahan  menjadikan mereka sebagai budak. Harkat dan martabat manusia tidak dihargai, apalagi orang-orang  miskin, kaum perempuan, anak yatim,  dan yang terlantar lainnya.   Keadilan  ketika itu tidak pernah mendapatkan perhatian. Siapa yang kuat, mereka itulah yang menang. Ilmu pengetahuan tidak mendapatkan perhatian dan apalagi dihargai.  Orang lebih menghargai uang dan kekuasaan.   Orang–orang  miskin tidak dihargai, dan diperintah apa saja  dilaksanakan,  sekalipun hanya diberi imbalan seadanya. Bahkan orang-orang miskin diperdagangkan. Mereka dianggap sebagai komoditas  yang bisa diperjual belikan. Ketika itu, menurut riwayat, terdapat pasar  yang khusus digunakan sebagai tempat jual beli budak. Harkat dan martabat manusia sedemikian rendahnya.   Masyarakat seperti digambarkan itu ternyata berhasil dibangun  oleh Rasulullah,  dan akhirnya menjadi masyarakat yang ideal. Sekalipun masyarakat  Madinah terdiri atas berbagai kelompok, dan bahkan juga agama, melalui Piagam Madinah, mereka berhasil dipersatukan. Perbedaan tidak menjadi halangan untuk saling bersatu dan tolong menolong. Nabi ketika itu menjadi kekuatan pemersatu,  dan sekaligus tauladan kehidupan secara utuh dan sempurna, baik terkait spiritual, intelektual,  dan perilakunya sehari-hari.   Apa  saja yang dilakukan oleh nabi ketika membangun masyarakat Madinah, di antaranya adalah sebagai berikut : Pertama,  Nabi Muhammad  mempersatukan antara kaum  Muhajirin dan kaum  Anshar.  Sekalipun  mereka  berasal dari kelompok yang berbeda,  semuanya berhasil dipersatukan secara kokoh. Persatuan di antara mereka  tidak sebatas menyentuh aspek  lahir, melainkan juga menyangkut hal   yang lebih dalam, yaitu aspek batin.  Persatuan juga dibangun di antara  umat yang berbeda agamanya,  yaitu di antara kaum muslimin dan  mereka  yang beragama Yahudi dan nasrani, melalui apa yang disebut dengan Piagam Madinah. Langkah mempersatukan umat  dipandang sebagai kunci keberhasilan dalam membangun masyarakat.   Kedua, sebagai seorang pemimpin,  nabi menyandang  sifat mulia, yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathonah.  Nabi menjadi sosok manusia yang  tindakannya selalu benar. Itulah sifat siddiq yang  disandang oleh Rasulullah. Nabi juga selalu menjaga amanah. Apa saja yang dikatakan dan dikabarkan oleh nabi selalu benar. Nabi Muhammad selalu  menyampaikan nilai-nilai, pandangan, dan bahkan wahyu yang diterima dari Allah melalui Malaikat Jibril. Tidak ada wahyu yang diterima  dan  kemudian disimpan atau dirahasiakan. Wahyu yang datang dari Allah selalu disampaikan kepada para sahabatnya, dan bahkan diminta untuk  dicatat dan dihafalkannya. Nabi juga sebagai seorang yang cerdas atau fathonah.   Ketiga, bahwa tatkala membangun masyarakat, nabi memulainya dari dirinya sendiri, dan berlanjut pada keluarga, para sahabatnya dan  kemudian akhirnya  ditiru oleh masyarakat pada umumnya. Nabi di dalam menggerakkan shalat  berjamaáh misalnya,   memulainya dari dirinya sendiri. Nabi dalam berbagai riwayat, tidak pernah shalat fardhu sendirian .  Rasulullah  selalu shalat  di masjid dan  berjamaáh.  Apa yang dikatakan oleh Nabi, maka itulah yang dijalankannya. Itulah sebabnya utusan Allah ini,   dikenal sebagai uswah hasanah atau tauladan yang baik.   Keempat,  Nabi membangun masjid. Tempat suci itu, selain digunakan  untuk shalat berjamaáh, juga  digunakan  sebagai tempat  melakukan kegiatan sosial, baik terkait dengan pendidikan, ekonomi, hukum, sosial dan lain-lain. Masjid dijadikan sebagai tempat bertemu bagi semua  orang. Persoalan apa saja yang dihadapi,   akan selesai jika  dibawa  dan diselesaikan  di  masjid. Masjid benar-benar menjadi rumah bersama, baik dalam kegiatan ritual, intelektual ——sebagai tempat musyawarah dan membagi pengetahuan, maupun  kegiatan  sosial.   Kelima, Nabi memiliki sahabat-sahabat  yang terpercaya. Mereka sepenuh hati  dalam mencintai dan mendukung perjuangan  nabi dalam semua hal.  Mereka mengikuti  nabi baik dalam suka dan duka. Para sahabat itu sepenuhnya taat dan menjalankan apa saja yang diperintahkan oleh Rasulullah. Mereka disatukan  oleh ikatan  kasih sayang yang mendalam. Di antara mereka saling mencintai sesame,  dan saling memperkukuh, tolong menolong,  dan saling  menghargai. Ikatan kekeluargaan dan kebersamaan itulah yang memperkukuh, hingga masyarakat Madinah menjadi sebuah masyarakat yang bersatu  dan  kokoh.   Perilaku  saling menyalahkan, menghujat, menghina,  dan apalagi menjatuhkan  tidak pernah terjadi. Di antara mereka terbangun sebuah persaudaraan dan persahabatan yang kokoh.  Prinsip-prinsip  itulah di antaranya yang  dibangun oleh Nabi,  hingga berhasil  mengubah dari semula  masyarakat jahiliyah menjadi  berakhlak mulia dan beradab. Tentu,  bilamana prinsip-prinsip tersebut, dijalankan oleh pemimpin bangsa ini, maka problem seberat apapun akan terselesaikan. Itulah sebenarnya, tawaran Islam dalam membangun masyarakiat  ideal. Namun persoalannya adalah, berani dan mampukah para pemimpin bangsa ini menjalankannya ? Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *