Sejak kecil, sebagai santri di desa, saya sering mendengar kisah isro’dan mi’raj. Pada setiap bulan Rajab, di mana-mana diselenggarakan peringatan peristiwa besar dan suci itu. Para mubaligh yang berceramah, selalu menjelaskan tentang hikmah yang dikandung oleh peristiwa itu. Dari waktu ke waktu, setiap mengikuti uraian peristiwa itu, yang dianggap paling penting adalah perintah menjalankan shalat lima waktu yang harus dilakukan oleh kaum muslimin secara disiplin dan istiqomah.
Selain itu, keterangan tentang isro’dan mi’raj juga saya dapatkan dari buku-buku yang ditulis oleh berbagai pengarang. Buku-buku dimaksud biasanya membahas berbagai pendapat tentang perjalanan mulia itu. Misalnya, menyangkut apakah perjalanan itu dilakukan secara sempurna, yaitu ruh dengan jasad nabi sekaligus, ataukah hanya ruh nabi saja bersama Malaikat Jibril, menghadap Tuhan di Sidratil Muntaha. Berkali-kali saya mendengar uraian isra dan mi’raj dan juga membaca berbagai buku yang berisi tentang kisah itu, namun tidak pernah merasa bosan. Peristiwa isra dan mi’raj sejak awal sudah dianggap sebagai sesuatu peristiwa yang aneh, berada di luar kebiasaan, dan kemampuan yang dimiliki oleh manusia biasa. Selain itu, juga banyak pelajaran yang bisa ditangkap dari mendengarkan dan membaca kisah peristiwa isro dan mi’raj itu. Dari akumulasi informasi yang saya dapatkan, sejak pengangkatan Muhammad sebagai rasul, peristiwa isra’ dan mi’raj, hingga perjuangan nabi dalam membangun masyarakat Islam, saya mendapatkan pemahaman tentang kehidupan nabi sebagai utusan Allah, terasa mirip dengan kerja para ilmuwan. Peristiwa itu dimulai dari pengenalan tentang konsep baik menyangkut tentang Tuhan, manusia, dan alam. Selain itu, juga diperkenalkan konsep lainnya tentang kehidupan dunia, akherat, surga, neraka, alam jin, malaikat, ruh, dan lain-lain. Konsep-konsep tersebut disampaikan melalui ayat-ayat al al Qurán dan juga hadits qudsi. Konsep tentang Tuhan, manusia, alam, jin, malaikat, surga, neraka dan lain-lain itu disampaikan, dengan berbagai cara, kisah-kisah, dan gambaran tentang fenomena yang bisa dilihat dan diamati sediri oleh nabi ketika itu. Menyangkut pengetahuan tentang alam misalnya, nabi diperintah untuk melihat keadaan bumi yang terhampar, gunung, dan juga berbagai jenis binatang, mulai dari jenisnya, hingga berbagai cara berjalannya. Setelah pengetahuan yang didapatkan lewat wahyu dan hadits qudsi itu cukup jumlahnya, maka nabi diperjalankan oleh Allah untuk melihatnya secara langsung. Nabi ditunjukkan tentang luasnya bumi ini, aneka ragam penduduk dan keadaannya, hingga berbagai jenis peristiwa yang tidak pernah dilihat, misalnya tentang langit lapis tujuh, kehidupan kembali setelah mati, berbagai peristiwa di surga dan di neraka, dan lain-lain, semuanya ditunjukkan oleh Tuhan sendiri melalui isra’dan mi’raj itu. Dalam peristiwa isro’ dan mi’raj, nabi diberi kesempatan melihat sendiri berbagai peristiwa dan keadaan yang sebelumnya disampaikan melalui ayat-ayat al Qurám berupa konsep, kisah, dan penjelasan lainnya. Selanjutnya, melalui isro’dan mi’raj, nabi dikaruniai oleh Allah kesempatan untuk menyaksikan langsung apa saja yang diwahyukan sebelumnya itu.Melalui isro’dan mi’raj, nabi dipertemukan dengan beberapa rasul, seperti Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Isa, dan lain-lain yang dikenal sudah meninggal terlebih dahulu. Maka artinya, nabi menjadi tahu, lewat mata kepalanya sendiri, bahwa orang yang sudah lama meninggal, ternyata benar bisa hidup kembali di alam lain. Selain itu, masih banyak lagi pembuktian lainnya. Bahwa sebelumnya, nabi mendapat informasi tentang langit berlapis tujuh, maka melalui isro’dan mi’raj, utusan Allah ini dipersilahkan untuk menyaksikan langsung keadaan itu. Demikian pula, tatkala sebelumnya, melalui kitab suci al Qurán diberi penjelasan tentang adanya surga dan neraka, maka pada peristiwa isro’dan mi’raj, nabi ditunjuki secara langsung apa yang disebut dengan tempat yang membahagiakan dengan tempat yang penuh dengan siksa itu. Dengan demikian, menurut gambaran saya, peristiwa isra’dan mi’raj adalah sebuah tahap verifikasi atau pembuktian terhadap apa saja yang diterima oleh nabi sebelumnya, melalui kitab suci dan hadits-hadits qudsi. Dari observasi hingga mendapatkan pengetahuan langsung itulah, maka keimanan nabi menjadi sangat kokoh, hingga diperintah apapun, —-termasuk perintah shalat sebanyak 50 kali sehari semalam, langsung diterimanya. Namun atas peringatan dari sesama rasul pendahulunya, agar Nabi Muhammad memohon keringanan, hingga akhirnya perintah shalat itu tinggal 5 kali dalam sehari semalam. Cara kerja ilmiah, bisa kita bayangkan mirip dengan proses jalan kehidupan nabi Muhammad. Kerja ilmiah diawali dari membangun konsep-konsep, dan kemudian dilanjutkan dengan observasi, baik di lapangan atau di laboratorium. Kegiatan observasi itu akan menghasilkan pengetahuan yang lebih pasti, yang dalam dunia ilmu pengetahuan disebut dengan teori. Orang mempercayai terhadap teori yang dibangun, karena telah dibuktikan di lapangan dan atau di laboratorium. Selanjutnya atas dasar kepercayaannya itu, maka seseorang akan membela, mempertahankan, dan menjalankannya dengan sepenuh hati. Demikian pula, Nabi setelah mengetahui secara langsung berbagai peristiwa gaib itu, maka diperintah apa saja,——– termasuk perintah shalat 50 kali sehari semalam diterima dan akan dilaksanakan. Berangkat dari pandangan itu, maka saya membayangkan, bahwa andaikan para pelajar atau mahasiswa tatkala belajar ilmu fisika, biologi, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah, antropologi dan lain-lain, berhasil sampai pada keyakinan yang kokoh tentang ciptaan Allah, hingga melahirkan kekaguman yang luar biasa, dan akhirnya secara spontan mengantarkannya untuk bertasbih, sebagai pertanda sampai pada puncak keyakinan terhadap Ketuhanan, maka kerja ilmiah mirip halnya dengan mi’raj. Melakukan kajian secara ilmiah, akan melahirkan pemahaman, kesadaran, dan ketaatan terhadap Sang Pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Maka itulah sebabnya, manusia ulul albaab selain diperintah untuk selalu berdzikir juga agar senantiasa berpikir tentang ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi. Sayangnya kegiatan mempelajari alam selama ini, belum dikaitkan dengan perintah Tuhan sebagaimana yang diajarkan dalam kitab suci-Nya. Bahkan pendidikan di Indonesia selama ini, ayat-ayat kawniyah diajarkan kepada para siswa, hanya sebatas dimaksudkan untuk lulus ujian nasional, dan belum sampai dijadikan sebagai upaya menumbuhkan keimanan seseorang. Mestinya, ketika seseorang mempelajari alam, ——fisika, biologi, kimia, sosiologi, sejarah dan lain-lain, maka kegiatan itu harus diposisikan sebagai cara mengenal diri, alam, dan sekaligus Tuhannya. Dengan begitu, kegiatan mengkaji ilmu pengetahuan secara ilmiah, akan mirip dengan apa yang dialami oleh Nabi Muhammad tatkala melakukan isro’dan mi’raj, hingga berhasil melahirkan manusia berkualitas, yaitu manusia yang mengenal dirinya, dan juga Tuhannya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
