Monday, 20 April 2026
above article banner area

Memahami Isro’dan Mi’raj dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan

Sejak kecil, sebagai santri di desa, saya sering mendengar kisah isro’dan mi’raj. Pada setiap bulan Rajab, di mana-mana diselenggarakan peringatan peristiwa besar dan suci itu. Para mubaligh yang berceramah, selalu menjelaskan tentang hikmah yang dikandung oleh peristiwa itu.  Dari waktu ke waktu, setiap  mengikuti  uraian  peristiwa itu, yang dianggap paling  penting  adalah perintah menjalankan shalat lima waktu yang harus dilakukan oleh kaum muslimin secara disiplin dan istiqomah.

  Selain itu,  keterangan tentang isro’dan mi’raj  juga saya dapatkan  dari buku-buku yang ditulis oleh berbagai pengarang.  Buku-buku dimaksud biasanya membahas  berbagai pendapat tentang perjalanan mulia itu. Misalnya,  menyangkut apakah perjalanan itu dilakukan secara sempurna, yaitu  ruh dengan jasad nabi sekaligus, ataukah hanya ruh nabi saja bersama Malaikat Jibril,  menghadap Tuhan di Sidratil Muntaha.      Berkali-kali saya mendengar uraian isra dan mi’raj dan juga membaca berbagai buku yang berisi tentang kisah itu, namun  tidak pernah merasa bosan. Peristiwa isra dan mi’raj  sejak awal  sudah dianggap sebagai  sesuatu peristiwa yang aneh, berada di luar kebiasaan,  dan  kemampuan yang dimiliki oleh manusia biasa.  Selain itu, juga banyak pelajaran yang bisa ditangkap  dari mendengarkan dan membaca kisah  peristiwa isro dan mi’raj itu.   Dari akumulasi informasi yang saya dapatkan,  sejak  pengangkatan  Muhammad sebagai rasul, peristiwa isra’ dan mi’raj,  hingga  perjuangan nabi dalam membangun masyarakat Islam, saya mendapatkan pemahaman tentang  kehidupan nabi sebagai  utusan Allah,  terasa  mirip   dengan  kerja  para  ilmuwan. Peristiwa itu dimulai dari pengenalan tentang konsep  baik menyangkut  tentang Tuhan, manusia,  dan alam. Selain itu, juga diperkenalkan konsep lainnya tentang kehidupan dunia, akherat, surga,  neraka, alam jin, malaikat, ruh, dan lain-lain.     Konsep-konsep  tersebut disampaikan melalui ayat-ayat al al Qurán dan juga hadits qudsi.  Konsep  tentang Tuhan, manusia,  alam, jin, malaikat, surga,  neraka dan lain-lain itu  disampaikan,  dengan berbagai cara,  kisah-kisah, dan gambaran tentang  fenomena yang bisa dilihat dan diamati sediri oleh nabi ketika itu. Menyangkut pengetahuan tentang  alam  misalnya, nabi diperintah untuk melihat  keadaan   bumi yang terhampar, gunung, dan juga berbagai  jenis binatang,  mulai dari jenisnya,  hingga berbagai cara berjalannya.   Setelah pengetahuan yang didapatkan lewat wahyu dan hadits qudsi   itu cukup jumlahnya, maka nabi diperjalankan oleh Allah untuk melihatnya secara langsung.  Nabi ditunjukkan  tentang luasnya bumi    ini, aneka ragam penduduk dan  keadaannya, hingga berbagai jenis peristiwa yang tidak pernah dilihat, misalnya tentang langit lapis tujuh, kehidupan kembali setelah mati, berbagai peristiwa di surga dan di neraka, dan lain-lain, semuanya ditunjukkan oleh Tuhan sendiri melalui isra’dan mi’raj itu.   Dalam peristiwa isro’ dan mi’raj,  nabi diberi kesempatan  melihat sendiri berbagai peristiwa dan keadaan yang sebelumnya disampaikan  melalui ayat-ayat al Qurám berupa  konsep, kisah, dan penjelasan lainnya. Selanjutnya, melalui isro’dan mi’raj, nabi   dikaruniai oleh Allah  kesempatan untuk menyaksikan langsung apa saja  yang diwahyukan  sebelumnya itu.Melalui isro’dan mi’raj,  nabi dipertemukan dengan beberapa rasul, seperti Nabi Adam,  Nabi Ibrahim, Nabi  Musa, Isa, dan lain-lain  yang dikenal  sudah meninggal terlebih dahulu. Maka artinya, nabi menjadi tahu,  lewat  mata kepalanya sendiri, bahwa orang yang sudah lama meninggal, ternyata benar  bisa hidup kembali di alam lain.   Selain itu, masih banyak lagi pembuktian lainnya.   Bahwa sebelumnya,  nabi mendapat informasi  tentang  langit berlapis tujuh, maka melalui isro’dan mi’raj, utusan Allah ini dipersilahkan untuk  menyaksikan langsung  keadaan itu. Demikian pula, tatkala  sebelumnya,  melalui kitab suci al Qurán diberi penjelasan  tentang adanya surga dan neraka, maka pada peristiwa isro’dan mi’raj, nabi ditunjuki secara  langsung apa yang disebut dengan tempat yang membahagiakan dengan tempat yang penuh dengan siksa itu.   Dengan demikian, menurut gambaran saya, peristiwa isra’dan mi’raj adalah sebuah tahap verifikasi atau pembuktian  terhadap apa saja yang diterima oleh nabi sebelumnya,  melalui kitab suci dan hadits-hadits qudsi. Dari observasi hingga mendapatkan pengetahuan langsung itulah, maka keimanan nabi menjadi sangat kokoh, hingga diperintah apapun, —-termasuk perintah shalat sebanyak 50 kali sehari semalam, langsung  diterimanya. Namun  atas  peringatan dari  sesama rasul pendahulunya, agar Nabi Muhammad memohon keringanan,  hingga akhirnya perintah shalat itu  tinggal 5 kali dalam sehari semalam.   Cara kerja ilmiah,  bisa kita bayangkan  mirip dengan proses jalan kehidupan  nabi Muhammad. Kerja ilmiah diawali dari membangun  konsep-konsep, dan kemudian dilanjutkan dengan observasi, baik di lapangan atau di laboratorium. Kegiatan observasi itu akan menghasilkan pengetahuan yang lebih pasti, yang dalam dunia ilmu pengetahuan disebut dengan teori.  Orang  mempercayai terhadap  teori yang dibangun,  karena telah dibuktikan  di lapangan dan atau di laboratorium. Selanjutnya atas dasar kepercayaannya itu,  maka seseorang  akan membela, mempertahankan,  dan  menjalankannya dengan sepenuh hati. Demikian pula, Nabi setelah mengetahui secara langsung berbagai peristiwa  gaib itu,  maka diperintah apa saja,——– termasuk perintah shalat 50 kali sehari semalam diterima dan akan dilaksanakan.     Berangkat dari pandangan itu, maka  saya membayangkan, bahwa andaikan para pelajar atau mahasiswa  tatkala belajar ilmu fisika, biologi, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah, antropologi dan lain-lain, berhasil  sampai pada keyakinan  yang kokoh tentang ciptaan Allah, hingga melahirkan kekaguman yang luar biasa,  dan akhirnya  secara spontan  mengantarkannya untuk bertasbih, sebagai pertanda sampai pada puncak keyakinan terhadap Ketuhanan, maka  kerja ilmiah mirip  halnya dengan mi’raj. Melakukan kajian secara ilmiah, akan melahirkan pemahaman, kesadaran,  dan ketaatan terhadap Sang Pencipta,  yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Maka itulah sebabnya, manusia ulul albaab selain diperintah untuk selalu berdzikir juga agar senantiasa  berpikir tentang ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi.   Sayangnya kegiatan  mempelajari alam selama ini, belum dikaitkan dengan perintah Tuhan sebagaimana yang diajarkan  dalam  kitab suci-Nya.  Bahkan pendidikan di Indonesia selama ini,   ayat-ayat kawniyah diajarkan kepada para siswa,   hanya sebatas dimaksudkan untuk lulus ujian nasional,  dan belum sampai dijadikan sebagai  upaya menumbuhkan keimanan seseorang. Mestinya, ketika seseorang  mempelajari alam, ——fisika, biologi, kimia, sosiologi, sejarah dan lain-lain, maka kegiatan itu harus diposisikan sebagai cara mengenal diri, alam, dan sekaligus Tuhannya. Dengan begitu, kegiatan mengkaji ilmu pengetahuan secara ilmiah,  akan mirip  dengan apa yang dialami oleh  Nabi Muhammad tatkala melakukan isro’dan mi’raj,   hingga  berhasil melahirkan  manusia berkualitas, yaitu manusia yang mengenal dirinya, dan juga  Tuhannya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *