Niat merupakan aspek penting untuk meraih keberhasilan. Bahkan dalam sebuah hadits nabi dikatakan bahwa, semua pekerjaan tergantung pada niatnya. Hanya dengan niat yang benar, kukuh, sungguh-sungguh, maka pekerjaan akan berakhir dengan keberhasilan. Atas dasar itu, maka apapun harus didasari dengan niat yang benar. Niat tidak boleh keliru. Sekolah atau kuliah misalnya, harus didasari oleh niat yang benar, yaitu dengan ikhlas mencari ilmu, mendapatkan ridho dari Allah. Bersekolah atau kuliah dengan niat hanya agar lulus ujian, maka akan lulus dan mendapat ijazah, tetapi belum tentu ilmunya didapat. Bersekolah atau kuliah yang hanya didasari niat agar mendapatkan ijazah, maka semua ilmu yang telah dipelajari, setelah ijazah itu diperoleh, menghilang. Apa yang telah diusahakan seperti tidak membekas. Hal itu terjadi, karena ia masuk sekolah atau kuliah bukan berniat mencari ilmu, melainkan mendapatkan ijazah itu. Akhirnya, ijazah tokh sudah berhasil diraihnya. Demikian juga, pada akhir-akhir ini banyak orang berkeinginan dan berniat menjadi pejabat. Mereka ikut mencalonkan diri sebagai calon bupati, wali kota, gubernur, anggota DPRD, DPR dan bahkan presiden. Akhirnya niat itu terlaksana dan berhasil terpilih. Mereka berhasil menduduki posisi penting itu. Seperti disebutkan di muka, bahwa niatnya adalah menjadi pejabat, bukan yang lain. Yang dibayangkan olehnya adalah menduduki jabatan itu. Dengan jabatan itu mereka berharap mendapatkan kehormatan, fasilitas, prestise, dan lain-lain. Selain itu tidak ada yang terbayangkan, termasuk tanggung jawab dan harapan dari rakyat yang akan dipimpinnya. Dengan niat menjadi pejabat itu, mereka bersedia mengeluarkan biaya besar, berapapun jumlahnya. Karena itu jika niat tersebut berhasil dan kemudian tidak banyak melakukan perubahan untuk kesejahteraan rakyat, baginya belum tentu menjadi beban. Yang penting baginya adalah menjadi pejabat, dan uang yang telah dikeluarkan sebelumnya berhasil kembali, dan syukur kalau bertambah. Akhir-akhir ini banyak orang menyadari, bahwa negeri kita ini, dalam banyak hal tertinggal bila dibandingkan dengan negari tetangga. Namun pertanyaannya, apakah memang selama ini kita telah berniat maju untuk memenangkan kompetisi itu. Jika kita benar-benar berniat maju dan maju bersama, maka seharusnya apa yang dilakukan adalah berniat dan secara sungguh-sungguh menjalankan program-program untuk meraih cita-cita itu. Akan tetapi, sejak beberapa tahun terakhir, bangsa ini masih disibukkan dalam menghadapi berbagai musibah, seperti misalnya gempa bumi, tanah longsor, banjir, gunung meletus, puting beliung, berbagai penyakit. Bahkan akhir-akhir ini kesibukan itu meningkat, dengan masih harus berselisih pendapat tentang penanganan korupsi, termasuk penyelesaian kasus Bank Century. Maka agar kita tidak selalu tertinggal dari negara lain, mestinya mau mengesampingkan hal yang tidak produktif, dan segera berniat maju serta berusaha meraihnya. Wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
