Dalam al Qur’an, orang sukses itu disebut sebagai orang yang bertaqwa. Ciri-cirinya dijelaskan pada awal surat al Baqoroh dalam al Qur’an dengan sangat jelas. Di antara ciri-ciri itu, dua di antaranya adalah beriman pada yang ghaib dan yakin akan hari akhir. Yang ghaib artinya adalah yang tidak bisa ditangkap oleh indera, tetapi ada. Orang yang hanya percaya terhadap yang tampak, yang empirik, atau yang nyata, ternyata tidak masuk orang sukses. Sementara, kebenaran ilmiah, hanya berada pada wilayah ini.
Apa yang disebut sebagai yang ghaib itu juga banyak jumlahnya. Di antaranya adalah Tuhan, malaikat, jin, qodho dan qodar, surga dan neraka, yang semua itu tidak kelihatan, namun diyakini ada. Hal itu semua dipercayai, atas dasar berita dari kitab suci, yang dibawa oleh para rasul. Artinya, orang yang berpeluang menjadi sukses adalah mereka yang sanggup mempercayai terhadap sesuatu, termasuk yang tidak bisa dilihat olehnya sekalipun. Memang, tidak mudah mempercayai sesuatu yang tidak pernah dilihat. Hal itu membutuhkan kemampuan intelektual yang tinggi. Orang yang berpikiran lemah tidak akan bisa mempercayai sesuatu yang tidak pernah dilihatnya. Apa yang tidak pernah dilihat, bagi orang yang lemah, maka dianggap tidak ada. Berbeda dengan itu, adalah orang cerdas. Orang cerdas dengan kemampuannya yang tinggi, justru sebaliknya, mampu berkhayal bahwa di balik yang tampak ada sesuatu lagi yang ada. Suasana batin seperti ini akan melahirkan pandangan luas dan sikap optimisme. Secara sederhana, orang cerdas akan mengatakan bahwa pengetahuan baru, pada setiap saat, selalu muncul dalam jumlah yang tidak terbatas. Lewat perenungan, kajian dan penelitian, selalu ditemukan hal baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses ini memberikan petunjuk bahwa pengetahuan seseorang adalah sangat terbatas, tidak pernah mengenal sempurna. Kesadaran akan ketidak-sempurnaan ini, justru mengantarkan seseorang pada keimanan terhadap yang ghaib itu. Sebaliknya orang yang lembek pikirannya, selalu menganggap bahwa mereka sudah mengetahui segala-galanya. Mereka merasa bahwa, yang ada itu adalah yang berhasil dilihat dan diketahui. Selainnya dianggap tidak ada. Orang seperti ini bisa dikatakan sombong. Pengetahuannya terbatas, hingga keterbatasan dirinya sendiri tidak diketahui olehnya. Orang seperti ini, tidak akan sukses, karena serba tertutup. Indera, pikiran dan hatinya tertutup. Mereka sebenarnya berada pada dunia sempit, karena ketertutupannya itu, hingga pandangan hidupnya menjadi terbatas. Maka artinya, orang sukses atau disebut bertaqwa adalah orang yang berhasil membuka hati, pikiran dan jiwanya. Hanya orang-orang sanggup membuka dirinya, maka mereka itu akan mengalami kesuksesan. Namun ternyata, tidak semua orang sanggup membuka diri. Orang seperti itu merasa sudah penuh, maksimal, dan berada pada puncak pengetahuan. Sementara, alam terbentang luas, termasuk yang disebut ghaib itu. Al Qur’an melalui konsep taqwa menyadarkan betapa jagad raya ini terbentang sedemikian luas, sehingga tidak mungkin manusia menjangkau seluruhnya. Ciri lainnya adalah percaya pada hari akhir. Kepercayaan itu melahirkan kekuatan baru sehingga secara terus menerus tanpa henti, berusaha meraih yang terbaik, atau yang disebut khusnul khotimah. Orang yang tidak meyakini adanya hari akhir, sama artinya dengan orang yang tidak memiliki cita-cita. Bisa dibayangkan, bahwa orang yang miskin cita-cita, kapan dan di manapun tidak akan sukses. Tuhan menunjukkan bahwa ada sesuatu di balik yang tampak, dan demikian pula, ada masa depan yang lebih baik. Keyakinan itu akan melahirkan semangat atau kekuatan untuk meraihnya. Memahami ciri-ciri orang bertaqwa sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an itu, maka sebenarnya orang taqwa adalah orang sukses. Orang sukses adalah orang yang mempercayai bahwa di balik yang ada masih terbentang luas sesuatu yang lain. Selain itu, bahwa masa yang akan datang yang lebih baik, dan bahkan terbaik bisa diraihnya. Suasana batin atau keyakinan seperti itulah yang sebenarnya, yang akan melahirkan semangat untuk meraih sukses atau disebut taqwa itu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
