Dua hari lalu, saya datang di sebuah hotel, mengkuti kegiatan rapat kerja. Saya tidak menginap di tempat itu, karena memang tidak diharuskan. Saya lebih suka istirahat di rumah daripada di tempat lain, agar tugas sehari-hari, yaitu menjadi imam shalat subuh di masjid sebelah rumah bisa saya tunaikan.
Bangunan hotel tempat rapat kerja itu besar dan indah. Pilar-pilar besar penyangga gedung hotel tersebut menjadikan bangunan itu tampak gagah dan kokoh. Letaknya di lereng gunung, maka keindahannya tampak sempurna. Selain itu, kolam renang berukuran besar di sebalah kamar-kamar yang berjejer juga ikut melengkapi keindahan hotel itu. Namun di antara berbagai keindahan di sekitar hotel itu, yang justru lebih menarik bagi saya adalah sebatang pohon pinang tua yang dibiarkan tetap tumbuh di antara berbagai bangunan itu. Jika dilihat dari batangnya yang sudah sedemikian tinggi, maka umur pohon pinang itu mungkin sudah puluhan tahun. Bisa jadi, sebelum hotel itu dibangun, pohon itu sudah ada di tempat itu terlebih dahulu. Pohon pinang itu hanya satu, sehingga siapapun dapat melihat dengan mudah. Namun saya tidak yakin, apakah semua orang yang datang ke hotel itu menaruh perhatian pada pohon itu. Mungkin banyak orang tidak peduli, untuk apa memperhatikan pohon itu. Di mana-mana terdapat pohon pinang, tidak ada sesuatu yang aneh. Ketika datang, perhatian saya justru pada pohon tua itu. Bagi saya, keindahan hotel itu telah disempurnakan oleh pinang tua itu. Karena itu benar jika pemilik hotel tersebut mempertahankan tanaman itu. Selain itu, dari pohon pinang tua itu, saya menangkap pelajaran penting. Saya membayangkan bahwa, sebelum hotel itu dibangun, banyak pohon pinang di tempat itu. Biasanya di daerah pegunungan banyak tumbuh pohon liar tanpa sengaja di tanam. Jika pada saat ini hanya tinggal satu, maka yang lain sudah dipotong agar tidak terlalu rindang dan mengganggu. Satu-satunya pohon pinang yang dibiarkan tumbuh itu menjadikan suasana hotel bertambah anggun dan indah. Batangnya yang sedemikian tinggi, sekalipun daun-daunnya tidak kelihatan terlalu subur, ——karena memang sudah tua, jenis pohon hutan itu sebenarnya memberikan pelajaran penting tentang kehidupan, setidak-tidaknya bagi orang yang mau menangkapnya. Melihat pohon pinang itu, segera imajinasi saya terbawa pada kehidupan sosial sehari-hari. Saya membayangkan bahwa, keberadaan seseorang dalam kehidupan sosial, sebenarnya sama dengan sebatang pohon pinang tua itu. Pohon pinang tua itu tetap dipertahankan, oleh karena masih dianggap penting dan atau bahkan diperlukan untuk menambah keindahan lingkungannya. Umpama saja pohon pinang itu dianggap menganggu keindahan dan atau tidak member manfaat apa-apa, maka akan segera dipotong dan dibuang. Begitu pula kiranya kehidupan seseorang. Siapapun akan tetap dipertahankan jika masih mampu memberi manfaat. Akan tetapi sebaliknya, jika dianggap sudah tidak ada gunanya, dan bahkan keberadaannya selalu mengganggu yang lain, —— cepat atau lambat, maka akan tersingkir. Dalam kehidupan sosial, hal sederhana ini tidak semua orang menyadarinya. Ada saja orang, sekedar bermaksud mengejar kepentingannya sendiri, maka orang lain dipersulit dan atau diganggu. Tampaknya ia senang jika orang lain terganggu dan merasa susah. Sebaliknya, Ia merasa susah jika orang lain mendapatkan kesenangan. Orang seperti ini sebenarnya dalam keadaan sakit, sehingga keberadaannya selalu menyusahkan orang lain. Ada saja seseorang yang ingin dirinya sendiri untung, sekalipun merugikan orang lain. Atau, dalam memperjuangkan kepentingannya sendiri,——- merasa tidak salah, menempuh cara merugikan orang lain. Menyakiti orang lain dianggap biasa. Mereka ingin menangnya sendiri. Kalah atau menang selalu menjadi ukuran hidupnya. Namun, ia harus menang dan menganggap tidak mengapa, ——- dengan kemenangannya itu, menjadikan orang lain menderita. Belajar dari pohon pinang sebagaimana dikemukakan di muka, maka semestinya siapapun harus mampu menjadikan dirinya penting bagi lingkungannya. Orang-orang yang menyandang sifat demikian itu, maka kapan pun keberadaannya akan dipertahankan. Jika kebetulan tidak hadir, maka mereka akan ditunggu dan dinanti-nantikan kehadirannya. Keberadaannya selalu menenteramkan dan atau memperindah lingkungan sosialnya. Islam mengajarkan bahwa hendaknya setiap muslim menjadi rakhmat bagi yang lain, atau sebagaimana kehidupan nabi sebagai rahmatan lil alamien. Kaum muslimin hendaknya, di manapun selalu memberi manfaat bagi lingkungannya. Keberadaannya selalu dianggap penting dan memberi manfaat terhadap semuanya. Sehingga, sebagaimana pohon pinang tua di lingkungan hotel tersebut, tetap dipertahankan, karena keberadaannya menambah keindahan. Manusia dikaruniai derajad mulia, mestinya lebih dari sekedar pohon pinang. Apalagi seorang yang menyebut dirinya beriman dan bertaqwa, maka sehari-hari, —–sepanjang waktu, seharusnya berpikir tentang saham apa yang diberikan untuk memperindah kehidupan ini. Hidup harus memberi manfaat bagi yang lain. Itulah ukuran keberhasilan yang hakiki. Wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
