Friday, 19 June 2026
above article banner area

Petani Di Pedesaan

Beberapa hari lalu, saya kebetulan pulang ke desa, tempat kelahiran saya. Sekalipun kedua orang tua sudah tidak ada, suatu saat masih terasa rindu teradap kampung halaman. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh, cukup bisa ditempuh sekitar tiga setengah jam, menggunakan mobil. Biasanya pulang kampung itu, di hari libur, sekalipun juga tidak selalu. Berangkat pagi, sore sudah nyampai di rumah kembali. Dulu, ketika ayah dan ibu masih ada, hampir setiap bulan sekali menyempatkan pulang untuk menjenguk mereka. Tetapi, sejak ayah dan ibu telah tiada, hanya sekali-kali pulang, sekedar melihat-lihat dan memperbaiki, —–kalau sedang diperlukan, peninggalan orang tua, yaitu sebuah masjid dan madrasah. Orang tua, ketika masih hidup dulu, sangat menyenangi kedua hal itu. Setiap pulang ke desa, saya selalu ingat terhadap kehidupan petani. Sejak kecil, saya sudah belajar bertani. Pekerjaan itu gampang dilakukan. Apalagi bertani dengan cara tradisional. Hanya saja, jika dilakukan dengan cara itu, hasilnya tidak terlalu banyak. Pendapatan petani tradisional ditentukan oleh luasnya lahan, kesesuaian antara jenis tanaman dengan musim, kecukupan pupuk, dan tiadanya gangguan, seperti hama atau cuasa. Jika semua itu bisa terpenuhi, maka hasilnya akan maksimal. Sejak lama para petani di pedesaan mendapatkan pembinaan dari pemerintah, untuk meningkatkan hasilnya. Tetapi dampaknya tidak banyak terlihat secara signifikan. Pemerintah menawarkan pupuk, bibit unggul, dan cara-cara bertanam dan lain-lain. Namun ternyata hasilnya belum bisa mengangkat tingkat kesejahteraan mereka. Para petani, saya lihat hidupnya masih sama dengan 40 tahun yang lalu, ketika saya masih hidup di desa. Kalaupun ada perubahan, tidak seberapa. Perkembangan kehidupan di desa, yang dirasakan cukup mencolok adalah terkait dengan pemenuhan fasilitas umum. Dulu di desa, jalan-jalan belum beraspal, listrik belum ada, kendaraan terbatas, apalagi sarana komunikasi seperti tilpun, masih belum terbayangkan. Berbeda dengan dulu, pada saat ini, semua fasilitas itu sudah ada. Jalan-jalan sudah beraspal, listrik sudah merata di setiap rumah. Sekalipun tilpun rumah belum ada, sebagian petani sudah punya HP. Begitu juga alat transportasi, banyak orang sudah punya sepeda motor. Dulu orang pergi ke pasar atau ke mana-mana hanya dengan berjalan kaki. Sekarang, setiap saya pulang ke desa, sudah tidak banyak melihat pandangan seperti itu lagi. Orang bepergian dengan jalan kaki rupanya sudah malas, atau merasa kurang bergengsi. Banyak orang sudah menggunakan sepeda motor atau mobil angkutan umum, sekalipun hanya dengan kendaraan jenis mobil terbuka. Hidup di desa masih seperti dulu, dirasakan sulit. Oleh karena itu, banyak anak-anak muda di pedesaan lebih memilih pergi ke kota, untuk mencari kerja atau bahkan ke luar negeri bekerja sebagai sopir atau di pabrik. Bagi orang desa, kerja sebagai TKI ke luar negeri, merupakan pilihan terbaik. Dengan bekerja ke luar negeri sebagai TKI, kondisi ekonomi bisa meningkat. Pulang dari luar negeri, dengan upah yang didapat, mereka bisa membangun rumah, dan bahkan juga membeli kendaraan. Banyaknya anak muda bekerja ke kota atau menjadi TKI, menyebabkan penghuni desa tinggal orang tua dan anak-anak. Memang masih ada, anak-anak muda yang betah tinggal di desa, tetapi jumlahnya sudah jauh berkurang dari semestinya. Akibatnya, tenaga kerja di desa tidak gampang didapat dan tidak gratis lagi. Di desa pun sekarang sudah tidak ada lagi tenaga kerja sukarela. Semua jenis jasa harus dibayar dengan menggunakan uang. Kegiatan seperti memetik kelapa, cengkih, mengusung padi dari sawah atau hutan, dulu bisa dilakukan secara gotong royong. Sekarang, cara seperti itu sudah tidak ada lagi. Kehidupan di pedesaan sekarang ini sudah hampir-hampir sama dengan di kota. Semua sudah diwarnai oleh uang. Apa saja harus melalui transaksi. Jika tidak ada uang, maka apapun tidak bisa berjalan. Bahkan pembangunan madrasah, masjid, atau sarana umum lainnya, sudah tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara gotong royong. Aspek inilah yang sudah berubah di pedesaan dibanding dari keadaan dulu yang tidak demikian. Solusi yang diperlukan bagi para petani di pedesaan saat ini adalah, terkait rendahnya hasil pertanian, lebih-lebih bila diukur dengan uang. Di pedesaan, terasa sekali, tidak banyak uang yang beredar. Uang terasa sedemikian mahal. Sehingga hasil-hasil pertanian sangat rendah harganya jika diukur dengan nilai uang. Hasil pertanian sebenarnya cukup banyak, tetapi tidak sesuai dengan nilai uang yang didapat. Apalagi jika dibandingkan dengan upah bekerja di kota, atau bahkan sebagai TKI di luar negeri. Inilah salah satu sebab, mengapa anak-anak muda pada hijrah dari desanya. Nilai hasil pertanian di pedesaan terasa sangat rendah jika ditukar dengan uang. Bisa dibayangkan, sebutir kelapa hanya dihargai sekitar Rp. 1.000,- ; pisang satu tandan besar hanya Rp. 5.000,-, termasuk hasil-hasil lainnya seperti padi, polowijo, jagung, ketela pohon, dan lain-lain. Nilai tukar seperti itu terasa sangat rendah dan tidak mencukupi untuk membiayai kebutuhan hidup, seperti membayar biaya listrik, minyak dan lain-lain. Untuk mendapatkan uang Rp. 1.000.000,- petani harus menjual kelapa seribu butir, atau pisang dua ratus tandan. Padahal untuk mendapatkan kelapa dan pisang sebanyak itu harus memiliki ratusan pohon dan menunggu waktu sekian lama. Keadaan seperti itulah yang menjadikan orang desa, khususnya yang bekerja sebagai petani, merasa sangat berat tatkala harus membiayai para putra-putrinya menempuh pendidikan di perkotaan. Petani desa, yang umumnya hanya memiliki tanah kurang dari satu hektar, sangat berat menanggung beban hidup jika harus membayar dengan uang. Petani di pedesaan belum merasa teringankan bebannya,—– bahkan semakin berat, karena harga hasil pertanian tidak sebanding dengan nilai uang yang didapat. Itulah sebabnya, banyak anak-anak pedesaan meninggalkan tradisi orang tuanya sebagai petani, dan lebih memilih pergi ke kota, atau ke luar negeri sebagai TKI. Namun demikian, betapapun beratnya hidup, saya merasakan, desa masih memiliki daya tarik tersendiri. Sudah lama saya meninggalkan desa, dan sekarang hidup di kota, tetapi seringkali masih merindukannya. Hidup di desa dengan penuh persaudaraan, gotong royong, damai, saling mengenal, berbagi kasih sayang, semua itu sebenarnya tidak bisa hanya dihargai dengan uang. Saya selalu teringat akan kenikmatan hidup di pedesaan, apalagi pada setiap tanggal 2 Januari, ——-menurut catatan harian ayah saya, merupakan tanggal kelahiran saya , sebagai anak petani desa, genap 59 tahun yang lalu. Sebagai petani di pedesaan, —–ayah dan ibu saya, sekalipun berat, ternyata bisa mendidik anaknya yang berjumlah 16 orang, termasuk saya. Saya selalu berdoa, semoga semua itu, menjadi amal sholeh. Setiap saat saya selalu ingat pesannya, yang selalu diulang-ulang, agar anak-anaknya, di mana dan kapan saja selalu memakmurkan masjid dan madrasah. Pesan itu memberikan inspirasi bagi saya, bahwa seberat apapun orang harus memikirkan tempat ibadah dan madrasah atau pendidikan. Pesan orang tua, yang kebetulan hanya sebagai petani desa itu, saya rasakan sangat tepat. Keduanya, ——masjid dan madrasah, memang sedemikian strategis bagi kehidupan masyarakat, di mana dan kapan pun saja. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *