Mungkin tidak ada yang menyangka, bahwa tatkala masih kecil hidup di desa, saya bertugas sebagai penggembala kerbau. Saya pernah menjadi penggembala kambing, itik, sapi, dan kuda. Tapi yang paling pertama kali, saya ditugasi sebagai penggembala kerbau. Saya tidak ingat persis, pada umur berapa mulai bertugas sebagai penggembala kerbau itu. Saya ingat, saya khitan pada klas dua Sekolah Rakyat, sekarang bernama SD. Ketika khitan itu, saya sudah bertugas sebagai penggembala. Karena itu, mungkin sebelum masuk sekolah rakyat, saya sudah diberi tanggung jawab mengurus ternak berukuran besar itu. Umpama kejadian itu sekarang, mungkin ayah saya dianggap salah, mempekerjakan anak di bawah umur. Hal itu jelas bertentangan dengan undang-undang. Untung itu terjadi pada awal tahun lima puluhan. Saat itu belum dikenal sebutan undang-undang hak anak, peraturan, atau apa, apalagi bagi anak-anak di pedesaan. Saya ingat, di awal sebagai penggembala, saya mendapatkan pengalaman yang tidak pernah saya lupakan. Bersama-sama dengan teman-teman sebaya yang berperan sama, —–sebagai penggembala, saya pernah ditangkap oleh mandor hutan. Ketika itu memang ada larangan mengembala kerbau di sembarang tempat. Larangan itu saya abaikan. Karena memang saya tidak begitu mengerti tentang larangan itu. Melihat ada mandor hutan, saya lari sekuat-kuatnya. Mandor hutan tersebut, ternyata mengejar, akhirnya saya ditangkap. Ketika itu saya merasa takut bukan main. Tidak ada jalan lain, cara saya membela diri, kecuali saya menangis sekuat-kuatnya. Mendengar, tangis anak kecil, banyak orang yang tinggal di pinggir hutan, datang bermaksud menolong. Melihat banyak orang datang, justru mandor hutan ganti yang takut. Ia kemudian lari meninggalkan saya. Tetapi sudah terlanjur, mandor tersebut dikenali namanya. Mandor itu rupanya takut, bukan saja karena banyak orang datang, mau menololong saya, tetapi juga takut, setelah tahu, bahwa saya adalah anak sesepuh di desa itu. Saya masih ingat, besuk harinya, mandor hutan datang ke rumah, meminta maaf kepada orang tua saya atas kesalahannya. Padahal sesungguhnya, dia juga tidak salah, harus menunaikan tugasnya. Menggembala kerbau, yang kebetulan rumah saya tidak jauh dari hutan, tidak sulit. Pagi kerbau saya lepas dari kandang, dan selanjutnya menghalau binatang ternak itu ke hutan. Setelah masuk hutan, dilepas dan dibiarkan begitu saja agar memakan rumput. Sorenya ternak itu dicari selanjutnya dimasukkan ke kandang lagi. Tatkala, melepas dan menghalau kembali itulah, seringkali ketemu mandor hutan yang menakutkan itu. Dalam bernostalgia sebagai penggembala, saya akan menuturkan pengalaman tentang watak atau perilaku kerbau yang saya kenali, yang mungkin bersifat universal. Artinya, di mana dan kapan saja, binatang yang menurut sejarahnya, berasal dari Benua Afrika itu memiliki cirri-ciri yang sama. Menceritakan tentang perilaku kerbau, bukan bermaksud saya ingin menyinggung perasaan siapa-siapa. Pengalaman ini saya tuturkan hanya sebatas bernostalgia belaka. Beberapa ciri atau kharakter kerbau yang saya kenali adalah sebagai berikut. Kerbau itu selalu hidup berkelompok atau bersama-sama, tetapi anehnya jenis ternak itu tidak pernah bersatu. Kerbau tidak pernah berpisah-pisah. Satu sama lain saling mengenal anggota kelompoknya. Jika seekor kerbau, pergi menuju suatu tempat, maka yang lain akan ikut. Namun tidak ada satu kerbau yang diperlakukan sebagai pemimpinnya. Masing-masing bisa berperan sebagai pemimpin. Namun anehnya, sekelompok kerbau bisa selalu bersama-sama. Lucunya lagi, kerbau tidak pernah bersatu. Yang saya maksud sebagai bersatu, adalah saling bersolider, saling menolong, atau saling membela. Kerbau hanya bersama, tetapi kebersamaannya itu tidak memiliki makna apa-apa terhadap yang lain. Sebagai contoh, umpama salah seekor kerbau diserang oleh srigala, maka kerbau yang lain tidak akan membela. Beberapa srigala biasanya bersatu, untuk menyerang seekor kerbau bersama-sama. Pada saat seperti itu, kerbau-kerbau yang lain, ——-walaupun hidup sekelompok, tidak akan pernah membela kawannya yang lagi diserang srigala itu. Padahal, pada saat yang lain, srigala akan ganti menyerang dan menjadikan pesta bersama, terhadap kerbau yang tidak punya naluri peduli teman itu. Contoh lainnya, jika kerbau memiliki anak, maka tatkala di kandang, kerbau kecil selalu diletakkan di posisi tengah. Para induk kerbau, agar aman mengambil tempat secara rapi. Masing-masing memposisikan kepalanya di bagian luar, sebaliknya pantatnya membentuk lingkaran. Sedangkan anak kerbau diletakkan di tengah-tengah lingkaran yang dibentuknya itu. Mungkin, menurut logika kerbau ——kalaupun punya, agar anaknya itu aman dari apapun yang akan mengganggu. Akan tetapi, jika ada serangan terhadap anak kerbau itu, ternyata induk kerbau, dan kerbau lainnya juga tidak akan membelanya. Itulah maka saya katakan, bahwa kerbau itu berkumpul, tetapi tidak pernah bersatu. Ciri atau kharakter kedua, bahwa kerbau tidak pernah bertengkar dengan kelompoknya sendiri. Jika ada bermusuhan antar kerbau, biasanya terjadi antar kelompok. Karena itu, akan sulit dan bahkan tidak bisa mengadu kerbau di antara sesame kelompoknya. Memang biasanya, kerbau jantan antar kelompok, sebagai cara berkenalan di antara mereka, akan melakukan adu kekuatan, saling menyerang. Ciri atau watak lain yang saya kenali, bahwa kerbau termasuk binatang yang sangat lamban. Binatang ini jinak, mudah dihalau, penurut, tetapi juga disiplin. Kerbau selalu buang hajat di tempat yang sama. Kalau saya menghalau kerbau, di suatu tempat binatang ini, —–maaf, buang hajat, maka ketika lain kali melewati tempat itu lagi, kerbau tersebut juga akan melakukan hal yang sama, membuang hajat lagi di tempat itu. Pak Malik Fadjar, sebelum menjadi Menteri Agama dan juga Menteri Pendidikan Nasional dulu, pada suatu ketika berkunjung ke desa saya. Memang, beliau jika ada waktu, senang bersilaturrahmi ke pedesaan, termasuk ke rumah tempat kelahiran saya. Suatu saat, beliau saya beri cerita tentang kehidupan kerbau, mantan Menteri Agama dan Pendidikan Nasional juga tertarik. Beliau tidak pernah menganggap, bahwa apa yang saya lakukan, —–ketika masih kecil, bukan sebagai sesuatu yang dianggap hina atau rendah. Pak Malik juga tahu, bahwa Nabi Muhammad pun ketika masih usia anak-anak, juga bekerja sebagai penggembala kambing. Hal yang sangat terkesan bagi saya, ketika suatu saat berkunjung ke rumah di desa kelahiran saya, Pak Malik Fadjar pernah bertanya tentang bagaimana jika datang musim kemarau, mencukupi kebutuhan makan binatang ternak sebanyak itu. Pak Malik tahu bahwa rumput-rumput pada musim kemarau mengering. Saya katakan, bahwa pelihara kerbau itu gampang. Ternak yang memerlukan makanan banyak itu, saya beri saja damen atau batang padi yang telah mengering. Pak Malik lantas bertanya, apa kerbau itu mau. Saya jelaskan, agar mau makan, kerbau-kerbau itu saya kasih kaca mata hijau dari bahan plastic atau kertas. Kerbau, dengan kaca mata hijau itu akan mengira damen-damen kering tersebut berwarna hijau. Dan agar terasa enak, batang padi kering itu saya beri air dan garam. Kerbau akan menikmatinya, hingga kenyang. Mendengar penuturan saya tersebut, tentu Pak Malik Fadjar tidak henti-hentinya tertawa. Saya katakan, bahwa memimpin kerbau itu mudah, tidak sebagaimana memimpin banyak orang, sulitnya bukan main. Kerbau itu selalu bodoh, lambat, dan penurut sehingga mudah dipimpin. Namun anehnya,sekalipun sehari-hari binatang ternak itu berkumpul, ternyata tidak bisa bersatu. Tidak ada solidaritas antar kerbau. Kerbau sekalipun kumpul, tetapi menjalani hidup sendiri, tidak sebagaimana lebah, yang selalu membela, jika kawannya diserang oleh siapapun. Akhirnya, mudah-mudahan, kita semua, seluruh jamaáh, dan seluruh bangsa ini dijauhkan oleh Allah swt., dari sifat-sifat suka bercerai berai, saling curiga, dan menjatuhkan. Sekalipun selalu berkumpul tetapi tidak pernah bisa bersatu. Kita sebagai makhluk yang berperadaban, mestinya memiliki kesetiakawan yang tinggi, yaitu saling mengenal, memahami, menghargai, mencintai dan tolong menolong dalam memenuhi kebutuhan hidup, baik ekonomi, social, kesehatan, dan lain-lain. Mudah-mudahan kita selalu bisa berkumpul dan sekaligus juga bisa bersatu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
