Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Politisi Saudagar Itu Bernama Jusuf Kalla

Siapa yang tidak mengenal nama Muhammad Jusuf Kalla. Dia adalah saudagar sukses dari Watampone, Bone, Sulawesi Selatan dan berasal dari keluarga kaya raya yang taat beragama. Ayahnya H. Kalla adalah saudagar sukses yang memiliki berbagai jenis usaha ekspor impor, mulai dari perhotelan, transportasi, perkapalan, real estate, konstruksi, tambak, kelapa sawit hingga telekomunikasi. Semuanya di bawah bendera Kalla Group. Selain saudagar, Jusuf Kalla juga terjun di bidang politik. Beberapa jabatan penting di pemerintahan pernah dipegang, antara lain pernah menjabat Menteri Perdagangan di era Presiden Gus Dur, Menko Kesra di era Presiden Megawati, dan terakhir menjabat sebagai Wakil Presiden Periode 2004-2009. Di politik, dia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar menggantikan Akbar Tandjung. Di luar pemerintahan, dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang Indonesia.

Namanya semakin melambung ketika berpasangan dengan SBY mencalonkan diri dan akhirnya memenangi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI Periode 2004-2009. Sebagai pejabat negara, Jusuf Kalla (JK) dikenal sebagai sosok yang praktis – tidak berputar-putar dalam menyelesaikan setiap masalah. Dalam konsepnya, apapun bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah, yang penting hasilnya atau produk akhir. Istilah dalam fisafat ilmu sosial tradisi Hegelian, JK lebih mengedepankan end daripada means. Di berbagai kesempatan, JK mengatakan ‘saya tidak mengenal proses, bagi saya yang penting hasil akhir sebuah pekerjaan’. Begitu ungkapan JK untuk menegaskan jiwa kesaudagarannya. Cara berpikir demikian memang membuahkan hasil yang cepat, tetapi bagi sebagian orang yang terbiasa bekerja dalam mind set birokrasi, yang lebih menekankan aturan main, bisa saja model kerja JK tersebut jadi masalah. Selain itu, JK juga dikenal dengan gaya bahasa ceplas-ceplos dengan spontanitas tinggi. Dia katakan saja apa yang dia mau seolah tanpa beban. Itu tampak sangat jelas waktu JK berkampanye berpasangan dengan Wiranto untuk maju dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Gaya JK demikian sangat kontras dengan SBY yang sangat hati-hati dalam berbahasa yang menggambarkan pula kehati-hatiannya dalam menjalankan roda pemerintahan. Saking hati-hatinya, SBY oleh sebagian orang dikenal sebagai sosok pemimpin yang lamban, terlalu banyak perhitungan dan peragu, sehingga berbagai program pembangunannya hanya jalan di tempat. Membandingkan JK dengan SBY seolah mengontraskan dua budaya yang memang berbeda – Bugis dan Jawa. Budaya Bugis yang terus terang, cepat, praktis dan budaya Jawa yang hati-hati, berputar-putar dan maksud yang sesungguhnya sering terselubung di balik ungkapan. Karena itu, audiens harus pandai-pandai memaknai sendiri maksud yang disampaikan. Jangan memahami ungkapan orang Jawa sebagaimana dikatakan atau ditulis. Cari makna yang terselubung dengan melihat konteksnya, baik konteks fisik, sosial, kultural, maupun  psikis. Selama menjadi Wakil Presiden prestasi yang  sangat menonjol dari JK adalah perannya dalam penyelesaian konflik berbau SARA, seperti Poso dan Sampit, dan juga konflik politik yang sudah berlangsung bertahun-tahun di Aceh. Di mata JK, dari 13 macam konflik yang mewarnai pejalanan negeri ini ada konflik yang sangat berbahaya dan sangat sulit diselesaikan, yakni jika konflik tersebut mengandung unsur SARA, seperti konflik di Poso dan Sampit. Dalam konflik semacam itu orang bisa tertawa setelah berhasil membunuh orang lain atas nama agama. Padahal, agama mana yang mengajarkan umatnya untuk membunuh orang lain. Dengan kepiawiannya, JK berhasil dengan gemilang menyelesaikan masalah tersebut, kendati benih-benih konflik tetap saja ada hingga saat ini. Penyelesaikan konflik di Aceh dengan kekuatan GAM-nya juga tidak lepas dari peran JK dan Menteri Hukum dan HAM saat itu, Hamid Awaluddin lewat perundingan Helsinki. Perundingan Heksinki yang ditandatangani GAM dan pemerintah Indonesia mengakhiri konflik berkepanjangan dengan korban yang tidak terhitung jumlahnya. Penyelesaian secara militer sejak pemerintahan Soeharto hingga Megawati sama sekali tidak membuahkan hasil. Justru sebaliknya perlawanan GAM melalui taktik gerilya semakin menjadi-jadi. JK mencari akar permasalahan konflik tersebut dan menocaba menyelesaikannya lewat cara diplomasi dan negosiasi dengan perantaraan pihak ketiga. Wal hasil perundingan Helsinki menjadi sejarah  tersendiri bagi penyelesaian konflik Aceh. Kini Aceh membangun diri lewat otonomi yang dimiliki untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah lain di Indonesia. Masyarakat Aceh sudah jenuh dengan konflik berkepanjangan yang telah mencabik-cabik kehidupan mereka selama puluhan tahun. Tidak ada yang untung dari konflik. Semuanya baik pmerintah RI maupun GAM terkuras tenaga dan sumber daya untuk menghadapi konflik fisik tersebut. Saya teringat adagium dalam ilmu politik ‘no better news than peace and no worse news than war’, tidak ada berita yang lebih indah daripada kedamaian, dan tidak ada berita yang lebih jelek dibanding perang. Memahami berbagai konflik di negeri ini, JK berkesimpulan bahwa hampir semua konflik akarnya adalah ketidakadilan. ‘Karena itu, jangan harap ada kedamaian jika masih terdapat ketidakadilan, baik ketidakadilan politik, sosial maupun ekonomi’, paparnya di acara Pengajian Eksekutif yang diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Malang, Sabtu, 15/1/2011. ‘Pemimpin harus berani bertindak adil jika tidak ingin terjadi konflik di wilayah yang dipimpinnya’, katanya lebih lanjut. Setelah kalah dari pemilu Presiden 2009, JK tidak lagi menjadi pejabat tinggi negara. Aktivitas formalnya kini sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). Menjadi Ketua Umum sebuah lembaga sosial semacam PMI tentu tidak bergaji, malah berkorban, tidak seperti waktu menjadi Wakil Presiden. Karena itu, menjadi Ketua Umum PMI merupakan pengabdian kepada bangsa. Tetapi dengan berkelakar, JK mengatakan ada hal yang sama dengan  ketika masih menjabat sebagai Wakil Presiden, yaitu mobil yang ditumpangi boleh menerobos kondisi lalu lintas macam apa pun. Yang berbeda adalah alasannya. Jika mobil pejabat negara harus kencang dan tidak boleh ada hambatan karena acara padat dan agar tidak terlambat, maka mobil PMI harus cepat karena membawa darah yang diperlukan pasien. Sebab, keterlambatan persediaan darah bisa berakibat fatal bagi pasien. Dalam kapasitasnya sebagai mantan pejabat tinggi negara, dan sambil meresmikan kegiatan PMI di Kabupaten Malang, JK datang ke UIN Malang pada Sabtu, 15 Januari 2011 untuk memberikan ceramah umum bertajuk “Menjadi Saudagar Muslim yang Sukses”. Dengan gaya bahasa yang ceplas ceplos dan spontan, JK mengundang tepuk tangan para hadirin. Beliau bercerita tentang pengalamannya sejak kecil, bagaimana kedua orangtuanya mendidik, liku-liku kehidupannya dalam keluarga saudagar, menjadi politisi, pejabat tinggi negara, wakil presiden, hingga kegagalannya mencalonkan diri sebagai presiden. Semuanya diceritakan dengan gaya santai seolah tanpa beban. Sari dari ceramahnya adalah untuk sukses dan mengabdi kepada negara tidak harus lewat pintu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mind set masyarakat, terutama mahasiswa, harus diubah, dari cita-cita ingin menjadi PNS ke saudagar atau bisnis. Menurutnya, bisnis bisa dilakukan oleh siapa saja dan dalam bidang apa saja. Lebih jauh dikatakan bahwa teori tentang bisnis tempatnya di sekolah, tetapi praktik bisnis tidak ada sekolahnya. Praktik bisnis hanya bisa dilakukan di lapangan. Karena itu, terjun langsung di lapangan dimulai dari yang kecil dulu dan menapak menjadi besar merupakan pelajaran sangat berharga bagi orang yang ingin terjun ke dunia bisnis. Beliau sangat menginginkan kelahiran saudagar-saudagar muslim yang dapat mengisi ruang kosong pembangunan negeri ini. Untuk itu, harus ditanamkan bahwa menjadi saudagar atau pebisnis merupakan pekerjaan mulia. JK telah menoreh sejarah bagi bangsa dan negara ini. JK adalah orang kedua dari Sulawesi yang menjabat sebagai Wakil Presiden setelah BJ. Habibie — sebelum akhirnya menjadi Presiden —. Namanya kini tidak lagi berada dalam deretan pejabat tinggi negara. Tetapi sejarah telah mencatatnya sebagai Wakil Presiden yang gesit, ceplas ceplos, praktis dan lugas. Dan, itu tidak akan terhapus sepanjang negeri ini masih ada. Terima kasih Pak JK. Semoga pengabdian Bapak dicatat Allah sebagai amal sholeh yang pahalanya terus mengalir selamanya.  Amin. ___________ Malang, 27 Januari 2011

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *