Menjadi mahasiswa, kapan saja selalu berat. Apalagi dulu, awal tahun 1970-an, saya masuk perguruan tinggi. Ketika itu kampus belum mampu menyediakan koleksi perpustakaan secara cukup. Dosen tidak setiap saat datang, karena kebanyakan dosen berstatus luar biasa. Mahasiswa harus mencari sendiri bahan-bahan yang diperlukan ke sana ke mari. Fasilitas komputer dan apalagi internet belum terbayangkan. TV di beberapa rumah sudah ada, tetapi masih model lama, hitam putih. Dengan demikian informasi menjadi barang sangat mahal. Hanya anehnya, mahasiswa ketika itu seperti orang kehausan atau kelaparan. Membayangkan betapa besarnya tanggung jawab setelah lulus menjadi sarjana, terdorong selalu berusaha keras mencari buku atau sumber-sumber informasi lainnya. Pada saat itu belum ada mesin fotocopy. Karena itu, saya pernah menyalin buku setebal kurang lebih 500 halaman dengan tulisan tangan. Itu saya lakukan, karena membeli buku aslinya sudah tidak ada lagi. Di tengah-tengah kesulitan seperti itu, masih ada niat untuk belajar hidup mandiri. Di tengah-tengah kesempitan, saya masih berkeinginan untuk memanfaatkan waktu luang. Sambil kuliah, saya ingin belajar mandiri. Memang sejak kecil, saya terbiasa bekerja keras. Pada saat itu, saya menemukan peluang kerja, ialah berdagang. Kebetulan saya berteman dengan Pak Musari, teman sekampung sejak SD. Ayah Pak Musari sehari-hari bekerja sebagai pedagang. Ia membawa dagangan dari desa untuk di jual ke kota. Jenis dagangan macam-macam, tergantung musimnya. Tatkala musim buah, ia berdagang buah, musim rempah-rempah, berdagang rempah-rempah. Tidak musim buah, ia membawa apa saja yang bisa diperdagangkan. Pak Musari, sebagai anak pedagang punya pengalaman tentang itu. Teman satu kost ini bersepakat sama-sama memanfaatkan waktu luang untuk berdagang. Biasanya, jumát sore sehabis kuliah, bersama-sama atau bergantian pergi ke Tulung Agung untuk mengambil dagangan. Selanjutnya, membawanya ke Malang untuk dijual. Pada awalnya, sebelum punya modal sendiri, mengambil sebagian dagangan ayah Pak Musari. Dagangan itu saya bayar setelah dagangan terjual dan mendapatkan uang dari Malang di hari kemudian. Ketika itu, saya hanya bermodal kepercayaan atau kejujuran. Hubungan dagang dengan ayah Pak Musari, berjalan sebagaimana pedagang lain pada umumnya. Kami mengambil barang dengan harga umum. Selain itu, juga harus membayar harga barang yang saya bawa sebagaimana janji yang kami berdua sanggupi. Jika suatu saat rugi, harus menanggung resiko. Begitu pula jika laba, kami bagi berdua. Tetapi selama itu, tidak pernah rugi, kecuali suatu waktu, ketika semua uang dan barang dagangan dibawa lari oleh seorang pembantu, kepercayaan saya. Kejadian itu menjadikan saya benar-benar merasakan bagimana seorang yang lagi jatuh pailit. Dagangan yang kami ambil dari ayah Pak Musari atau kadang-kadang juga dari pedagang lainnya, biasanya saya angkut dengan bus. Dulu, bus Tulung Agung – Malang tidak banyak. Di bagian atas Bus terdapat tempat yang dapat diisi dengan dagangan. Tempat itu kami sewa untuk mengangkut dagangan. Saya dan Pak Musari, menjadi sangat dikenal oleh para sopir bus dan kernet dan bahkan para penumpang yang biasa menumpang bus tersebut. Ketika itu saya tidak dikenal sebagai mahasiswa, melainkan sebagai pedagang. Setiap hari Jumát sore, saya berangkat ke Tulung Agung, selanjutnya Ahad pagi sudah nyampai di Malang dengan membawa dagangan. Berdagang seperti ini saya rasakan tidak sulit. Begitu nyampai di Malang, sudah ada kuli-kuli yang menurunkan dagangan dari atas bus, dan langsung selanjutnya diangkut oleh becak langganan, ke Pasar Besar Malang. Karena sudah punya langganan, maka menjual dagangan juga tidak sulit. Dagangan berapa pun jumlah dan harganya akan diterima sebagaimana kesepakatan sebelumnya. Biasanya sebelum dagangan didatangkan, sudah dilakukan pembicaraan dengan pihak yang akan menerimanya. Tidak berani membawa barang di luar kesepakatan itu. Membawa barang di luar kesepakatan beresikonya terlalu berat. Bisa jadi, barang yang sudah didatangkan tidak akan ada yang membeli, kecuali dengan harga semurah-murahnya, sehingga harus menanggung rugi. Komitmen atau menjaga kesepakatan adalah sangat penting dalam berdagang. Dari berdagang seperti itu saya mendapatkan banyak pelajaran tentang bagaimana seluk beluk, perilaku, strategi yang dikembangkan oleh pedagang di pasar. Sekalipun sudah lama kenal, tetapi hubungan dagang tetap dagang. Rupanya, hampir semua pedagang akan mencari kelemahan orang lain, untuk mendapatkan keuntungan sendiri sebanyak-banyaknya. Karena itu berdagang sebenarnya di pasar tidak mudah. Para pedagang tidak pernah memiliki belas kasihan. Umumnya para pedagang selalu mencari untungnya sendiri. Orang lain rugi tidak dianggap sebagai masalah, asalkan dirinya untung. Bahkan umumnya pedagang merasa mendapatkan keuntungan jika terdapat orang yang bisa diambil keuntungan daripadanya. Misalnya, ada orang yang lagi terpepet, terpaksa harus menjual dagangan semurah-murahnya. Inilah dunia perdagangan di tengah pasar ketika itu, yang harus dihadapi. Sekian lama, saya menjalani kerja sebagai perdagang sambil kuliah. Melalui kerja seperti itu, saya menjadi tahu bahwa antar pedagang tidak saja bersaing, tetapi kadang juga saling menjatuhkan. Namun anehnya, mereka juga saling kompromi tatkala menghadapi pedagang lainnya. Misalnya, ada orang yang menawarkan barang dagangan yang sudah terlanjur dibawa masuk ke pasar, sedangkan calon pembeli pertama tidak jadi mengambil, ——karena tidak ada kesepakatan harga, maka pedagang lain tidak akan mau menawar dengan harga lebih tinggi. Kalau pun mau, akan menawar dengan harga lebih rendah. Di sinilah pemilik barang menjadi terpaksa harus memberikan barangnya, berapapun harganya. Lika-liku berdagang di pasar besar Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan bahkan Besuki pernah saya alami. Saya datangi kota-kota itu untuk menjual dagangan yang saya bawa dari Trenggalek atau dari Tulung Agung. Problem utama dalam berdagang yang paling berat, adalah berkomunikaski dengan orang. Dalam berdagang hampir-hampir tidak ada orang yang jujur. Semua berusaha untuk mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya. Berbohong, menyalahi janji, mengurangi harga, dan lain-lain rupanya adalah gambaran kehidupan pedagang sehari-hari. Karena itulah maka berdagang di tengah pasar, jika tidak ulet, sabar, dan pandai berdeplomasi akan dimanfaatkan oleh sesama pedagang. Menghadapi pedagang di pasar seperti itu, di atas kertas, menurut hitungan akan mendapatkan laba cukup banyak. Tetapi pada kenyataannya tidak selalu seperti itu. Para pedagang biasanya membangun suasana ketergantungan. Misalnya, agar saya tetap loyal dan mau menyetor dagangan kepadanya, —— tidak menjualnya ke pedagang lain, maka para pedagang pasar itu tidak akan membayar seluruh uang yang seharusnya dibayarkan. Semakin lama, uang yang ditahan itu semakin banyak, dan biasa akhirnya juga tidak akan dibayar sepenuhnya. Beberapa tahun berdagang seperti itu, menjadikan saya bisa hidup mandiri. Dengan berdagang, saya bersama Pak Musari, bisa membeli buku, menyewa tempat kost, dan tentu membayar SPP. Tatkala masih aktif berdagang, saya tidak pernah minta uang dari orang tua. Sekalipun dengan cara seperti itu, kuliah saya tidak terasa terganggu. Saya juga mendapatkan kepuasan, karena tidak merasa terlalu membebani kedua orang tua di rumah. Hidup mandiri ternyata membanggakan dan menjadikan percaya diri. Hanya, dengan kegiatan seperti itu, oleh teman-temah kuliah, saya juga diberi identitas sebagai pedagang, tidak sebagaimana mahasiswa lainnya, hanya murni kuliah. Dengan bekerja itu, saya merasa beruntung, bisa belajar berdagang dan kuliah pun tidak pernah terganggu. Setiap ujian di akhir semester, saya selalu lulus pada tahap awal. Bahkan sejak semester pertama hingga lulus sarjana, saya selalu mendapatkan nilai lumayan baik. Sekalipun demikian, saya sama sekali tidak merasa bahwa saya pintar atau cerdas. Kuliah dengan bekerja menjadikan energy saya tersalurkan. Lebih dari itu, keuntungan lain yang saya dapatkan, saya bisa belajar bergaul atau berkomunikasi dengan berbagai jenis orang. Berkomunikasi ternyata tidak mudah dan karena itu harus berlatih. Melalui dagang ini, saya harus berhasil menjadikan orang lain tidak marah sekalipun secara financial rugi. Saya juga harus bisa memberikan harapan, dan menjaga hubungan baik dengan siapapun. Pelajaran sederhana namun penting seperti itu tidak pernah saya dapatkan di kampus, melainkan dari pasar, lewat berdagang. Melalui kegiatan seperti itu, saya menjadi tahu tentang kehidupan yang sebenarnya. Saya juga menjadi mengerti, bahwa hidup ini adalah seni. Kemampuan bergaul atau komunikasi sangat penting dalam kehidupan ini. Lebih dari itu, dengan pengalaman berdagang, saya tidak pernah membayangkan bahwa mencari kerja atau sebatas mendapatkan uang adalah pekerjaan sulit. Atas dasar pengalaman itu, saya menjadi selalu optimis dan bahkan saya berkeyakinan bahwa masa depan, sesungguhnya selalu tergantung pada bagaimana kita mensikapi dan menghadapinya. Optimis, percaya diri, pandai bergaul, selalu perhitungan, jujur, menjaga kepercayaan, dan seterusnya adalah kunci-kunci yang harus dimiliki untuk menyongsong masa depan. Kemampuan dan sikap hidup seperti itu, ternyata hanya bisa terbangun secara baik, dari sebuah pengalaman nyata. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
