Suatu ketika, saya menyaksikan pemandangan yang bagi saya cukup indah. Pemandangan itu saya sebut sebagai solidaritas dalam berspiritual. Mungkin cerita tentang solidaritas berikut, jika dilihat dari pandangan fiqh, akan melahirkan pro dan kontra, setuju atau tidak. Saya melihatnya tidak dari sudut pandang itu. Saya melihatnya hanya dari keindahan dalam bersolodaritas, kebersamaan, dan persatuan antara sesama kaum muslimin.
Menjelang dilaksanakan shalat berjamaáh, setelah iqomah dikumandangkan, dua di antara tamu masjid itu, dipersilahkan untuk menjadi imam shalat. Pada awalnya, kehormatan untuk memimpin shalat itu ditolak, karena sebagai seorang tamu merasa lebih pantas menjadi makmum. Demikian pula petugas imam tetap, merasa perlu menghormati tamunya itu, sekalipun ia belum dikenalnya. Memang tidak setiap tamu di masjid itu selalu dipersilahkan menjadi imam. Tamu yang datang pada saat itu ditengarai berpenampilan alim dan pantas menjadi imam shalat berjamaáh. Memang tanpa lewat interview atau cara lainnya, sebatas melalui perasaan saja, seseorang tidak terlalu sulit dikenali atas kesalehannya. Walaupun sebenarnya juga dengan cara itu tidak selalu tepat. Seorang dari dua tamu yang mendapat kehormatan menjadi imam tersebut rupanya baru pertama kali datang di tempat itu, sehingga belum mengenali tradisi yang dikembangkan di masjid itu. Akan tetapi, karena permintaan menjadi imam dianggap serius, maka bersedialah ia mengimami. Hal yang saya anggap menarik, sebelum shalat dimulai, teman dari orang yang mendapat kehormatan mejadi imam, membisikinya tentang tradisi selesai shalat, ialah selalu berdzikir bersama-sama. Akhirnya shalat dijalankan tanpa merasa ada perbedaan antara imam dan makmum. Demikian pula selesai shalat, sebagaimana tradisi di masjid itu, dilakukan dzikir bersama. Dengan begitu, maka dalam seluruh rangkaian shalat, mulai awal hingga akhir dirasa tidak ada perbedaan antara imam dan makmum. Para makmum ketika itu juga tidak tahu, kebiasaan orang yang sedang diminta mengimami itu sehari-hari dalam shalat. Yang tahu tentang tradisi masing-masing, hanyalah dua orang yang sesama menjadi tamu tersebut. Kasus tersebut bagi saya cukup menarik. Dalam melakukan kegiatan spiritual sekalipun, masih terdapat solidaritas. Di antara mereka yang sebenarnya memiliki tradisi berbeda, masih saling hormat menghormati dan menyesuaikan. Jamaáh masjid, dengan maksud menghormati tamu, mempersilahkan orang yang sebenarnya belum dikenal menjadi imam. Demikian pula seorang tamu, bersedia pula menyesuaikan dengan tradisi yang berlaku di masjid itu. Yang saya lihat adalah gambaran yang sangat indah, yaitu terjadi saling menghormati di antara sesama kaum muslimin. Kasus tersebut sebenarnya kecil dan sederhana. Hal itu bisa dilakukan oleh siapapun dan di manapun. Tetapi kadangkala menjadi sulit dan mahal, tatkala masing-masing saling mempertahankan pandangannya secara keras dan kaku. Umpama tamu masjid yang telah dihormati itu mempertahankan pandangan dan kebiasaannya, ——–tidak mau memimpin dzikir bersama, maka bisa jadi para makmum kecewa. Tetapi dengan solidaritas, yakni menghormati para makmum, ia menyesuaikan tradisi itu, maka semuanya menjadi senang dan tidak ada yang merasa terganggu. Berangkat dari kejadian tersebut, saya membayangkan, alangkah indahnya kehidupan kaum muslimin di negeri ini jika di antara kelompok-kelompok yang berbeda-beda mampu melaksanakan solidaritas seperti itu. Apalagi jika dilanjutkan dengan solidaritas dalam arti yang lebih luas, ——tidak saja dalam berspiritual, melainkan juga dalam kehidupan lainnya, misalnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, ekonomi, politik, termasuk mengentaskan kemiskinan dan lain-lain. Maka dengan demikian, yang akan terjadi adalah kebersamaan, kerukunan, dan saling mencintai antar sesama. Bukankah hal itu sesungguhnya adalah sesuatu yang diajarkan oleh Islam dan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, yakni orang yang seharusnya sangat kita cintai dan tauladani. Sebaliknya, bukannya bercerai berai dalam banyak hal. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
