Masjid atau musholla bagi kaum muslimin memang penting sekali keberadaannya. Tanpa tempat ibadah itu rasanya sulit dibayangkan bagaimana antar tetangga bisa berkumpul untuk menjalankan kegiatan bersama, yaitu sholat berjamaáh, termasuk berjamaáh di waktu sholat subuh. Masjid di kampung tempat tinggal saya, tergolong baru. Kira-kira sekitar lima tahun yang lalu, baru selesai pembangunannya. Sebelum itu tidak ada masjid, sehingga untuk beribadah, bagi yang terbiasa menjalankan sholat berjamaáh, harus berjalan kaki cukup jauh. Itu sebabnya banyak penduduk di wilyah itu yang tidak menjalankannya. Oleh karena tidak terbiasa saja, setelah pembangunan masjid selesai, tidak banyak yang mau menggunakan fasilitas tempat ibadah itu. Mereka pada umumnya mau ikut berpartisipasi dalam pembangunan masjid, tetapi ternyata tidak demikian dalam penggunaannya. Bisa jadi, hal itu karena belum terbiasa saja. Menjalankan ajaran Islam, sekalipun mudah, tidak bisa dilakukan serentak dan tiba-tiba. Apapun ternyata memerlukan proses, dan kadang proses itu sedemikian panjangnya, dan membutuhkan orang yang selalu membimbing dan mengajaknya . Namun hal yang sudah umum terjadi, tatkala masuk bulan Ramadhan, mereka yang tidak terbiasa ke masjid pun datang, dan juga ikut sholat berjamaáh. Mungkin mereka memahami bahwa bulan Ramadhan adalah waktunya bagi semua orang datang ke masjid. Sehingga di bulan mulia ini jamaáh masjid meninghkat, hingga sholat subuh sekalipun. Padahal biasanya, yang agak ramai hanya sholat maghrib saja. Lingkungan rumah tempat tinggal saya tergolong daerah pinggiran, agak jauh dari kota. Masyarakatnya beraneka ragam, baik dilihat dari latar belakang pendidikan, pekerjaan, serta tingkat ekonominya. Umumnya mereka hanya lulusan Sekolah Dasar, beberapa di antaranya tamat sekolah menengah. Hanya ada satu dua saja yang pernah kuliah di perguruan tinggi, sekalipun tidak sampai tamat. Pekerjaan mereka beraneka ragam. Kebanyakan adalah tukang, atau pekerja bangunan. Sebagian lagi di antara lainnya, sehari-hari menjajakan dagangan kecil-kecilan, seperti tempe, tape singkong atau ketan, susu kedelai, dan lain-lain. Banyak di antara mereka yang bekerja sebagai buruh pabrik dan juga kuli bangunan. Bekerja semacam itu, penghasilan mereka rupanya hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari saja. Hidup bersama tetangga seperti itu, terasa lebih enak. Suasana kehidupan masih bernuansa pedesaan. Sekalipun penghasilan setiap hari hanya cukup untuk hidup, dan bahkan mungkin, dalam keadaan tertentu, tidak mencukupi, tetapi tidak pernah saya mendengar di antara mereka mengeluh soal ekonomi. Kira-kira berapapun penghasilannya, mereka menerimanya dengan rasa syukur dan sabar. Dengan adanya masjid, mereka yang berlatar belakang beraneka ragam itu, sejak subuh di Bulan Ramadhan sudah bertemu. Segera adzan dikumandangkan, mereka hadir ke masjid. Tidak ada di antara mereka yang merasa lebih rendah atau yang lebih tinggi, semua sama. Tiba di masjid, mereka sholat sunnah, mengambil tempat yang masih kosong. Selanjutnya, mereka bersama-sama menunaikan sholat berjamaáh. Setiap pulang dari masjid,yang kebetulan saya selalu dipercaya sebagai imam sholat, selalu merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bersama orang-orang yang memiliki latar belakang yang beraneka ragam itu, saya bisa bersama-sama ruku’dan sujud. Tatkala ruku’dan sujud itu, semuanya sama. Tatkala sujud, semua muka wajah para jamaáh ditempelkan di karpet. Posisi wajah dalam keadaan sama, lebih rendah dari seluruh bagian tubuh, dan semua secara bersama-sama melakukan hal yang sama, serta bergerak secara bersamaan. Dari kegiatan sholat berjamaáh di waktu subuh itu, saya membayangkan andaikan umat Islam, di mana saja dan kapan saja, berhasil menghayati kebersamaan itu, maka apa yang disebut sebagai ummah wahidah benar-benar terjadi dan sangat indah. Hanya sayangnya, kesatuan, persatuan, dan kebersamaa itu seringkali terganggu sekalipun oleh hal kecil dan sepele. Misalnya, antar tetangga, kelompok, golongan, dan juga negara sekalipun yang sama-sama mayoritas muslim, masih terjadi saling menghina, berebut, dan merendahkan. Padahal, sesama muslim semestinya saling memperkukuh. Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah, sebenarnya adalah membawa misi persatuan umat itu. Bahkan Nabi Muhammad saw., selain membangun masjid sebagai symbol persatuan, juga menyatukan antara kaum Muhajirin dan kaum Ansyor. Hanya sayang, hingga makna sujud bersama di waktu jamaáh subuh pun, belum berhasil ditangkap dan dihayati sepenuhnya oleh ummat. Semoga dengan Bulan Ramadhan ini berhasil menyadarkan kita semua, betapa pentingnya persatuan yang harus dijaga bersama. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
