Tidak sedikit orang melihat dan memahami Islam bukan melalui kitab suci dan juga riwayat hidup nabinya, melainkan dari keadaan umatnya. Padahal, lebih tepat, cara terbaik adalah melalui kitab suci dan hadits nabi. Al Qurán dan hadits adalah sebagai sumber ajaran Islam. Maka siapapun yang ingin memahaminya, maka akan tepat mncari dari sumbernya itu.
Akan tetapi ternyata tidak selalu begitu. Banyak orang melihat Islam dari kehidupan orang Islam. Bagaimana orang Isam menjalankan ritual, mengembangkan ekonomi, ilmu pengetahuan, berkomunikasi dengan orang lain, memahami dan menjalankan politiknya, hubungannya dengan penguasa, sikap dan tindakannya terhadap orang terlantar dan seterusnya, adalah dianggap sebagai gambaran tentang Islam. Padahal sebenarnya, antara Islam yang tertulis dalam kitab suci dan hadits nabi dengan keadaan umat Islam tidak selalu sama. Contoh kecil, bahwa menurut ajaran Nabi pada setiap waktu shalat, ummat Islam berada di masjid untuk shalat berjama’ah. Akan tetapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak masjid atau mushala, tidak selalu digunakan, kecuali misalnya pada waktu shalat jum’at. Islam mengajarkan tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan, tetapi ternyata banyak yang belum dijalankan. Jarak yang terlalu jauh antara apa yang seharusnya terjadi dengan keadaan umat yang sebenarnya, menjadikan sementara orang bertanya, mengapa jama’ah haji Indonesia selalu naik jumlahnya, tetapi korupsi juga selalu meningkat. Orang selalu shalat lima waktu sehari semalam, tetapi masih juga tidak memperhatikan orang miskin dan anak yatim. Padahal al Qur’an menjelaskan bahwa, orang telah shalat tetapi tidak peduli pada anak yatim dan orang miskin sama halnya mendustakan agamanya Pemandangan yang dianggap aneh seperti itu selalu tampak di mana-mana. Ajaran Islam tampak sedemikian ideal, akan tetapi dalam implementasi tidak selalu sama. Kadang bahkan ada jarak sedemikian jauh antara tataran ideal dengan kenyataan yang bisa dilihat sehari-hari. Hal itu terjadi bahwa keber-Islaman setiap orang selalu berada dalam tataran proses , yaitu proses menjadi sempurna. Tidak pernah ada, ——-kecuali nabi, orang yang sekaligus menjadi sosok ideal atau sempurna. Perbedaan antara tataran ideal dengan yang terjadi dalam keberagamaan itu sebenarnya dapat dilihat di mana-mana, tidak terkecuali di Indonesia. Banyak orang sehari-hari berceramah memberikan pengajian atau penjelasan tentang ajaran Islam, tetapi di luar sana seolah-olah mereka tidak mengenal Islam. Dalam berekonomi, berpolitik dan kehidupan lainnya, tidak menampakkan keber-Islamannya. Islam seolah-olah dijalankan hanya tatkala di tempat ibadah, tetapi di luar, semua hilang tidak membekas. Atas kenyataan itu, maka tatkala memahami Islam hanya dari keadaan umatnya akan mendapatkan kesimpulan yang kurang tepat atau bahkan salah. Bisa jadi mereka akan mengatakan bahwa Islam itu keras, pendendam, tidak toleran, kurang memperhatikan pendidikan, tidak mampu mengelola ekonomi, berorganisasi, hidup apa adanya, tidak maju dan seterusnya. Kesimpulan seperti itu, bisa jadi karena banyak bukti-buktinya. Padahal sebenarnya, hal itu terjadi hanya karena keber-Islaman masih dalam proses atau umat Islam tersebut belum berhasil menangkap dan menjadikan ajaran Islam sebagaimana mestinya. Kasus-kasus perbuatan teroris yang kemudian segera mengkaitkan dengan Islam, hanya oleh karena pelaku yang ditangkap adalah pemeluk Islam, menjadikan citra Islam sedemikian negatif. Teroris diidentikkan dengan Islam. Islam seolah-olah menjadi agama yang mentoleransi kekerasan. Maka untuk menghilangkan kesan negative itu, para tokoh Islam harus pontang panting menjelaskan bahwa Islam tidak sama dengan gerakan kekerasan, semacam teroris. Mereka memberikan keterangan ke mana-mana, bahwa Islam adalah agama yang damai, toleran, lembut, selalu menebarkan kasih sayang dan saling tolong menolong. Sebaliknya, Islam bukan agama kebencian, merusak, membunuh dan setersnya. Selain itu, juga menjelaskan bahwa Islam bukan identik dengan kemiskinan, kemunduran dan kebodohan. Islam adalah agama ilmu, membawa ummatnya menjadi unggul, mengembangkan kesetaraan dan keadilan, mengembangkan kehidupan spiritual, dan juga memiliki konsep amal shaleh, atau bekerja secara professional. Penjelasn seperti itu tidak mudah dilakukan, oleh karena lagi-lagi, seperti yang disebutkan di muka, bahwa sementara orang tidak selalu memahami Islam dari kitab sucinya, melainkan dari perilaku orang dan masyarakat pemeluknya. Kenyataan yang tidak menyenangkan seperti itu tidak bisa dicegah. Semetara orang masih tetap akan melihat Islam seperti itu. Bahkan bagi orang yang tidak mempercayai Islam, akan menjadikan kekerasan, keterbelakangan dan kemiskinan tersebut sebagai bukti bahwa Islam gagal membangun kehidupan yang aman, damai dan sejahtera. Oleh karena itu, cara yang lebih tepat memberikan gambaran tentang Islam, adalah bersama-sama berusaha menampakkan ajaran yang indah itu melalui upaya memperindah perilaku ummatnya. Hal itu memang berat dilakukan, akan tetapi insya Allah bisa diwujudkan melalui tauladan para pemimpinnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
