Sudah menjadi bagian penting dari kegiatan memperingati hari kemerdekaan adalah dilaksanakannya karnaval. Kegiatan itu dilakukan di mana-mana, di kota bahkan juga di desa-desa terpencil. Tanpa karval rasanya peringatan hari kemerdekaan, menjadi terasa kurang sempurna. Semua orang menyukai kegiatan itu. Selain itu, yang menarik dari kegiatan karnaval itu, orang diperankan sebagai apa saja mau, sekalipun gratis. Tidak ada orang yang meminta ongkos. Peran yang selalu ada dalam setiap karnaval adalah tentara yang lagi perang. Para tentara dalam karnaval itu, digambarkan lagi perang. Mereka membawa bedil dan atau bambu runcing. Mereka berpakaian tentara, kepalanya diikat dengan kain merah putih, bahkan juga dilengkapi dengan asesoris lainnya, sehingga penampilan itu seperti tentara yang lagi perang beneran. Agar suasana perang tergambar secara lebih jelas, dalam karnaval itu, juga dilengkapi dengan beberapa jenis kendaraan perang, walaupun sebatas mainan, dan juga dentuman mercon yang meledak-ledak. Karnaval dengan menampilkan gambaran perang seperti itu mengingatkan pada semua, baik sesama peserta karnaval maupun para penonton, bahwa sedemikian berat beban dan segala resiko para pejuang kemerdekaan dulu yang harus dihadapi. Para tentara itu berperang dengan senjata apa adanya, dan kemana saja perintah komandan dijalani sekalipun amat berat, lelah, lapar, terluka, dan bahkan mati dalam medan perang itu. Mereka juga harus meninggalkan keluarga, isteri dan anak-anaknya untuk berperang merebut negeri ini dari penjajah. Maka pantas jika kemudian banyak orang tua yang menjadi saksi situasi perang itu, mengatakan bahwa kemerdekaan telah direbut dengan susah payang, bercucurkan keringat, air mata, darah, dan bahkan banyak yang mati di medan perang. Para pejuang itu telah mengurbankan apa saja yang dimiliki untuk mengusir penjajah. Mereka tidak saja mengorbankan harta atau kekayaan yang dimiliki, tetapi bahkan nyawa. Mereka melakukan itu semua untuk kepentingan membela tanah air, negara, dan bangsa. Perjuangan mereka ternyata berhasil, penjajah diusir dari negeri ini. Proklamasi dikumandangkan oleh pemimpin bangsa, Ir.Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua rakyat bergembira, bahagia, dan haru bahwa perjuangannya berhasil. Sekalipun setelah itu, perjuangan masih belum selesai, karena ternyata penjajah tidak segera ikhlas meninggalkan tanah jajahan yang subur dan kaya sumber daya alam ini. Mereka berusaha kembali menjajah. Namun dengan jiwa berjuang dan berkorban yang amat luar biasa besarnya, negeri yang telah diproklamirkan berhasil dipertahankan. Para penjajah berhasil diusir pulang ke negerinya masing-masing. Betapapun besarnya kekuatan musuh yang harus dihadapi oleh para pejuang, berkat rakhmat Allah swt., ternyata berhasil dilawan dan akhirnya menang. Tanpa mengurangi keyakinan adanya campur tangan Tuhan, memang ketika itu para tentara dan rakyat berhasil disatukan. Selain itu, juga semua pihak bersedia mengorbankan apa saja yang dimiliki untuk meraih kemenangan tersebut. Jika dipelajari secara saksama, setidak-tidaknya ada empat kata yang menyatu untuk meraih kemenangan itu, ialah bersatu, berjuang, berkorban, dan selalu memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah perjuangan fisik usai, kemerdekaan diraih, maka dilanjutkan dengan perjuangan untuk memakmurkan seluruh rakyat. Filosofi dan berbagai konsep tentang kebangsaan dan negara yang akan dibangun berhasil dirumuskan. Pancasila, UUD 1945, Lagu Kebangsaan, Bendera Merah Putih, Bhineka Tunggal Ika adalah merupakan beberapa konsep dan lambang kebangsaan dan negara yang berhasil dirumuskan. Berpijak dari beberapa konsep dan lambang tersebut, maka negara Indonesia yang adil dan makmur akan dibangun dan diwujudkan. Perjuangan untuk memakmurkan kehidupan bagi seluruh rakyat, setelah kemerdekaan diraih, ternyata belum sepenuhnya berhasil. Memang selama 64 tahun merdeka, sudah banyak kemajuan dicapai. Kehidupan rakyat sudah meningkat, lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi telah berhasil dibangun di mana-mana, berbagai jenis bangunan seperti gedung pemerintah, tempat ibadah, hotel, pertokoan, taman rekreasi, pabrik, sarana olah raga di mana-mana telah tersedia. Demikian pula sarana transportasi darat, laut dan udara, listrik dan sarana komunikasi sudah menjangkau hingga desa-desa terpencil. Bahkan juga telah banyak anak negeri ini yang berhasil menguasai ilmu pengetahuan dan keahlian dalam berbagai bidang. Memang perlu diakui bahwa, keberhasilan itu masih belum merata. Masih ada kesenjanjangan sosial yang terjadi di mana-mana. Kita melihat dalam siaran televisi pada peringatan hari kemerdekaan ini misalnya, ada upacara yang diselenggarakan mulai dari di istana negara, di kantor-kantor pemerintah dan swasta, di berbagai lembaga pendidikan, kampus-kampus, dan bahkan juga di dalam laut, tebing, dan juga di puncak gunung. Akan tetapi, juga masih ada upacara yang diselenggarakan oleh kaum miskin seperti pekerja asongan, pemungut sampah, pengemis, anak jalanan, dan bahkan juga masyarakat korban lumpur lapindo dengan asesoris yang menggambarkan suasana kekecewaan mereka. Karena itu problem bangsa saat ini, yang agaknya serius adalah adanya kesenjangan itu. Mendekatkan dua entitas atau komunitas yang masing-masing berada di tempat yang berjauhan, itulah yang pada saat ini perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Jika dalam meraih kemerdekaan dengan setidak-tidaknya berbekal pada empat kata kunci, yaitu bersatu, berjuang, berkorban, dan selalu memohon pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, ternyata berhasil, maka semestinya perjuangan memakmurkan seluruh rakyat tidak akan gagal, manakala keempat kekuatan itu masih selalu dipegangi bersama. Memang di mana pun dan kapan pun perjuangan, agar berhasil, harus selalu dilengkapi dengan modal persatuan, kesediaan berkorban dan memohon pertolongan dari Allah swt. Jika ada satu saja yang kurang dari empat hal itu, misalnya tidak adanya kesediaan berkorban untuk berbagi, maka akibatnya setiap peringatan hari kemerdekaan, di tengah-tengah kegembiraan, kita masih akan menyaksikan saudara kita yang tertinggal. Inilah kemudian saya sebut sebagai hari bahagia yang terasa kurang sempurna, yaitu ketika merdeka tetapi masih sepi pengorbanan, menyedihkan sekali. Wallau a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
