Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Tidak Semua Orang Segera Memahami Perubahan

Sekalipun setiap pimpinan diharapkan agar melakukan perubahan, tetapi ketika harapan itu dipenuhi, belum tentu diterima oleh semua pihak. Orang biasanya tidak selalu berani dan percaya, bahwa perubahan berdampak positif dan sekaligus  membawa keuntungan. Itulah sebabnya, setiap perubahan biasanya  diragukan, tidak dipercayai, dan bahkan ditakuti. Sedikit banyak, selama memimpin kampus, saya mendapatkan  pengalaman tentang itu.

  Awal mula  saya memimpin STAIN Malang, terasa sekali,   memang dikehendaki oleh semua pihak, terutama dari kalangan para dosennya.  Justru ketika itu, saya sendiri yang tidak menginginkannya. Keingin para dosen agar saya bersedia memimpin kampus ini terlihat dari proses pengangkatan  itu. Biasanya pimpinan perguruan tinggi diangkat dari hasil pilihan anggota senat. Pilihan itu tidak bisa dilakukan hingga diubah menjadi ditetapkan. Kata pemilihan harus diganti dengan istilah penetapan, agar saya bisa diangkat  dan  tidak menyalahi aturan.   Perubahan kata, —-dipilih menjadi ditetapkan,  terpaksa dilakukan, karena ada aturan bahwa, dalam pemilihan pimpinan kampus oleh senat, orang yang dicalonkan harus hadir, dan menyatakan kesediaannya. Proses itu tidak mungkin dilalui, karena waktu itu saya sengaja tidak hadir, dengan maksud agar tidak dipilih. Saya sengaja meninggalkan kampus, dan pergi ke luar kota. Ketika itu, secara jujur saya akui,  dari pengalaman hidup yang saya dapatkan, tugas memimpin tidaklah  mudah. Saya tidak mau mendapatkan pengalaman pahit lagi memimpin kampus, sebagaimana  yang pernah saya dapatkan sebelumnya.   Ternyata, karena saya tidak hadir dalam pemilihan itu, maka kata pemilihan diganti dengan penetapan. Sehingga saya diangkat oleh mereka dan dengan begitu, tidak ada sesuatu yang dilanggar. Memang terasa agak lucu, manusia di manapun suka memainkan kata-kata agar maksudnya tidak menyalahi aturan. Cara seperti itu di mana pun terjadi. Padahal  cara itu baik, kalau niatnya baik, dan sebaliknya, menjadi buruk   jika niatnya kurang baik.   Berita tentang proses penetapan itu saya dengar sepulang  dari luar kota. Saya kemudian berpikir ulang atas keputusan saya. Berita itu saya jadikan penilaian  bahwa para dosen yang menghendaki saya sebagai pimpinan  menggambarkan bahwa niat itu bersih, tulus, dan ikhlas. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi saya untuk menolak penetapan itu. Dalam suasana seperti itu,  saya ingat hadits nabi yang intinya, bahwa tidak boleh seseorang mengejar-ngejar jabatan. Karena jabatan adalah amanah. Namun jika amanah itu diberikan kepada seseorang, maka amanah itu juga tidak boleh ditolaknya.   Ajaran mulia itu saya gunakan untuk menaklukkan nafsu saya. Walaupun semula saya berkeinginan menghindar dari tugas tersebut, tetapi karena hal itu sudah menjadi harapan semua pihak, maka amanah itu saya terima.  Beberapa hari  berikutnya, saya mengumpulkan semua dosen dan karyawan. Dalam pertemuan  itu,  saya menyampaikan pandangan, bahwa lembaga pendidikan tinggi Islam ini, —–STAIN Malang,  siapapun yang memimpin tidak akan maju. Sebab kemajuan itu bukan terletak pada siapa yang memimpin, melainkan tergantung pada semua pihak, yaitu baik pemimpin maupun semua yang dipimpinnya.      Selanjutnya, ketika itu saya mengatakan bahwa jika kampus ini diharapkan maju, maka caranya mudah, yaitu semua dosen dan karyawan di kampus ini harus diganti dengan orang-orang yang berwatak, perilaku, dan karakter kemajuan. Saya mengatakan, bahwa saya sedikit banyak, memiliki pengalaman memajukan kampus dan juga  sifat-sifat kemajuan itu. Tetapi, apa yang saya miliki tidak akan membawa arti apa-apa, jika saya sedang memimpin orang-orang yang tidak mau maju.      Saya ketika itu menawarkan solusi, bahwa jika semua menghendaki kemajuan, sementara para dosen dan karyawan tidak boleh diganti, maka alternative yang harus dilakukan  adalah  hendaknya para dosen dan karyawan bersedia  mengubah dirinya. Mereka hendaknya meninggalkan cara berpikir lama, mimpi-mimpi lama, budaya lama, dan karakter lama dan selanjutnya membangun cara berpikir baru, imajinasi baru, cita-cita baru yang sesuai dengan kemajuan yang dikehendaki.     Sifat dan cara kerja lama yang tidak membawa kemajuan harus diubah menjadi sifat, karakter, dan jiwa kemajuan. Tawaran saya ini ternyata disambut baik. Semua dosen dan karyawan menyetujuinya. Mereka sanggup mengubah cara pandangnya demi kemajuan yang diinginkan. Saya teringat ajaran Islam yang intinya mengatakan bahwa  sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, selama kaum itu tidak mengubah jiwa mereka. Saya memaknai, bahwa dalam membuat perubahan, maka aspek strategis yang harus diubah terlebih dahulu adalah jiwanya. Kebanyakan orang sekarang mengatakan bahwa,  yang perlu diubah adalah mindsetnya.   Berdasar pada pandangan itu, maka saya berusaha mengubah mindset para dosen, karyawan dan juga mahasiswa. Namun ternyata,  mengubah mindset bukan pekerjaan mudah. Sebagian orang memang berhasil diajak untuk berubah, tetapi masih ada lainnya  yang melakukan resistensi. Banyak hal yang dijadikan alasan tidak mau berubah, misalnya khawatir perubahan itu tidak akan membawa hasil, atau hasilnya tambah buruk, atau mereka takut dianggap meninggalkan sejarah dan lain-lain.   Mereka yang tidak menyetujui atas perubahan itu, tidak saja bersikap pasif, tetapi juga melakukan perlawanan, misalnya dengan cara menggunakan kekuatan mahasiswa berdemo berhari-hari. Pernah suatu saat, mereka yang tidak menyetuji, sampai mengirim surat ke menteri agama, agar usulan perubahan status kelembagaan menjadi UIN tersebut ditolak. Itulah resiko dari melakukan perubahan yang melibatkan banyak orang. Sementara pihak  mendukung, tetapi sebagian lainnya melakukan resistensi.   Menghadapi persoalan tersebut, cara yang paling tepat adalah mengajak  mereka  berdialog. Maka, sikap khusnudhon harus dikedepankan dan membuang jauh-jauh  sikap suúdhon. Dari pengalaman panjang mengurus perubahan, dapat disimpulan bahwa  tidak semua orang cepat memahami perubahan. Mereka umumnya tidak berani menanggung resiko,   tidak segera percaya bahwa perubahan itu bisa terjadi, dan hasilnya menjadi lebih baik. Rasa tidak-percaya dan kurang keberanian itulah sebenarnya yang menjadikan mereka menolak perubahan. Selain itu, hal penting lainnya, mereka juga menunggu untuk mendapatkan jawaban, bahwa apakah orang yang sedang memimpin perubahan benar-benar berniat bersih, dapat dipercaya,  tulus, dan ikhlas.   Sifat-sifat pemimpin sebagaimana disebutkan terakhir itulah yang selalu ditunggu, sehingga mereka menjadi tidak menolak segala keputusan yang dibuatnya.  Sehingga,  pelajaran berharga yang saya dapatkan dari memimpin perubahan selama ini, bahwa ternyata pemimpin tidak cukup bermodalkan kepintaran, kecerdasan, keberanian, dan apalagi hanya kekayaan berupa uang. Lebih dari itu semua, yang harus disandang oleh setiap pemimpin, agar segera mendapat dukungan dari semua pihak, adalah kepercayaan dari mereka yang dipimpinnya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *