Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Macam-Macam Perubahan Bentuk Kata

Macam-Macam Perubahan Bentuk Kata

Dalam pertumbuhan bahasa banyak kata yang mengalami perubahan. Perubahan-perubahan pada suatu kata tidak hanya terjadi karena proses adaptasi, tetapi juga disebabkan bermacam-macam hal lain, misalnya salah dengar, usaha memendekkan suatu kata yang panjang dan sebagainya. Kata bis yang sehari-hari dipakai sebenarnya berasal dari kata veniculum omnibus, yang berarti ‘kendaraan untuk umum’. Tetapi karena terlalu panjang maka yang diambil hanya suku kata terakhir, yang sebenarnya hanya merupakan sebuah akhiran.

Tetapi dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atas berbagai kata yang selama ini diketahui, terdapat beberapa macam gejala perubahan bentuk yang dialami sebuah kata:

1. Asimilasi, adalah gejala dimana dua buah fonem yang tidak sama dijadikan sama.

Contoh: in moral     > immoral

ad similatio > asimilasi

2. Disimilasi, adalah proses perubahan bentuk kata di mana dua buah fonem yang sama dijadikan     tidak sama.

Contoh: vanantara     > belantara

lauk-lauk     > lauk-pauk

sayur-sayur > sayur-mayur

3. Diftongisasi, adalah proses di mana suatu monoftong berubah menjadi diftong.

Contoh: anggota > anggauta

teladan > tauladan

4. Monoftongisasi, proses di mana suatu diftong berubah menjadi monoftong.

Contoh: pulau > pulo

danau > dano

5. Haplologi, adalah proses di mana sebuah kata kehilangan suatu silaba (suku kata) di     tengahnya.

Contoh: samanantara (Sansekerta) > sementara

budhidaya                        > budaya

6. Anaktipsis, adalah proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan     ucapannya.

Contoh: putri > puteri

sloka > seloka

7. Metatesis, adalah proses perubahan bentuk kata di mana dua fonem dalam sebuah kata     bertukar tempat.

Contoh: padma > padam (padma = lotus merah)

almari > lemari

beting > tebing

8. Aferesis, adalah proses di mana suatu kata kehilangan satu atau lebih fonem pada awal     katanya.

Contoh: adhyaksa   > jaksa

pepermunt > permen

9. Sinkop, adalah proses di mana suatu kata kehilangan satu fonem atau lebih di tengah-tengah     kata.

Contoh: utpatti > upeti

niyata > nyata

10. Apokop, adalah proses di mana suatu kata kehilangan suatu fonem pada akhir kata.

Contoh: pelangit    > pelangi

possesiva > posesif

11. Protesis, adalah proses di mana suatu kata mendapat tambahan satu fonem pada awal kata.

Contoh: lang   > elang

smara > asmara

12. Epentesis, adalah proses di mana suatu kata mendapat tambahan suatu fonem atau lebih di       tengah-tengah kata.

Contoh: kapak  > kampak

upama > umpama

13. Paragog, adalah proses penambahan suatu fonem pada akhir suatu kata.

Contoh: hulubala > hulubalang

ina         > inang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *