Sunday, 10 May 2026
above article banner area

Collaborative Learning

Collaborative Learning (CL) dan Problem-Based Learning (PBL) dirancang untuk mengembangkan ketrampilan belajar siswa. Selama ini pola pengajaran cenderung menghasilkan mahasiswa yang pasif, terlalu bergantung dan menunggu suapan materi dari guru. Ironisnya, perubahan dunia yang begitu cepat menuntut mahasiswa untuk mampu secara mandiri mengolah berbagai informasi yang ada dan terus aktif mengembangkan diri mereka. Menyadari kesenjangan antara kinerja hasil pembelajaran mahasiswa dengan tuntutan dunia inilah, metode collaborative learning dan problem-based learning diciptakan. Keduanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan belajar mandiri mereka (self-regulated learning).

Setiap komponen dalam metode collaborative learning dan problem-based learning memegang peranan penting dalam membentuk kemandirian belajar mahasiswa. Kurikulum dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga mahasiswa berkesempatan (sampai batasan tertentu) untuk menentukan sendiri tujuan dan langkah-langkahnya dalam belajar. Kegiatan belajar tidak dibatasi sekedar pada pencapaian tujuan intruksional yang telah ditetapkan oleh kurikulum.

Sepanjang kegiatan, Anda berperan : mengajarkan, mencontohkan dan mendorong penggunaan strategi belajar yang efektif dalam proses belajar mereka. Lingkungan belajar yang kolaboratif memungkinkan mahasiswa dapat saling belajar dalam kelompok.

Tulisan ini mencoba menggambarkan apa dan bagaimana collaborative learning dan problem based learning itu. Selain pokok-pokok pemikiran yang mendasarinya, ada pula bagian-bagian yang akan membantu Anda selangkah demi selangkah untuk melakukan kegiatan pembelajaran dalam lingkungan collaborative learning dan problem based learning.

KONSEP BELAJAR DASAR

(dalam Collaborative Learning & Problem-Based Learning)

Apa sebenarnya arti “b-e-l-a-j-a-r” dalam CL & PBL?

Sebagai metode belajar, CL dan PBL dilandasi oleh pemikiran bahwa kegiatan belajar di kampus hendaknya mendorong dan membantu siswa untuk terlibat secara aktif membangun pengetahuannya sehingga mencapai pemahaman yang mendalam (deep learning). Dalam pendekatan ini, siswa dipandang sebagai pusat dari kegiatan belajar. Dalam merancang kegiatan belajar di kelas, pengajar tidak hanya memperhatikan tuntutan kurikulum yang harus diselesaikan, melainkan juga memperhatikan kondisi dan karakteristik siswa serta memberi kesempatan pada mereka untuk menentukan sendiri beberapa hal dalam proses belajarnya, seperti sebagian dari tujuan yang ingin dicapai dalam proses belajarnya. Hal ini tidak berarti bahwa pengajar menyerahkan sepenuhnya pada siswa otoritas untuk membuat keputusan mengenai materi-materi yang penting dipelajari, melainkan memberikan sebagian tanggung jawab pada siswa untuk mengarahkan sendiri proses belajarnya.

Paradigma-paradigma dasar “belajar” dalam CL & PBL

· Deep Learning

Proses belajar yang mendalam, melibatkan motivasi intrinsik, untuk memperoleh pemahaman menyeluruh akan suatu hal. Tidak sekedar melakukan kegiatan menghapal dan bertujuan hanya untuk memperoleh nilai, kegiatan deep learning antara lain muncul dalam bentuk kegiatan belajar seperti membaca secara mendalam, memahami, mengaitkan dengan pemahaman terdahulu, berdiskusi dan merefleksikan.

Deep learning memungkinkan siswa untuk mampu memperoleh lebih banyak informasi dan menerapkan pengetahuannya untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

· Constructivism

Proses belajar tidak dapat dianalogikan dengan mengisi air ke dalam bejana yang kosong. Otak manusia bukan spons yang secara pasif siap menyerap dan menyimpan apa saja yang diterima oleh indera. Lebih dari itu, belajar adalah sebuah kegiatan mental yang aktif dan konstruktif.

Proses belajar terjadi bila individu secara sengaja dan aktif membangun pengetahuannya dengan cara mengolah informasi yang baru diperolehnya dan mengaitkannya dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya (prior knowledge).

Yang terpenting dalam kegiatan mengajar adalah bagaimana mempresentasikan pengetahuan dan membuat mahasiswa aktif memproses pengetahuan dengan berbagai cara. Selanjutnya, paradigma ini juga menekankan perlunya memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berinteraksi dengan orang lain karena melalui interaksi tersebut mahasiswa akan terdorong untuk membentuk dan menguji kembali pemahamannya mengenai berbagai hal.

· Learner-centered

Pandangan ini merupakan koreksi dari pandangan sebelumnya (teacher-centered) yang menganggap bahwa pengajar adalah fokus utama dan sumber terjadinya proses pembelajaran. Untuk keberhasilan proses belajar yang terjadi pada dirinya, siswa sendirilah yang paling bertanggung jawab dan paling berperan menentukan. Siswa tidak lagi semata-mata secara pasif menerima apapun yang diberikan oleh pengajar, namun secara aktif melakukan upaya untuk membangun pengetahuan di kepalanya. Mahasiswa diberi kesempatan untuk menentukan sendiri arah dan kedalamannya proses belajarnya.

COLLABORATIVE LEARNING

Apa sebenarnya Collaborative Learning (CL) itu?

Proses belajar kelompok dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya, untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota.

Apa yang membuat CL berbeda dengan belajar kelompok yang sudah kita kenal?

Belajar Kelompok pada Umumnya
Collaborative Learning

Mekanisme pembagian tugas
hanya siswa tertentu yang memahami materi tertentu
Memungkinkan setiap siswa memahami seluruh bagian-bagian bahasan

Kondisi di akhir proses belajar
Masih sangat mungkin terjadinya perbedaan taraf pemahaman pada masing-masing siswa
Seluruh siswa memiliki pemahaman yang setara akan suatu hal

Faktor-faktor kunci keberhasilan CL

· Positive Interdependence

Persepsi bahwa setiap anggota kelompok saling tergantung satu sama lain. Setiap siswa tidak akan berhasil kecuali jika seluruh siswa lain dalam kelompoknya berhasil. Hasil kerja setiap anggota akan menguntungkan (atau merugikan) anggota lainnya, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, kekompakkan dalam mencapai pemahaman belajar merupakan hal penting yang perlu ditumbuhkan.

· Individual Accountability

Rasa tanggung jawab setiap siswa atas kemajuan proses belajar diri sendiri dan proses belajar seluruh anggota kelompoknya. Siswa tidak hanya bertanggungjawab mempelajari bagian materi tertentu, tapi juga bertanggungjawab untuk membantu seluruh anggota kelompoknya dalam mempelajarinya.

· Face-to-face Promotive Interaction

Interaksi tatap muka yang melibatkan diskusi, penyimpulan, dan elaborasi dari materi yang dipelajari.

· Social Skills

Penggunaan ketrampilan interaksi dan bekerjasama dengan orang lain, untuk memperoleh pemahaman kolektif

· Group Processing & Reflection

Evaluasi kelompok mengenai seberapa baik proses belajar yang telah terjadi, hal-hal apa saja yang bermanfaat dan yang selanjutnya harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja kelompok.

Peran siswa dalam CL

· Peran-peran yang HARUS DILAKUKAN:

o Mengarahkan, yaitu menyusun rencana yang akan dilaksanakan dan mengajukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi

o Menerangkan, yaitu memberikan penjelasan atau kesimpulan-kesimpulan pada anggota kelompok yang lain

o Bertanya, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengumpulkan informasi yang ingin diketahui.

o Mengkritik, yaitu mengajukan sanggahan dan mempertanyakan alasan dari usulan/pendapat/pernyataan yang diajukan.

o Merangkum, yaitu membuat kesimpulan dari hasil diskusi atau penjelasan yang diberikan.

o Mencatat, yaitu membuat catatan tentang segala sesuatu yang terjadi dan diperoleh kelompok

o Penengah, yaitu meredakan konflik dan mencoba meminimalkan ketegangan yang terjadi antara anggota kelompok.

· Peran-peran yang HARUS DIHINDARI:

o Free-rider, yaitu membiarkan teman-temannya melakukan tugas kelompok, tanpa berusaha ikut serta memberikan kontribusi dalam proses kolaborasi

o Sucker, yaitu tidak ikut serta memberikan kontribusinya karena tidak bersedia membagi pengetahuan yang dimilikinya

o Mendominasi, yaitu menguasai jalannya proses penyelesaian tugas, sehingga kontribusi anggota kelompok yang lain tidak optimal

o Ganging up on task, yaitu cenderung menghindari tugas dan hanya menunjukkan sedikit usaha untuk menyelesaikannya

Peran pengajar dalam CL

Pengajar dalam metoda CL tidak lagi memberikan ceramah didepan kelas, tapi dapat memiliki berbagai peran seperti:

· Fasilitator

Menyediakan sarana yang memperlancar proses belajar siswa;

o Mengatur lingkungan fisik,

o Memberikan atau menunjukkan sumber-sumber informasi

o Menciptakan iklim kondusif yang dapat mendorong siswa memiliki sikap dan tingkah laku tertentu

o Merancang tugas

· Model

Secara aktif berupaya menjadi contoh dalam melakukan kegiatan belajar efektif, seperti mencontohkan penggunaan strategi belajar atau cara mengungkapkan pemikiran secara verbal (think aloud) yang dapat membantu proses konstruksi pengetahuan.

· Pelatih (Coach)

Memberikan petunjuk, umpan balik, dan pengarahan terhadap upaya belajar siswa. Siswa tetap mencoba memecahkan masalahnya sebelum memperoleh masukan pengajar.

Variasi model-model pelaksanaan CL

· Metode jigsaw

Prinsip utama: Adanya pembagian tugas ke dalam sub-sub materi, agar setiap anggota kelompok dapat mempelajari satu bagian secara mendalam, untuk kemudian membagi pemahamannya dengan teman-teman sekelompok.

Jenis Kelompok:

o Focus Group

§ Bersama-sama mempelajari sub materi secara mendalam

§ Kegiatan utama adalah mencari informasi dan memperdalam pemahaman

o Home Group

§ Saling berbagi pemahaman akan sub materi yang berbeda

§ Kegiatan utama adalah saling mengajarkan (reciprocal teaching)

Penyebaran dan pengelompokan dengan sistem focus group & home group dapat digambarkan sebagai berikut;

Siklus Kegiatan dalam Metode Jigsaw

Kegiatan belajar dalam Metode Jigsaw berjalan secara bergantian, antara kegiatan focus group dan kegiatan home group. Pengulangan siklus ini disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan banyaknya materi bahasan.

PROBLEM BASED LEARNING

Apa sebenarnya Problem-Based Learning (PBL) itu?

metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru

Apa yang dibutuhkan dalam PBL?

· Permasalahan atau tugas (triggering problem/question)

Bentuk tugas atau masalah harus memiliki kriteria berikut:

o tidak mempunyai struktur yang jelas sehingga siswa terdorong untuk membuat sejumlah hipotesa dan mengkaji berbagai kemungkinan penyelesaian masalah. Permasalahan yang kurang berstruktur ini sebaiknya dirancang oleh Anda sebagai pengajar, agar siswa termotivasi dan berkesempatan untuk secara bebas mencari informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber

o cukup kompleks dan ambigu sehingga mahasiswa terdorong untuk menggunakan strategi-strategi penyelesaian masalah dan keterampilan berpikir yang tinggi seperti melakukan analisa dan sintesa, evaluasi, dan pembentukan pengetahuan/pemahaman baru.

o bermakna dan ada hubungan dengan kehidupan nyata mahasiswa, sehingga mereka termotivasi untuk mengarahkan dirinya sendiri dan menguji pengetahuan/pemahaman lama mereka dalam menyelesaikan tugas tersebut.

· Karakteristik kelompok

o Dibagi secara acak

o 5-8 orang

o Heterogen (latar belakang maupun kemampuan)

· Sumber belajar

Bahan bacaan atau informasi dari nara sumber yang dapat dijadikan acuan bagi siswa dalam menyelesaikan tugas atau permasalahan. Karena bentuk tugas akan memancing beragam pemikiran, maka sumber belajar yang tersedia juga diharapkan cukup bervariasi dan dalam jumlah yang memadai.

· Waktu kegiatan

Disesuaikan dengan beban kurikulum yang hendak dicapai.

Siklus kegiatan PBL

· Pemberian masalah

Pengajar memberikan masalah pada siswa

· Apa yang perlu diketahui?

Setelah membaca masalah, siswa mengenali masalahnya, lalu membuat hipotesa dan mengelaborasikan hipotesa yang telah dibangun dengan permasalahannya.

Hipotesa :

Ada banyak kemungkinan hipotesa yang akan dibuat oleh mahasiswa, antara lain :

Siswa menentukan apa yang belum mereka ketahui dan apa yang masih perlu dipelajari. Mereka memastikan informasi apa yang belum dimiliki, yang membuat pemecahan masalah belum juga bisa dilakukan. Tetapi sebelumnya, mahasiswa mencoba untuk memecahkan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki.

Dalam tahapan ini, mahasiswa akan mengembangkan gagasan yang lebih jelas mengenai hal-hal apa saja yang telah mereka ketahui, yang berkaitan dengan masalah. Seringkali bahkan mereka akan terkejut bahwa mereka telah cukup memiliki informasi untuk memecahkan masalah.

· Mempelajari

Siswa mulai membuat rencana kerja yang meliputi semua atau sebagian dari langkah-langkah berikut:

o Menentukan apa yang perlu dipelajari

o Menentukan tujuan dan sasaran belajar

o Melakukan kegiatan belajar secara mandiri

· Menerapkan

Siswa akan menerapkan pengetahuan baru yang telah diperoleh secara mandiri terhadap permasalahan yang dihadapi kelompok.

· Evaluasi Hasil

Siswa akan mengevaluasi tingkat kemajuan belajar yang telah terjadi dengan melihat kembali hal-hal seperti berikut :

o Pengetahuan baru yang diperoleh

o Kualitas pemecahan masalah

o Proses belajar yang terjadi

Bila hasil evaluasi menunjukkan adanya ketidakcocokan jawaban dengan permasalahan atau kurangnya informasi tentang suatu bahasan, siswa dapat mengulang kembali tahapan mencari pengetahuan tambahan, sehingga pada akhirnya mendapat jawaban yang diinginkan.

Dengan demikian, siklus PBL dapat diulang kembali sesuai dengan kebutuhan belajar.

Kendala yang mungkin muncul dalam pelaksanaan PBL

· Masa transisi yang tidak mudah.

Untuk menjalankan hal baru tidak hanya sulit bagi Anda sebagai siswa, namun juga bagi pengajar. Dibutuhkan waktu untuk mengubah siswa yang sebelumnya terbiasa ‘disuapi’, agar lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam proses belajarnya sendiri.

· Waktu belajar yang tidak sedikit

Dalam PBL dibutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan metode ceramah (lecture) untuk mengajarkan suatu materi. Karakteristik masalah bersifat interdisiplin dan melibatkan siswa untuk memikirkan permasalahan secara mendalam, sebelum menemukan solusinya.

· Belum terbiasa dan minimnya ketrampilan yang dimiliki siswa untuk menunjang proses belajar.

PENILAIAN

Tujuan dan aspek yang dinilai

Baik dalam CL maupun PBL, penilaian terhadap siswa dilakukan dengan tujuan:

· mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar

· menilai sejauh mana pemahaman siswa tentang materi yang dipelajari.

Dengan demikian, selain hasil belajar siswa yang biasa diperoleh melalui ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS), penilaian juga diberikan pada proses belajar yang terjadi dalam kelompok, yang meliputi:

· aktivitas masing-masing siswa dalam kelompok

· efektivitas proses kelompok dalam mencapai tujuan.

Metode pengambilan data untuk penilaian

Selain penilaian dan evaluasi yang dilakukan pengajar, dalam CL dan PBL juga disarankan adanya penilaian dan evaluasi yang dilakukan secara mandiri oleh siswa (self-assessment) dan kelompok (peer-assessment).

· Penilaian oleh pengajar

o Ujian tertulis

umumnya dilakukan di tengah semester (UTS) dan di akhir semester (UAS).

o Presentasi oral

memberikan kesempatan pada siswa untuk melatih keterampilan komunikasinya. Pengajar/nara sumber dapat mengevaluasi kedalaman pengetahuan siswa serta meluruskan kesalahpemahaman yang mungkin terjadi pada kesempatan presentasi ini.

o Laporan/Makalah/Karya Tulis

Berkomunikasi tertulis adalah keterampilan yang perlu dikuasai siswa, karena dapat melatih menuangkan pikiran dan berkomunikasi dalam bentuk yang sistematis.

· Penilaian oleh diri sendiri (self-assessment)

Self-assessment mendorong siswa mengevaluasi partisipasi, proses, dan hasil belajar secara kritis, mengambil perspektif sebagai “orang luar” dan menerapkan kriteria penilaian yang diberikan ataupun dibuat bersama pengajar. Dengan demikian, siswa akan mengetahui kekurangan yang ada dalam dirinya sehingga dapat mendorong proses belajar lebih lanjut.

· Penilaian antar teman (peer-assessment)

Dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang persepsi teman terhadap kontribusi siswa dalam proses kelompok. Hal-hal yang dapat diukur dalam peer-assessment antara lain:

o kemampuan berkomunikasi

o kemampuan bekerjasama

o kontribusi terhadap kelompok

o kreativitas

o kepemimpinan

o kualitas kerja

o kuantitas kerja dan

o sikap kerja.

Salah satu cara adalah dengan meminta siswa lain untuk memberikan nilai pada hasil presentasi siswa.

Untuk menilai proses belajar yang telah dijalani, siswa diminta untuk saling memberikan masukan tentang keterlibatan rekan satu kelompok dalam proses kerjasama.

Pemberian nilai

Mengacu pada dua tujuan di atas, pemberian nilai yang dianjurkan dalam CL & PBL biasanya dirancang untuk menciptakan:

· dorongan untuk aktif meningkatkan pemahamannya sendiri dan membantu teman sekelompoknya untuk meningkatkan pemahaman mereka (individual accountability)

· kemungkinan yang sama besar bagi setiap orang (baik mahasiswa dengan prestasi baik maupun buruk) untuk meraih keberhasilan (equal opportunity to success)

· keyakinan bahwa apa yang dipelajari akan dievaluasi.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *