Judul: Guruku Kembalilah ke Jalan yang Benar
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Trimo, S.Pd.,M.Pd.
Saya Dosen di IKIP PGRI Semarang
Topik: Guru
Tanggal: 8 Juli 2008
GURUKU, KEMBALILAH KE JALAN YANG BENAR
oleh: Trimo
Seorang mahasiswa menceritakan tentang kegelisahannya ketika mengunjungi sekolah tempat ia dididik puluhan tahun silam. Balutan idealisme yang melekat kuat seakan terburai oleh sebuah kenyataan. Guru yang dulu tenang, sabar, dan berwibawa menjadi guru yang “garang” dan “mendagangkan” sekolah.
Kelas memang tenang, namun penuh ketakutan dan kecemasan. Tidak ada lagi tepuk tangan, keceriaan, dan senyum dari siswa. Berkali-kali, guru memegang penggaris dan membenturkannya ke papan tulis ketika siswa terlihat gaduh. “Bisa diam apa tidak?” kalimat itu seolah menjadi “lagu” yang memilukan.
Rumah siswa dalam sudut sempit telah berubah menjadi ornamen kelas yang statis. Kalau toh ada ornamen, itu pun hanya sebagai pelengkap penderita. Kemalasan guru agaknya menjadi salah satu indikator kebuntuan berbagai kebijakan yang sebenarnya bermuara pada peningkatan mutu pendidikan.
Pelayanan kepada siswa yang menjurus pada malpraktik sering termediakan. Beragam peristiwa yang menjurus pada kekurangprofesionalan guru seakan menempatkan guru pada suatu jalan berliku dan terjal. Kasus guru menyakiti siswa, seperti menampar, menendang, menempeleng, dan sejenisnya seakan menjadi bumbu pelengkap. Guru kita memang belum profesional. Potret sederhana di atas setidaknya mendukung data statistik Balitbang Depdiknas (2002) bahwa 50,51% guru SD tidak layak mengajar. Sementara 33,67% guru SMP dinyatakan tidak layak mengajar. Hal ini juga diperkuat dengan data pada UNDP (2007) tentang Human Development Index yang menempatkan Indonesia pada peringkat 107 dari 177 negara yang disurvei.
Pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi yang kemudian direparasi menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan yang secara substansial begitu menyentuh kebutuhan siswa juga masih di awang-awang. Masih banyak guru yang apatis dan resistance ketika belajar memaknai KBK/KTSP dalam konteks pembelajarannya. Banyak guru ditatar KBK/KTSP secara berjenjang namun ketika sampai pada tahap aplikatif, actionnya nyaris tak terdengar. Guru hanya menjadi tukang mengajar seperti sedia kala, bukan sebagai arsitek pembelajaran.
Jika tidak percaya, sekali tempo stakeholders pendidikan langsung sidak (tidak usah memberi tahu) ke sekolah-sekolah negeri yang mengklaim dan sudah ber-KBK/KTSP. Di situlah, kita akan tau jawabnya bahwa sebenarnya kita dikibuli oleh ratusan bahkan ribuan guru. Mereka (baca:guru) masih malas berubah. Pandangan mereka sederhana: “kalau sesuatu yang mudah mapan mengapa digonta-ganti”. Sebuah pandangan klasik yang cenderung mencari kambing hitam.
Kemalasan guru untuk mengajar secara profesional dilandasi pemikiran tidak adanya kontribusi, baik positif maupun negatif. Seorang guru yang mengajar dengan pola pembelajaran bernuansa KBK/KTSP tidak akan berpengaruh terhadap gaji yang diterima tiap bulannya. Gaji mereka toh tetap akan sama jika dibandingkan dengan gaji guru yang mengajar seenaknya sendiri. Lagi pula, pemerintah tidak akan memberi sanksi bagi guru-gura yang malas dan tidak mampu mengajar sesuai dengan KBK/KTSP. Dalam bahasa jawa, inilah yang barangkali diistilahkan “tumbu oleh tutup” artinya klop.
Namun, sebenarnya ada kepuasan batin dan sekaligus kebanggaan nurani apabila guru mau belajar untuk berubah dalam konteks pembelajaran. Secara sederhana, mendisain pembelajaran yang bermakna dengan menerapkan paradigma pembelajaran efektif: learning to do, learning to know, learning to be, dan learning to live together merupakan kebangkitan awal guru untuk kembali ke jalan yang benar.
Guruku, mari kita kembali ke jalan yang benar seperti jalan yang pernah kau rintis kala menjadi guru PPL. Kita bimbing anak-anak dengan penuh kesabaran dan profesional agar kelak menjadi orang-orang terpilih. Jadilah garam, walaupun sedikit dapat memberi rasa merata.
Tidak akan ada lagi suara penggaris yang menggedor papan tulis. Tidak ada lagi suara kasarmu yang memekakkan telinga. Tidak ada lagi lambaian tanganmu yang melayang di pipi. Tidak ada lagi hentakan kakimu yang mengoyak tubuh, dan tidak ada lagi tatapan matamu yang garang.
Saya Trimo, S.Pd.,M.Pd. setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
Arabiyatuna Arabiyatuna
