Model Pengembangan Asesmen yang efektif
Penilaian atau evaluasi dalam bidang pendidikan adalah suatu proses memberi pertimbangan tentang nilai berkaitan dengan metode mengajar atau program pengajaran (Nitko 1983:27 dalam Muslimin, 2003). Penilaian merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan informasi atau bukti dan penetapan keputusan tentang posisi peserta didik dalam rentang kompetensi yang ditetapkan (Muslimin, 2003a). Penilaian proses belajar dilakukan terus menerus terintegrasi dengan kegiatan belajar mengajar (penilaian berbasis kelas). Penilaian berbasis kelas merupakan sistem pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi yang ditetapkan (Muslimin, 2003).
Asesmen adalah proses mengumpulkan informasi dan mengambil keputusan berdasarkan informasi itu (Blaustein et al, 1999 dalam Muslimin, 2003a). Asesmen merupakan suatu proses pengumpulan informasi dan pembuatan keputusan berdasarkan informasi yang diperlukan (Arikunto, 2001:15). Tiap tahap kemajuan belajar peserta didik dapat dipantau sehingga memungkinkan peserta didik mendapatkan umpan balik dari gurunya dan melakukan refleksi atas hasil belajarnya dan belajar dari kesalahannya (Muslimin, 2003a). Pemanfaatan hasil penilaian proses belajar digunakan untuk
-
Memantau kemajuan dan mendiagnosis sejauhmana keterlibatan siswa dalam pembelajaran
-
Memberi umpan balik yang mendorong peserta didik semakin aktif dalam pembelajaran
-
Memberi masukan kepada guru untuk memperbaiki skenario pembelajaran selanjutnya supaya pembelajaran cenderung berpusat pada siswa (Learned center).
(Muslimin, 2003a)
Model pengembangan asesmen yang efektif antara lain, yaitu: asesmen autentik, asesmen kinerja, dan asesmen alternatif.
1. Asesmen Autentik
Asesmen Autentik yaitu mengukur kemampuan siswa sesungguhnya yang mencakup aspek-aspek yang luas seperti keseharian siswa melalui tugas-tugas autentik yang harus diselesaikan siswa. Asesmen autentik dan asesmen kinerja sering penggunaanya saling dipertukarkan. Meskipun dari keduanya mungkin cocok unuk dapat diterapkan pada beberapa tipe asesmen, keduanya tidak persis sama. Pemahaman tentang perbedaan kedua asesmen tersebut penting pada saat pengembangan asesmen.
Penilaian autetik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan/kompetensi telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Prinsip penilaian autentik meliputi:
-
-
penilaian harus merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran
-
penilaiaan harus meneerminkan masalah dunia nayata
-
penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar
-
penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotorik)
-
(Sumber: DEPDIKNAS, tanpa tahun)
Asesmen autentik diharapkan dapat melengkapi alat penilaian paper and pencil test yang umumnya hanya dapat mengungkapkan kemampuan kognitif siswa, yang dapat memberi bukti berapa banyak informasi yang telah dikumpulkan siswa. Dengan asesmen autentik diharapkan penilaian yang dilakukan lebih komprehensf sehingga dapat digunakan unuk membuat profil siswa secara utuh, sehingga perlu kreativitas guru dalam mengembangkan asesmen autentik yang sesuai untuk mengukur tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Guru perlu memvariasikan perancangan alat-alat asesmen baik formal maupun informal untuk membantu memperoleh potret yang jelas mengenai kemajuan siswa. Asesmen autentik adalah asesmen yang mengukur kinerja siswa dalam suatu tugas kehidupan nyata, situasi relevan atau masalah berguna, bermanfaat, bermakna, dan berarti (Mc Graw Hill School Division, 2000 dalam Muslimin, 2003:33).
Asesmen autentik memiliki ciri sebagai berikut (Muslimin, 2003):
a. mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
b. mempersyaratkan penerapan pengetahuan dan keterampilan
c. penilaian terhadap produk aau kinerja
d. tugas-tugas kontekstual yang relevan
e. proses dan produk, dua-duanya dapat diukur
Terdapat banyak tipe asesmen untuk melakukan asesmen autentik, dan dalam makalah ini fokus pada pembahasan asesmen kinerja, dan berbagai asemen lannya dalam cakupan asesmen altenatif.
2. Asesmen kinerja (Performance assesment)
. Perlu dipahami bahwa asesmen kinerja tidak mengganti asesmen tradisional. Asesmen tradisional memberi bukti seberapa banyak informasi yang telah berhasil dikumpulkan oleh siswa, sedang asesmen kinerja memberikan suatu gambaran seberapa baik siswa itu dapat menggunakan satu atau lebih nfomasi itu. Setiap guru harus menemukan keseimbangan yang baik antara pengetesan tradisonal dengan asesmen kinerja. Kadang-kadang tes tradisional terlebih dahulu digunakan untuk meyakinkan bahwa siswa telah menguasai informasi yang akurat untuk digunakan di dalam asesmen kinerja. Ciri asesmen tradisional: isi, pengetahuan proses, pemecahan masalah. Sedangkan ciri asemen kinerja yaitu: budaya kerja, penilaian diri, keluwesan adaptasi, penerapan autentik, menerapkan semua gaya belajar, rancangan kreatif, pembelajarann kooperatif, penerapan keterampilan, dan produk kreatif.
Asesmen kinerja dilakukan untuk menilai tugas-tugas yang dilakukan oleh siswa. Tugas itu disebut tugas kinerja. Menurut Hibbard (1995) dalam Nur (2001) dalam Muslimin (2003) menyatakan bahwa tugas-tugas kinerja menghendaki 1) penerapan-penerapan konsep IPA dan informasi penunjang penting lainnya, 2) budaya kerja yang penting bagi studi atau kerja ilmiah, 3) penampakan ketidakbutaan ilmiah. Penialaian kinerja harus mencakup hasil akhir dan proses untuk mencapai hasil itu. Dengan hanya melihat hasil akhir seperti laporan atau karya ilmiah, guru tidak mendapat gambaran seberapa banyak ide-ide asli yang berasal dari siswa yang dinilai.
Komponen dari asemen kinerja (DEPDIKNA, 2003):
1. tugas-tugas yang menghendaki siswa menggunakan pengetahuan dan proses yang telah mereka pelajari
2. Daftar cek yang mengiedentifikasi elemen-elemen tindakan atau hasil yang diperiksa
3. seperangkat deskipsi dari satu poses dan atau suatu kontinum nilai kualitas (rubrik) yang digunakan sebagai dasar untuk menilai keseluruhan kerja
4. contoh-contoh dengan mutu yang sangat baik sebagai model bagi pekerjaan yang harus dilakukan.
Kriteria tugas kinerja yang valid yaitu tersedianya tugas-tugas yang akan diberikan kepada siswa. Tugas itu menuntut siswa untuk menerapkan pengetahuan dan proses yang telah mereka pelajari. Agar mendapatkan alat evaluasi yang valid tugas-tugas kinerja harus memiliki kriteria berikut:
-
memusatkan pada elemen pengajaran yang penting
-
Sesuai dengan isi kurikulum yang diacu
-
Mengintegrasikan informasi, konsep, keterampilan, dan kebiasaan kerja
-
Melibatkan siswa
-
Mengaktifkan kemauan siswa untuk bekerja
-
Layak dan pantas untuk seluruh siswa
-
Ada keseimbangan antara kerja kelompok dan kerja individu
-
Terstruktur dengan baik untuk memudahkan pemahaman
-
Memiliki produk yang autentik/dunia nyata
-
Memiliki proses yang autentik
-
Memasukkan penilaian diri
-
Memungkinkan umpan balik dari orang lain
Langkah-langkah penerapan asesmen kinerja (Hibbard, 1995 dalam Muslimin, 2003) sebagai berikut:
1. memilih daftar tugas asesmen kinerja yang cocok dari produk atau proses yang dinilai di dalam tugas siswa
2. menunjukkan dan mendiskusikan contoh atau model pekerjaan dengan kualitas tinggi yang serupa tapi tidak sama dengan tugas yang akan dikerjakan
3. siswa diminta menyelesaikan tugas dengan panduan daftar asesmen tugas kinerja (DATK)
4. siswa diminta melakukan penilaian diri atas produk atau proses dengan menggunakan DATK
5. Siswa diminta menggunakan hasil penilaian dirinya untuk merevisi pekerjaan mereka
6. menilai produk, proses, dan penilaian diri siswa dengan menggunakan daftar asesmen tugas kinerja
7. mendiskusikan penilaian itu dengan siswa secara individual
8. secara periodik menilai kualitas keseluruhan pekerjaan sisa dengan menggunakan rubrik DATK dan DATK adapt digunakan dalam penentuan dan penjelasan skor rubrik. Rubrik adalah seperangkat deskripsi dari suatu kualitas proses. Seperangkat deskripsi ini merupakan suatu kualitas kontinum, beregrak dari yang paling baik/unggul menuju yang jelek. Rubrik adalah seperangkat kriteria penskoran yang diguanakan untuk mengevaluasi dan mengakses kinerja siswa.
3. Asesmen alternatif
Asesmen alternatif adalah asesmen yang tidak melibatkan suatu tes baku dengan butir tradisional (Mc Graw Hill School Division dalam Rubrik adalah seperangkat deskripsi dari suatu kualitas proses. Seperangkat deskripsi ini merupakan suatu kualitas kontinum, beregrak dari yang paling baik/unggul menuju yang jelek (Muslimin, 2003b). Bentuk asesmen alternatif menggunakan berbagai cara untuk mengakses siswa selain asesmen tradisional (tes obyektif pilihan ganda). Macam asesmen alternatif antara lain:
-
Asesmen kinerja
-
Observasi (praktikum) dan pertanyaan
-
Presentasi dan diskusi
-
Proyek investigasi
-
Portofolio dan jurnal
(Muslimin, 2003)
Teknik memantau kinerja siswa antara lain: Interview (wawancara) dan konferensi (diskusi tidak formal antara guru dengan siswa) yaitu guru mengajukan masalah terkait pelajaran dan guru mencatat pendapat tiap siswa sehingga melatih siswa berpikir kritis, evaluasi diri oleh siswa.
Arabiyatuna Arabiyatuna
