Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment) adalah membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan profesional untuk memperbaiki pembelajaran. Asesmen bertujuan antara lain untuk:
- Mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar,
- Memonitor kemajuan siswa,
- Menentukan jenjang kemampuan siswa,
- Menentukan efektivitas pembelajaran,
- Mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran,
- Mengevaluasi kinerja guru kelas,
- Mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru
Setiap penggunaan asesmen alternatif bentuk apapun dicirikan oleh hal-hal berikut:
- Menuntut siswa untuk merancang, membuat, menghasilkan, menunjukkan atau melakukan sesuatu;
- Memberi peluang untuk terjadinya berpikir kompleks dan/atau memecahkan masalah;
- Menggunakan kegiatan-kegiatan yang bermakna secara instruksional;
- Menuntut penerapan yang autentik pada dunia nyata;
- Pensekoran lebih didasarkan pada pertimbangan manusia yang terlatih daripada mengandalkan mesin. Untuk memperoleh asesmen dengan standar tinggi, maka penggunaan asesmen harus relevan dengan standar atau kebutuhan hasil belajar siswa; adil bagi semua siswa; akurat dalam pengukuran; berguna; layak dan dapat dipercaya (Herman,1997 dalam Mulyana, 2005)
Agar penggunaan asesmen dalam kelas sesuai dengan pembelajaran dan dapat meningkatkan pembelajaran tersebut Cottel (1991) dalam Mulyana (2005) menggagaskan 5 petujuk bagi guru penggunaan asesmen dalam kelas. Kelima petunjuk tersebut adalah: pertama, senantiasa menganggap bahwa pembelajaran terus berlangsung; kedua, selalu meminta siswa untuk menunjukkan bukti-bukti bagaimana mereka belajar; ketiga, memberi siswa umpan balik tentang respon kelas serta rencana pengajar tentang respon tersebut; keempat, melakukan penyesuaian-penyesuaian yang tepat untuk meningkatkan pembelajaran; dan kelima, menilai ulang bagaimana penyesuaian-penyesuaian tersebut bekerja cukup baik.
Arabiyatuna Arabiyatuna
