Formaldehida (aldehid paling sederhana) adalah gas tidak berwarna dengan bau menyengat. Formaldehida biasanya tersedia dalam bentuk larutan 40%, disebut formalin atau sebagai polimer putih padat yang dikenal sebagai paraformaldehida. Jika paraformaldehida dipanaskan perlahan – lahan, senyawa akan terurai dan melepaskan formaldehida. (Wilbranam, 1992)
Formalin digunakan untuk mengawetkan spesimen hayati. Formaldehida dalam larutan bergabung dengan protein dari jaringan sehingga membuatnya keras dan tidak larut air. Keadaan ini mencegah pembusukan spesimen. Formalin dapat pula digunakan sebagai antiseptik umum. (Wilbranam, 1992)
Nama lain Formalin (Dep Kes RI, 2006):
– Formol – Methylene aldehyde – Paroforin
– Morbicid – Oxomethane – Polyoxymethylene glycol
– Methanal – Formoform- Superlysoform
– Formic aldehyde – Formalith – Tetraoxymethylene
– Oxyemethylene – Methylene
Unsur aldehida dalam formalin bersifat mudah bereaksi dengan protein. Oleh karena itu ketika disiramkan ke makanan seperti tahu, formalin akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan tahu hingga terus meresap kebagian dalamnya. Dengan terdenaturasinya protein tahu setelah berikatan dengan unsur kimia dari formalin maka bila ditekan tahu terasa lebih kenyal. Selain itu protein tahu yang telah terdenaturasi tidak akan diserang oleh bakteri pembusuk yang menghasilkan senyawa asam, itulah sebabnya tahu atau makanan lainnya menjadi lebih awet. Formaldehid membuat jaringan dalam bakteri mengalami dehidrasi (kekurangan air) sehingga bakteri mati dan sel bakteri akan kering kemudian membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya, formalin tidak saja membuat bakteri mati, tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan serangan bakteri dengan cara tidak bereaksi terhadap bahan yang dilindungi, maka formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam materi/bahan tersebut untuk melindungi dari serangan bakteri berikutnya. Melihat sifatnya, formalin tentu akan berpengaruh terhadap protein yang banyak terdapat di dalam tubuh manusia seperti pada lambung. Terlebih bila formalin yang masuk ke tubuh memiliki dosis tinggi. Masalahnya dosis formalin yang digunakan untuk mengawetkan makanan rendah, sehingga efek samping dari mengkonsumsi makanan berformalin tidak akan dirasakan langsung oleh konsumen. (Anonim, 2006)
Penggunaan Formalin (Dep Kes RI, 2006)
- Pembunuh kuman sehingga digunakan sebagai pembersih lantai, gudang, pakaian, dan kapal
- Pembasmi lalat dan serangga lainnya
- Bahan pembuat sutra buatan, zat pewarna, cermin, kaca, dan bahan peledak
- Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas
- Bahan pembentuk pupuk berupa urea
- Bahan pembuatan produk parfum
- Bahan pengawet produk kosmetik dan pengeras kuku
- Bahan perekat untuk produk kayu lapis
- Dalam konsentrasi yang sangat kecil ( < 1 persen ) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen, seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampo mobil, lilin, dan karpet
Bahaya bila terpapar oleh Formalin (Dep Kes RI, 2006)
Bahaya utama
Formalin sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit, dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi, dan bahaya kanker pada manusia.
Bahaya jangka pendek (akut)
Bila terhirup
- Iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk
- Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang paru, pembengkakan paru.
- Tanda-tanda lainnya meliputi bersin, radang tenggorokan, sakit dada yang berlebihan, kelelahan, jantung berdebar, sakit kepala, mual, dan muntah.
- Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian .
Bila terkena kulit
Apabila terkena kulit maka akan menimbulkan perubahan warna, yaitu kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa, dan ada rasa terbakar
Bila terkena mata
Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gatal-gatal, penglihatan kabur, dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.
Bila tertelan
Apabila tertelan maka mulut,tenggorokan, dan perut terasa terbakar, sakit saat menelan, mual, muntah, diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi ( tekanan darah rendah ), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan ginjal.
Bahaya jangka panjang ( kronis )
Bila terhirup
Apabila terhirup dalam jangka waktu lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal, gangguan haid dan infertilitas pada perempuan, kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru, dan otak. Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, dan daya ingat berkurang.
Bila terkena kulit
Apabila terkena kulit akan terasa panas, mati rasa, serta gatal-gatal dan memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, serta terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.
Bila terkena mata
Jika terkena mata bahaya yang utama adalah terjadinya radang selaput mata.
Bila tertelan
Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan ,muntah-muntah, dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.
Arabiyatuna Arabiyatuna
