Setiap awal tahun akademik, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, selalu menyelenggarakan pertemuan silaturrahim antara warga kampus dengan para wali mahasiswa baru. Sekalipun berasal dari tempat yang jauh, misalnya Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan bahkan Papua, tatkala diundang dalam pertemuan semacam itu, mereka selalu datang. Jumlah yang hadir selalu kurang lebih sama dengan mereka yang diundang. Hal seperti itu membuktikan, betapa besar perhatian para wali mahasiswa tehadap universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, di mana para putra putrinya akan belajar di kampus ini. Kehadiran para wali mahasiswa tersebut menjadi sangat penting, agar mereka mendapatkan informasi tentang kampus, baik menyangkut visi dan misi yang dikembangkan, model pendidikan dan pengajaran yang diterapkan, dan juga target yang diinginkan oleh perguruan tinggi Islam ini. Bersamaan dengan pertemuan silaturrahim tersebut, diselenggarakan wisuda tahfidz bagi mahasiswa yang terhimpun dalam lembaga hafalan al Qurán. Di antara mereka ada yang hafal 5 juz, 10 juz, 15 juz, 20 juz dan bahkan lengkap 30 juz. Para penghafal al Qurán ini berasal dari seluruh fakultas yang ada, sehingga menjadikan tidak begitu relevan pertanyaan yang sering diajukan oleh mereka yang tidak begitu mengenal kampus ini, misalnya mana fakultas agama dan mana yang bukan fakultas agama. Para mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, apapun bidang studi yang dipilih, semuanya dituntut untuk mengkaji al Qurán dan hadits Nabi. Kitab suci dan sejarah kehidupan nabi dijadikan sebagai sumber ilmu yang mereka pelajari sehari-hari. Mahasiswa yang mengambil jurusan fisika, biologi, psikologi, arsitektur dan lain-lain misalnya, diajak untuk mengkaji al Qurán, dan bahkan di antara mereka hafal al Qurán hingga 30 juz. Dengan demikian, terasa tidak tepat jika mahasiswa biologi yang hafal aol Qurán dan berhasil memahami isinya masih disebut sebagai orang yang tidak mengerti agama Islam. Dalam pertemuan itu, saya sebagai rektor menjelaskan secara garis besar tentang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terkait dengan bangunan keilmuan yang dikembangkan, fasilitas yang tersedia, berbagai program yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa, termasuk pengembangan kampus di masa depan. Penjelasan itu saya anggap penting, untuk menumbuhkan suasana kebersamaan dan diharapkan berlanjut terjadi saling bekerjasama dalam mengantarkan para mahasiswa untuk meraih keberhasilan dalam belajarnya. Pada kesempatan itu, saya juga menjelaskan bahwa belajar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mungkin bebannya lebih berat. Karena setiap mahasiwa harus belajar Bahasa Arab secara intensif dalam waktu satu tahun pertama. Untuk menumbuhkan iklim belajar bahasa asing dan juga pengembangan spiritual dan akhlak, maka seluruh mahasiswa, —–tanpa kecuali, harus bersedia bertempat tinggal di ma’had kampus. Selain Bahasa Arab, para mahasiswa juga ditingkatkan kemampuan Bahasa Inggris. Selain itu, saya menjelaskan pula bahwa UIN Maulana Malik Ibrahim ingin mengantarkan para mahasiswanya menjadi seorang ulama yang intelek professional, atau intelek professional yang ulama. Seseorang yang menyandang predikat tersebut, digambarkan memiliki empat kekuatan, yaitu kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan professional. Tujuan itu dicapai dengan cara memadukan antara tradisi kampus dengan tradisi ma’had. Dengan demikian, selain sebagai mahasiswa, mereka yang belajar di kampus ini, juga sekaligus beridentitas sebagai mahasantri. Akhirnya, saya melengkapi penjelasan itu, bahwa kampus telah berusaha menyusun konsep pendidikan, program kerja, menyediakan fasilitas pendidikan yang diperlukan, tenaga dosen sebagai pembimbing belajar pada setiap saat, dan lain-lain, namun semua itu hasilnya terpulang kepada diri mahasiswa yang bersangkutan. Jika semua itu dimanfaatkan secara maksimal, maka akan menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih. Akan tetapi jika tidak dimanfaatkan, fasilitas yang mahal harganya tersebut tidak akan memberi manfaat apa-apa. Maka, itulah pentingnya, bersilaturrahim antara pihak kampus dengan para wali mahasiswa untuk bersama-sama selalu mendorong mahasiswa meraih hasil maksimal dan terbaik. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
