Beberapa hari terakhir ini, saya mendapatkan pertanyaan dari beberapa teman, di antaranya dari seorang kyai lewat tilpun. Pertanyaan itu semua serupa, yaitu tentang kejadian beberapa tahun terakhir terkait dengan banyaknya musibah yang terjadi. Munculnya tsunami, gunung meletus di mana-mana, banjir, putting beliung, berbagai penyakit seperti flu burung, folio, flu babi, demam berdarah, dan lain-lain yang seolah-olah tidak mau berhenti, menimbulkan banyak pertanyaan, yaitu ada apa sebenarnya dengan musibah itu semua.
Belum lagi akhir-akhir ini, entah sebab apa, banyak orang bertengkar. Konflik itu mulai dari antara KPK dengan kejaksaan dan kepiolisian, eksekutif dengan legislative terkait dengan Bank Century, konflik antara polisi dan mahasiswa di Makassar, perang antar suku di Papua, konflik yang dipicu oleh makam Mbah Priuk, tawuran di mana-mana, konflik dengan Malaysia, dan hampir-hampir salah paham dengan Belanda, dan masih banyak lai. Demikian pula akhir-akhir ini terjadi tsunami di kepulauan Mentawai, gunung merapi meletus, dan masih apa lagi yang akan terjadi. Terjadinya musibah, atau bencana alam sebenarnya adalah hal biasa. Di manapun dan kapan pun bisa terjadi. Hanya yang menjadi bahan pertanyaan oleh banyak orang adalah, mengapa hal itu terjadi secara beruntun dan susul menyusul. Keadaan seperti itulah kemudian diangap sebagai sesuatu yang tidak biasa. Memang dalam puluhan tahun, musibah secara beruntun yang menelan banyak korban, baru beberapa tahun terakhir ini. Itulah sebabnya, banyak orang bertanya-tanya dan tidak ada seorang pun yang bisa menjawab secara pasti. Pertanyaan itu, tidak saja berasal dari orang pada umumnya. Beberapa hari terakhir, saya mendapatkan pertanyaan dari seorang kyai melalui tilpun. Sudah barang tentu saya tidak menjawabnya, dan justru saya meminta penjelasan balik dari kyai dimaksud. Saya ketika itu ingin mendapatkan penjelasan dari pespektif kyai. Sekalipun kyai tidak segera bersedia memberikan penjelasan, tetapi setelah saya desak, ternyata jawaban itu akhirnya diberikan. Kyai mengajak saya, ——-masih lewat tilpun, untuk merenungkan kembali tentang kejadian di negeri ini, sejak belasan tahun yang lalu hingga sekarang. Dimulai sejak awal reformasi, banyak orang marah. Kemarahannya itu ditumpahkan dengan berdemonstrasi di mana-mana. Banyak orang ketika itu menghujat siapapun, terutama adalah para pemimpinnya. Suara mereka tidak terkendali, seperti mengumpat, mencaci maki, menjek-jelekkan orang lain. Yang terjadi di mana-mana adalah kemarahan. Seolah-olah negeri ini hanya dihuni oleh orang marah, dalam waktu yang cukup lama. Belum lagi selesai peristiwa itu, dengan dalih untuk menghukum terhadap orang-orang yang korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), maka di mana-mana digelar pengadilan. Siapapun yang salah, dan kapanpun kesalahan itu dilakukan, jika terdapat orang yang melapor,maka siapapun diadili dan dimasukkan ke penjara. Siapapun yang dianggap salah, tidak peduli diberlakukan sama. Akhirnya banyak pejabat tinggi, seperti oknum menteri, gubernur, DPR, BUMN, Bank, bupati, wali kota, DPRD, hingga rektor, kepala sekolah, dosen, guru, pengusaha dan lain-lain, diadili dan dimasukkan ke penjara. Kejadian itu, ——oleh kyai tersebut, dianggap mengakibatkan banyak orang sakit hati. Dengan pengadilan itu, banyak orang yang merasa teraniaya. Sebab orang yang dituduh tersebut juga tahu bahwa, mereka yang memproses pengadilan itu, seperti polisi, jaksa, hakim, pembela dan lain-lain juga terlihat telah melakukan kesalaha yang sama. Maka kemudian dirasakan sebagai telah terjadi ketidak-adilan yang luar biaya. Banyak orang menjadi merasa teraniaya. Mereka sebenarnya setuju bahwa, keadilan perlu ditegakkan, akan tetapi harus dilakukan secara adil. Jangan sampai, justru mereka yang memasukkan ke penjara adalah orang-orang yang telah melakukan kesalahan yang sama, dan bahkan bisa jadi kesalahan itu lebih berat. Selain itu, fitnah pun terjadi di mana-mana. Akibatnya, banyak orang yang hatinya tersakiti, gelisah, jengkel, marah, frustasi , karena ketidak-adilan itu. Kata kyai tersebut, jika di suatu negeri, atau di mana saja, terdapat banyak orang yang merasa teraniaya, dan diperlakukan secara tidak adil, dipermalukan, maka tempat atau bumi yang dihuni oleh orang-orang tersebut, akhirnya juga berontak dan marah. Kyai akhirnya juga menjelaskan, bahwa terjadinya bencana alam yang bertubi-tubi, pertengkaran yang tidak pernah berhenti, penyakit yang muncul di mana-mana, semua itu adalah bentuk dari protes alam ini. Akhirnya, kyai memberikan solusi, bahwa agar bangsa ini tenang kembali, musibah demi musibah berhenti, maka sebaiknya segera dilakukan taubah bersama. Kyai menyebutnya, perlu melakukan colling down, dan memohon pertolongan kepada Allah, berdoa secara bersama-sama. Bahwa semua saja sebenarnya dianggap telah melakukan kesalahan, dosa, dan kerusakan, sehingga cara yang tepat adalah harus saling menjalin silaturrahmi lagi dan saling memaafkan. Kesalahan, dosa, dan kerusakan itu, kata kyai, telah dilakukan bersama-sama. Maka, tidak semestinya di antara mereka saling menganiaya. Doa orang-orang teraniaya akan dikabulkan oleh Allah swt. Demikian Inilah hasil analisa dan usulan penyelesaian terhadap persoalan bangsa yang datang dari orang yang selalu berdzikir dan menggunakan mata hati. Apakah analisa tersebut betul, maka jawabnya, juga tidak ada yang tahu. Akan tetapi, kyai telah mencoba untuk memberikan penjelasan, yaitu mengkaitan antara kemarahan massal, berbuat aniaya, dan musibah yang terjadi. Setidaknya, bagi kita semua, hal itu bisa dijadikan bahan renungan, agar semuanya tidak berbuat aniaya kepada siapapun. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
